menulis kata-kata yang bisa dicitrakan dengan kamera dan diimajinasikan lewat gambar

Rina Sayang Bang Yadi

Posted: August 7th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .cerpen, .think |

Rina sayang Bang Yadi

Kalimat itu tertulis dengan spidol warna hitam di salah satu sofa rumah Rico. Sofa bewarna kuning itu merapat dengan dinding dan tepat diatasnya ada foto seseorang, almarhumah Bang Yadi. Mereka bertiga bersaudara, Yadi dua tahun lebih tua daripada Rico dan Rina yang duduk di kelas lima SD ketika Rico skripsi. Wajah Yadi terlihat gagah di foto itu, badannya proposional semakin memperlihatkan keunggulan fisiknya. Tidak hanya itu, dia sangat santun dan penyayang keluarga apalagi dengan adiknya yang berbeda hampir sepuluh tahun , Rina. Setiap akhir pekan, Yadi pasti berbagi tawa dengan Rina di kamar penuh warna merah muda dan berbagai macam boneka.

Bagi Rina dan juga Rico, Yadi adalah sosok kakak yang sempurna walau apapun kekurangannya. Sepertinya juga untuk kedua orang tua mereka. Seperti itu terus selama hampir dua puluh tahun dari Rico lahir sampai Yadi mesti bertugas sedikit ke pelosok negeri sebagai seorang pegawai negeri. Cuma dua hari, sabtu dan minggu bahkan terkadang hanya hari minggu saja Yadi berbagi bersama keluarganya. Itu sepertinya cukup untuk sosok kecil Rina dan bahkan menanti minggu berikutnya ketika Yaris biru Yadi perlahan meninggalkan rumah di Minggu malam.

Rico pun masih ingat jelas di kamar merah muda Rina ketika Yadi masih ada. Walaupun masih memakai kemeja lengan panjang dan kaos kaki juga belum dilepas, Yani seakan menghapus penat berjalan jauh ketika adik kecilnya memamerkan Boneka Teddy Bear barunya.

“Lucu ya Bang,tapi boneka Rina belum punya nama nih.”

“Hmm, apa yah…Kalau Ronaldo gimana?”

“Ih bang yadiii, ini kan bukan pemain bola. Gak mauu.”

“Taufik Hidayat?”

“Nggaa mauuu. Yang lucuu namanya.”

“Kily?” Ucap Yadi sambil tersenyum. Kily dari Kily Gonzalez, mantan sayap kiri Valencia. Seribu nama pemain bola mungkin lebih mudah daripada satu nama boneka saja. Lalu mengapa tidak memikirkan nama boneka dicari dari nama pemain bola? Begitu pikir Yadi untuk adikknya tersayang.

“Okee..Kili-kili. Namanya lucu, tuh kan bisa nemunya.”

Rico hanya terdiam melihat Abang dan Adiknya, satu sisi dia salut dan disisi lainnya dia ingin terus belajar untuk menjadi Yadi lain bagi Rina. Setelah mengantar Rina tertidur, sekarang giliran Yadi dan Rico juga kedua orang tuanya. Mereka mengobrol sampai puas hingga larut malam, apapun diobrolin bahkan sampai tak jarang tertawa bersama.

“Sekarang semua terasa berbeda, apalagi ketika hari-hari pertama Bang Yadi pergi. Aku merasa rumah ini sepi.” Rico tiba-tiba berucap seperti itu ketika temannya, Dio, melihat tulisan spidol hitam itu.

“Sekarang Rina bagaimana?”

Pertanyaan itu tidak dijawab, Rico malah bercerita.

Ketika itu Kili-kili hilang, entah mengapa bisa hilang. Aku juga tidak mengerti. Boneka teddy bear coklat itu sangat disayangi Rina, bahkan ketika gosok gigi di kamar mandi ada Kilinya Rina. Ketika makan, Kili pun ikut makan bahkan ketika diajak shalat, Rina pun ikut mengajak beruangnya. Hari-hari dilewati Rina dengan cemberut, banyak usaha sudah dilakukan termasuk membelikan boneka baru. Semua sia-sia karena Kili-kili hanya satu untuk Rina.

“Sialnya Dio, aku tidak bisa menemukan boneka yang sama.” Celetuk Rico.

Cemberut dan sedih, begitulah Rina dalam dua-tiga hari. Harapan untuk mengembalikan keceriaan itu hanyalah Yadi, mungkin cuma Yadinya Rina saja yang mungkin dapat menghilangkan muka cemberut Rina. Cemberut tapi tetap lucu untuk aku. Bang Yadi pulang dan tidak kaget melihat Rina cemberut menyambutnya saat itu.

“Rina kenapa?”

“Kili-kili bang.” Rina mulai terisak.

“Kenapa dengan kili-kili kita?”

“Ilaangggg. Gak ada lagii.”

Aku,mama juga papaku terdiam saja melihatnya, takut Yadi pun tidak bisa membawa keceriaan kembali. Aku tidak mendengar apa yang diucapkan bang Yadi seterusnya, bagiku semua seperti menonton film yang tidak ada suara pemerannya. Aku hanya melihat gerak tubuh dan air muka bang Yadi dengan sabar bercerita dengan Rina. Raut muka tulus itu mungkin seakan membuat teliga ini tuli. Apalagi muka Rina lambat laun berubah dan ada senyum kembali.

“Rina udah makan?” suara Bang Yadi seakan muncul kembali.

“Belum Bang.”

“Makan dulu ya, Abang lapar juga nih.” Rina hanya mengangguk.

Makan malam keluarga kali ini, akhirnya aku tidak melihat perubahan kembali. Rina kembali ceria walau beruang coklat itu entah kemana perginya. Selama ini aku melihat perubahan yang tidak menyenangkan, Rina cemberut dan orang tuaku pun pusing melihatnya.

Aku pikir kepergian Yadi akan membawa kesedihan mendalam untuk Rina. Apalagi ketika membaca cerpen kotak pos di salah satu surat kabar. Kotak pos becerita tentang seorang anak kecil yang selalu berharap ibunya kembali mengimkan kartu pos, namun sudah lama kotak itu kosong. Kotak itu akan terus kosong karena sang ibu telah tiada. Pernah sang ayah mencoba menulis dan menipu buah hatinya. Tetapi anak itu malah marah karena tulisannya berbeda, bukan tulisan ibunya. Tidak mungkin rasanya bagi keluarga di novel itu menceritakan kematian kepada seorang anak kecil.

Begitu juga pikirku ketika melangkah meninggalkan kuburan Bang Yadi.

Akhir pekan tanpa Bang Yadi pun akhirnya ada. Minggu pagi, Rina bertanya kepada semua isi rumah. Dimana sekarang Bang Yadi? Kita semua kompak tanpa kesepakatan membuat tipuan-tipuan agar bang Yadi seakan masih ada di dunia. Begitu seterusnya sampai alasan itu habis. Ketika kembali Rina bertanya, kita semua terdiam. Hari itu tidak ada alasan lagi, semua habis karena Rina semakin pintar dan detail bertanya.

“Bang Yadi sebenarnya tidak akan pulang lagi ya? Pertanyaan Rina yang semakin membuat Aku dan orangtuaku terdiam.

Rina berlari ke lantai atas, lantai dimana satu-satunya foto Bang Yadi ada. Aku lalu menyusul keatas begitu juga Mama dan Papaku. Melihat Rina memandangi foto Bang Yadi dari belakang membuat kami seakan ingin memeluk tubuh kecil itu untuk menghiburnya dan menjawab dengan sederhana. Jawaban sederhana tentang kematian.

Rina memanjat sofa kuning untuk mencium foto abangnya lalu dikeluarkan spidol hitam untuk menulis sesuatu di sofa. Aku mendekat dan memutar tubuh Rina, berpikir untuk mengusap matanya. Tetapi air mata tidak keluar, tidak seperti ketika Kili-kili hilang. Malahan Rinalah yang tersenyum pada kita lalu cemberut kembali.

“Lapar Bang Rico, makan.”

Mama dan Papa mengiringi langkah Rina menuju ke bawah lalu ke meja makan. Aku melihat sekilas tulisan Rina di sofa kuning. Tulisannya sangat halus dan jelas untuk ukuran orang yang seharusnya bersedih. Entah Rina mengerti atau tidak tentang kematian, tetapi dia seakan menerima Bang Yadi tidak kembali lagi.

Rico tersenyum kepada temannya setelah cerita itu selesai. “Lama kali kau jawab pertanyaan aku Co?” Rico hanya tertawa mendengar pertanyaanku. Dari bawah terdengar suara Rina. Aku pun bermaksud pamit sekalian ke bawah.

“Rina sayang.” Rico mencium kening adiknya.

“Bang Rico, Rina baru beli boneka.

“Wah bonekanya bagus ya.”

“Tapi tidak ada namanya.”

“Bubble saja gimana?” Rico dengan cepat mencari sebuah nama. Aku yakin itu Bubble dari Micheal Bubble. Rico sangat suka musik dan dia juga beranggapan membeli bajakan itu tidak menghargai karya seni.

“Iyaaa..namanya lucuu..Kata mbaknya, boneka ini tinggal satu.”

Aku tersenyum, begitu juga Rico dan juga Mamanya Rina yang kebetulan juga ada di dekat pintu keluar. Setelah pamit dan dalam perjalanan, aku masih tersenyum.

***

Sasana Budaya Ganesha Bandung begitu ramai ketika wisudaan sebuah Institut di kota Bandung, begitu juga dengan wisuda ketika status mahasiswaku ‘dicabut’. Selesai acara wisuda, aku menulis sesuatu diatas toga dengan spidol perak.

Dio sayang Mama.

Senyum masih tidak hilang sejak beberapa hari yang lalu ketika aku mendengar cerita dari Rico. Seperti anak kecil atau siapapun juga, aku berimajinasi mamaku bisa membaca tulisan itu. Walaupun entah darimanapun.

Tweet this!Tweet this!

6 Comments on “Rina Sayang Bang Yadi”

  1. 1 nerive said at 9:58 am on August 8th, 2009:

    Greatttttt!!!

  2. 2 Arfah said at 2:32 am on August 18th, 2009:

    Saya jadi ingat Pippi Langstrump, tokoh cerita anak Swedia rekaan Astrid Lindgren. Ibu Pippi meninggal saat ia masih berumur bulanan. Tapi bagi Pippi, ibunya masih ada. “Dia sedang di atas, mengawasi saya dari lubang awan: apakah saya melakukan hal yang benar hari ini,” katanya.

    Konsep kematian dalam otak imajinatif anak menjadi bahasan kompleks. Kematian dapat dimaknakan sebagai sesuatu yang wajar, memuakkan, menyedihkan bahkan menarik, tergantung kondisi lingkungan, struktur sosial, dan psikologi anak. Pippi melihat kematian ibunya begitu kontradiktif dengan apa-apa yang disepakati oleh orang dewasa. Baginya, anak adalah individu. Bebas menentukan apa yang dia mau pikir dan lakukan, tanpa ada penetrasi dari orang dewasa.

    Berbeda dengan apa yang dialami oleh Peter dalam film “Finding Neverland” yang naskahnya berasal dari novel Edgar Allan Poe. Film ini bercerita tentang proses kreatif James M. Barrie dalam membuat naskah drama “Peter Pan” yang dipentaskan di London pada 1904. Peter melihat kematian ayahnya dengan begitu serius hingga menjadikannya sebagai sosok yang terlampau sinis bagi anak yang masih berusia sekitar 10 tahun. “Dia bilang dia akan mengajak saya memancing, dan seminggu kemudian dia mati tanpa pernah merangkul tangan saya menuju sungai. Saya benci orang dewasa. Kalian pembohong!” teriaknya pada James. Peter tahu ibunya berpura-pura sehat, dan ia yakin ibunya tak lama lagi akan seperti ayahnya: mati. Baginya, harapan-harapan bersama tak ada. Bahkan dalam bayangan. Imajinasi bagi Peter telah lama mati bersama kepergian ayahnya.

    Konsep kematian yang dialami Rina dalam cerita di atas mungkin sama dengan konsep kematian yang ada dalam otak anak kebanyakan. Tidak seimajinatif Pippi atau sesinis Peter. Yadi, kakaknya yang meninggal, diwakili oleh sosok boneka. Yadi pergi seiring dengan hilangnya Kili-kili. Dia lalu mencerna keadaan hingga ia paham bahwa Yadi atau Kili-kili tak akan kembali. Penegasan baginya ialah dengan menulis “Rina Sayang Bang Yadi” di sofa kuning, tepat di bawah foto kakaknya. Setelah itu, selesai. Rina beli boneka baru, dan Rico, kakaknya yang lain, membantunya memberi nama bagi bonekanya, yakni Bubble. Selanjutnya jadi bisa ditebak: Rico diwakili oleh sosok Bubble. Anak memang tak pernah mau pusing. Dia bermain dengan otaknya sendiri. Dia mengingat seseorang dengan melihat sesuatu yang dekat dengan orang tersebut. Seperti saya sewaktu kecil, melihat sampul majalah Bobo seperti melihat sosok Ibu yang pulang dari Makassar membawa Bobo sehari lebih cepat dari hari penjualannya di Parepare.

    Menarik, Gio.

  3. 3 giovaniharyadi said at 2:11 pm on August 18th, 2009:

    hmmm gw tidak berpikir begitu pada awalnya fah..tetapi si Dio belajar ikhlas dari Rina..just it..tapi setiap orang punya persepsi masing-masing
    thx fah :D

  4. 4 batari said at 9:09 am on August 21st, 2009:

    lebih seru komen di sini daripada di facebook hehe. sedih ceritanya gio..

  5. 5 Ray Rizaldy said at 11:19 pm on August 24th, 2009:

    wah panjang euy dari arfah. di pare2 ga jual bobo ya fah? *ngerusak suasana

    btw, keren io, di tulisan ini dikau jadi dio ya?

  6. 6 giovaniharyadi said at 10:59 am on September 7th, 2009:

    @batari : hehe,komentar dimana aja gk masalah bat..thx udah baca nih…hmmm,bisa sedih bisa ngga
    @ray : iya panjang…hmmm entahlah Ray,bisa iya n bisa ngga..hehe..thx udah baca…


Leave a Reply