Kabut, Desibel dan Visi Hidup
Posted: July 6th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .Engineering, .life |Kerja praktik di Jakarta yang lumayan ada kerjaannya selama sebulan selesai. Gue pulang ke Pekanbaru untuk liburan sekaligus santai dulu sebelum semester 7 dimulai. Liburan itu diperlukan, pengalaman menunjukan begitu. Tahun lalu setelah semester 4 berakhir, gue ikutan semester pendek selama dua bulan kurang lalu berlanjut ke semester 5 tanpa liburan. Hasilnya, nilai tinggi tapi diiringi tingkat kejenuhan yang tinggi.
Minggu pagi di Bandara Soekarno Hatta, suasana ramai dengan berbagai macam manusia. Ada bapak separuh baya dengan rambut ala Don king sambil ngomong bisnis di telepon dengan suara tinggi. Kemudian para ibu berkaca mata hitam dengan kipasnya sambil cemberut terlihat tidak nyaman dengan udara. Mahasiswa atau mahasiswi, orang lain yang berkeliaran dan masih banyak lagi. Semua tidak ada yang nyaman dengan kondisi sekitar, panas dan bising. Walaupun hanya asumsi, tapi sepertinya tidak ada yang setuju kalau di luar Soekarno Hatta tersebut nyaman untuk duduk sesaat.
Gue masuk ke kamar mandi, bersih tetapi pengap. Selesai buang air, cuci tangan dan tiba-tiba merasa dingin ketika mengeringkan tangan di mesin pengering. Kaget juga melihat AC Split terpasang diatas mesin pengering tangan. Untuk pertama kali gue melihat penataan udara seperti itu, sepertinya tidak efektif karena ketika buang air tidak merasakan perubahan temperatur sedikitpun. Mulai berpikir untuk apa desain tata udara seperti itu.
Akhirnya sampai juga di pesawat Sriwijaya Air setelah satu jam delay. Sempat marah dengan pramugara gara-gara tas kamera gue harus masuk bagasi atas, gue akhirnya duduk tenang di kursi sebelah pintu darurat. Tiba-tiba, seorang pramugari datang dan menjelaskan bahwa kami bertiga, gue, abang gue dan seorang laki-laki metroseksual di kursi aisle mendapat kepercayaan untuk membuka pintu darurat dikala darurat. “Pintu darurat hanya boleh dibuka ketika sudah ada tanda, evakuasi..evakuasi..Dan tolong mas hanya memasang headset satu saja ya (dia mengacu kepada abang gue yang awalnya memakai earphone applenya).” Begitu kira-kira penjelasan akhir si pramugari bertopeng kosmetik. Hanya memakai satu earphone saja? Yah mungkin dua earphone yang menutup kedua teliga akan menghambat penyampaian informasi tanda bahaya. Cukup logis karena memakai earphone apalagi dengan Apple Nano akan membuat pemakainya seperti orang autis yang tidak mengolah informasi suara dari luar. Suaranya mengalahkan suara luar seperti tanda bahaya dan itu yang ditakutkan perancang prosedur keselamatan pesawat yang lalu diwakili oleh awak kapal.
Seharusnya waktu tempuh satu jam setengah sudah cukup untuk sampai ke bandara Sultan Syarief Kasim 2 di Pekanbaru. “Pesawatnya kok lambat ya.” Komentar abang gue. Walaupun sedikit terganggu dengan pikiran bahwa gerak itu relatif sehingga manusia tidak bisa merasakan perubahan gerak atau kecepatan dengan sensitivitas yang tinggi, gue setuju sama abang gue. Pesawat memang seperti berhenti dan ketika melihat jam tangan, seharusnya kita sudah mendarat. Ternyata memang benar, ada terjadi sesuatu. Pramugara yang melarang gue memanggu EOS CANON 450 D tadi mengumumkan bahwa bandara di Pekanbaru tertutup asap sehingga tujuan dialihkan ke Polonia medan.
“Silahkan menunggu di Waiting Room,tolong jangan jauh-jauh dari pintu keluar karena jika dipanggil tidak ada akan ditinggal.” Petugas Transit Polonia menjelaskan kepada gue dan abang gue. Awalnya gue menggrutu karena penjelasan itu sedikit melecehkan, masa mau ke danau toba dulu sehingga tidak terdengar panggilan untuk naik pesawat. Lalu sepertinya waiting room lebih mudah dimengerti daripada ‘ruang tunggu’.
Ruangan yang disebut waiting room itu berbentuk persegi panjang yang sederhana dan sangat ramai. Ketika duduk di salah satu bagian kursi dekat pendingin ruangan, gue kembali merasa tidak nyaman di bandara yang berbeda. Ruangan itu terlalu bising dan panggilan dari operator untuk naik pesawat pun tidak terdengar jelas. Abang gue berkomentar, tidak kedengaran. Gue menjelaskan dengan spontan bahwa ini terjadi kesalahan sistem tata suaranya. Seharusnya speaker dari mikrofon mengeluarkan suara yang lebih keras daripada bising di ruangan.
“Mas ke jakarta juga?” tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya memulai pembicaraan dengan gue.
“Oh tidak Pak, saya dari Jakarta mau ke Pekanbaru. Tetapi karena asap, tidak bisa ke pekanbaru , jadi ke sini dulu.”
Pembicaraan terus mengalir, bapak itu ternyata berprofesi sebagai HRD Bank Mandiri yang salah satu tugasnya mencari sumber daya ke kampus-kampus, kali ini ke USU. Beliau bercerita bahwa mahasiswa sekarang tidak mempunyai visi, mereka hidup terlalu banyak dengan membaca buku. “Dari seribuan peserta yang saya seleksi di UGM, hanya sepuluhan saja yang lulus. Kebanyakan mereka tidak punya visi, ilmu pengetahuan yang cukup dan TOEFLnya hanya preparation saja. Gue sontak tersentak, tidak hanya UGM saja begitu, ITB dan UI pun punya masalah yang sama dan gue juga mungkin termasuk mahasiswa yang punya visi, mungkin punya tapi belum kuat. Rektor Paramadina pun pernah menjelaskan kepada mahasiswanya, IPK tiga itu wajib tetapi belum cukup. Kalian harus mempunyai visi untuk diterima di perusahaan.
Lalu jika menjadi pengusaha? Pak Heri yang merupakan pengusaha pemilik perusahaan tempat gue kerja praktikpun mengungkapkan hal senada. “Mahasiswa sekarang harus punya visi, tetapi kebanyakan mereka tidak punya itu. Apa yang salah ya? Sistem pendidikan mungkin.”
Tweet this!
Gak usah pusing ama visi-misi.
Seperti kata Olga, “Ribet amat hidup lu!”
Hidup Olga!
In truth, immediately i didn’t understand the essence. But after re-reading all at once became clear.