menulis kata-kata yang bisa dicitrakan dengan kamera dan diimajinasikan lewat gambar

Ingin Presiden yang Merakyat

Posted: May 16th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .think |

Jum’at malam, tepatnya 15 April 2009 ada SBY di Sabuga. Beliau mendeklarasikan SBY dan Boediono sebagai pasangan Capres dan Cawapres. Bukan hal yang menarik buat gue, awalnya begitu.

Gara-gara deklarasi itu, Bandung sedikit berubah terutama kawasan Dago. Ketika melewati persimpangan Tubagus, gue kanget dengan “bersihnya” jalan dago, tidak ada pedangang yang biasa memenuhi ruas kiri dan kanan jalan, juga tidak ada kendaraan atau malahan hampir tidak ada orang menjelang perempatan Mc Donald. Gue langsung membayangkan perputaran uang yang hilang malam itu di kalangan wong cilik. Anggap saja satu kios makanan itu dengan omset seratus ribu per malam, dan beranggapan lagi ada sekitar lima puluh kios di kiri dan kanan maka ada yang hilang sejumlah lima juta rupiah. Mungkin lebih atau kurang, tapi untuk beberapa orang disana, satu malam itu bisa jadi berarti banyak dan lima juta rupiah bukan uang yang banyak bagi SBY untuk memberikan santunan.

Terkesan berlebihan, tapi setiap presiden datang, semua dibersihkan. Pedagang, rumah reot dan lainnya. Jangankan presiden, gubernur saja begitu. Peduli amat alasan keamanan jika hanya sekedar dibersihkan begitu saja.

Melewati Mc Donalds, gue lalu melihat sekelompok massa yang dominan pemuda melakukan demonstrasi. Tepatnya ketika itu sedang berada di depan hotel Royal Dago. Berhenti sebentar karena hal ini terasa asing bagi gue. Apalagi ada teriakan-teriakan tidak jelas yang terkesan anarkis dan begitu banyak polisi. Barangkali, ketika suatu pemimpin atau bisa dikhususkan ke presiden datang ke suatu tempat, ada demonstrasi. Entah itu dibayar atau tidak, hal itu berarti ada pihak yang tidak puas dengan kinerja presiden. Gue membayangkan, suatu saat nanti, jika seorang presiden datang ke suatu daerah, beliau tidak disambut seperti biasa dengan keramahan kelas atas pemerintah setempat atau demonstrasi yang terkesan anarkis. Tetapi sang presiden disambut banyak simpatisan yang salut dengan kinerjanya dan pastinya tanpa dibayar atau tanpa skenario. Itulah yang mungkin bisa jadi salah satu  parameter kesuksesan merakyatnya si presiden, walaupun gue benci kata-kata “parameter” dan sebenarnya tidak terlalu peduli dengan artinya.

Gue melanjutkan perjalanan melewati Circle K di sebelah jalan dayang sumbi, seluruh mobil diharuskan belok kiri ke jalan dayang sumbi dan tidak boleh lurus ke arah Mc D. Macet pastinya dan tidak semua orang disana atau mungkin semuanya tidak menerimanya. Kembali karena seorang SBY yang menyebabkan macet panjang di jalanan. Kalau ada seorang cowok depresi karena diputusin kekasih hati gara-gara telat bagaimana? Atau seorang Ibu yang akan melahirkan tetapi terhambat dengan kemacetan itu bagaimana? Bagaimana dengan seseorang yang sekarat gara-gara kaderisasi dan mobilnya terhambat karena kemacetan?

Bisa jadi sih ambil jalan lain, tapi intinya yang gue pikirkan adalah bisa ngga kemacetan itu tidak terjadi hanya karena seorang presiden datang?

Melewati jalanan, berhenti di setiap lampu merah ada banyak anak kecil ngamen atau sepertinya menjual batu asah. Ada orang buta, polio, cacat dan sebagainya yang menjadi pengemis. Ibu-ibu gemuk yang mengawasi anak-anak tadi ngamen. Bahkan ada yang baru berumur sekitar 3 tahun, tidak sampai 5 tahun. Ingat potongan lagu iwan fals, walau mungkin salah,

Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu..dipaksa pecahkan karang, lemah jarinya terkepar.

Seandainya sistem pendidikan lebih baik dan lebih merata, pastinya anak-anak pemecah karang ini bisa berkurang jumlahnya. Seandainya dana pendidikan tidak dikorupsi, pastinya sistem pendidikan lebih baik dan lebih merata. Seandainya para pemimpin kita jujur, berintegritas (kata apa ini ya), dan komitmen dengan pendidikan, pastnya dana pendidikan tidak dikorupsi. Yah itu hanya berandai-andai

Seandainya Presiden kita merakyat dan jujur. Mungkin SBY sudah, tetapi beliau saja tidak cukup. Jadi lebih tepatnya Seandainya para pemimpin kita banyak yang merakyat dan jujur.. Yah, seandainya begitu untuk Indonesia yang lebih baik.

Tweet this!Tweet this!

One Comment on “Ingin Presiden yang Merakyat”

  1. 1 Ray Rizaldy said at 3:44 pm on May 16th, 2009:

    apatis saja ah. :D
    btw, desain logonya keren gio.


Leave a Reply