Suster Rumah Sakit dan Setan yang Hilang
Posted: May 10th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life |Tepat hari Senin di minggu itu, Gue cek darah dan trombosit menembus angka 64.000. Angka cukup memprihatinkan mengingat batas normalnya seratus ribu dan jika rendah bawaan jadi lemas dan jika semakin rendah lagi, mendekati kritis. Darah dapat keluar dari mana-mana, kira-kira seperti itu yang Gue tangkep dalam keadaan lemas, makanya dapat disebut demam berdarah. Jika mundur sehari sebelumnya, tepat hari minggu, Gue seharian di kampus ditambah malam harinya pesta ulang tahun unit jurnalistik yang gue ikutin, Boulevard.
Dengan trombosit kira-kira kurang dari seratus ribu, pernah seharian beraktivitas di kampus dan itu hari minggu. Rasanya seperti orang gendut disuruh keliling lapangan bola lalu disuruh ngerjain tugas kampus berjam-jam setelahnya. Kalau kata temen Gue, muka Gue waktu itu seperti orang yang ketabrak truk. Pendeknya, lemes abis. Itu terjadi hingga malam hari dan wajar ketika seninnya, trombosit Gue serendah itu.
Sialnya setelah tes darah dengan angka enam puluh empat ribu itu, rumah sakit penuh dan gue harus pindah ke rumah sakit lain. Malam hari dan harus malam itu karena Gue harus dirawat jika tidak ingin berdarah beneran ketika demam.
Gue terkapar di ruang UGD, lebih tepatnya disuruh terkapar disana. Dokter masuk dan memeriksa, dia sudah tua jadi ucapannya tidak menarik. Lalu masuklah dua orang suster, muda dan cantik, membawa infus lalu menusukannya ke tangan Gue.
It was the first time to me. Diinfus, sakit.
Walaupun yang menyuntik dan memasangnya duo suster yang cantik. Untung tidak dibalik antara dokter dan suster. Masa udah tua, yah udah jelek terus masang infus lagi, disakiti sama orang seperti itu tentunya lebih sakit dari pada sama suster cantik. Manusiawi!. Sambil melakukan tahap finishing alias memasang plester, salah satu suster mengajak Gue ngobrol,”Mas, kok ngga sakit sih?”
“Hah?” Spontan saja ekspresi Gue begitu. Kaget
“Abisnya diem aja, ngga teriak gitu misalkan.”
Badan lemas dan ini diajak becanda atau gimana, untung dia cantik, “Sakit lah sus, tapi malem-malem gini teriak sih?”
Dia senyum lagi, sial.
Tidak lama, gue terkapar di tempat tidur dengan infus menempel di tangan kiri dan seragam rumah sakit di sekujur tubuh. Tidak ada pilihan lain selain tidur. Tetapi bukan pilihan yang enak juga malam-malam dibangunin oleh tiga suster.
“Mas disuntik yah.”
Gue sambil mengantuk, mengangguk saja.
“Kalau mau teriak, teriak aja ya.” Suster di kiri Gue, deket infus berbicara seperti itu.
“Hah?” Lagi-lagi suster rumah sakit ini membuat Gue kaget. “Kok dibilang kek gitu? Disuntik saja kenapa sus?”
“Abisnya memang sakit mas. Jadi biar siap saja sebelumnya.” Kata suster yang memegang jarum suntik.
“Pernah digigit semut kan mas? Rasanya lebih dari itu.” Suster yang lain menambahkan dan Gue tidak mengerti, entah membesarkan hati atau tidak.
Jujur aja Gue menjadi takut dan berusaha mencari alasan untuk sekedar menunda. “Ya udah saya kencing dulu sus, daripada pas di suntik keluar?”
Tirai ditutup dan akhirnya Gue terpaksa kencing dengan pispot. Tidak lama tirai dibuka, “Nah sekarang tidak ada alasan lagi kan?”
Gue menyerah.
Tangan kanan Gue yang akan disuntik dipengang oleh satu suster, begitu juga dengan tangan kiri. Akhirnya Gue mengerti mengapa tiga orang yang datang untuk sekedar menyuntik saja. Tangan Gue dioles, “Mas tangannya kok basah sih?” Kata salah satu suster yang memengang.
Gue diem saja. Tutup mata biar sakitnya bisa terasa berkurang.
“Mas kok diem sih? Sengaja diajak ngobrol biar tidak sakit.”
Dalam hati, “Sumpah, diotak Gue rasanya makin sakit sus. Gimana sih?”
“Arrghhhhh.” Tengah malam dan Gue teriak. Di suster ngga bilang-bilang mau nyuntik dan ternyata benar-benar sakit. Jauh dari infus apalagi Cuma sekedar suntik untuk ambil darah.
“Tuh kan bentar doang.”
Gue ngga mengubris, diem dan tidur aja ketika trio suster itu pergi.
Tiga hari Gue menghabiskan waktu dengan pispot, tempat tidur dan jus jambu beserta pokari sweet yang tidak habis-habis. Kalau di rumah sakit, setan sepertinya malas menghampiri, Gue merasa sehat itu karunia yang indah. Juga bertekad akan memanfaatkan waktu dengan baik jika sudah bisa loncat kesana kemari. Tidak dengan infus yang melekat atau suster yang tiap pagi menyuntik Gue serta memberi obat yang pahit.
Yah, kalau sedang sakit aja setan entah kemana. Pikiran positif, inget Tuhan terus dan bertekad yang baik-baik setelah sembuh.
Akhirnya di penghujung hari ketiga, infus Gue dicabut dan diberi wejengan terakhir oleh dokter. Gue rasanya tidak sabar untuk melihat, apakah setan muncul lagi seperti biasa atau tidak.
Sayangnya makhluk yang biasa diberi warna merah itu muncul lagi, seperti biasa. Semoga tidak perlu sakit lagi untuk mengingatkan Gue, seberapa tidak berdayanya manusia dan sifat angkuh yang begitu besar.
Tweet this!
dulu aQ pun juga takut sama suntik. Tak pernah berani huahaha.
Tapi kalo sekarang, suntik disyukuri saja. Kalo (masih bisa merasakan) sakit, artinya kita masih hidup kan?