Ada BH di Demo
Posted: February 24th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life, .think |Skandal Bank Century, Resuffle kabinet, atau kasus pembunuhan dengan tersangka Antasari.
Itu berita di televisi malam itu disamping ditariknya banyak mobil toyota dimana-mana. Salah satunya karena pedal gas lengket kemudian berhubungan dengan istilah clash action yaitu ganti rugi gara-gara kerusakan itu.
Berita yang sepertinya hebat tetapi entah kenapa rasanya biasa, membosankan karena orang-orang yang terlibat tidak dekat dengan masyarakat, atau setidaknya diri gue sendiri. Siapa gue dibandingkan Pak SBY, Sri Mulyani atau Jaksa Luiz di Amerika Serikat. yang mengajukan tuntutan yang sepertinya beristilah clash action.
Tetapi berbeda dengan mahasiswa di beberapa daerah seperti Sumatra Selatan atau Jakarta. Gue dan mereka sesama mahasiswa. Mereka berdemo, gue tidak.
Ada yang saling dorong dengan polisi. Sepertinya itu biasa kali ya?
Ada yang bakar-bakar kertas apa itu, sepertinya kertas pemilu kalau di televisi. Yah kembali biasa, paling sebelumnya bakar ban, kertas lebih hemat sepertinya dari ban.
Ada yang membawa hewan, kambing dengan topeng pejabat. Agak kreatif daripada bakar-bakar karena lebih merepotkan mencari dan membawa kambing daripada ban mobil.
Ada yang membawa pakaian dalam wanita, lebih spesifiknya BH atau kutang atau apa itu namanya. DI negara ini, kalau menyebut hal-hal seperti itu harus minta maaf dulu, gue ngga ngerti kenapa dan karena ngga ngerti jadi ngga minta maaf dulu. Wah ini bener-bener baru dan membuat gue beralih total dari laptop ke televisi.
Mereka membawa pakaian dalam wanita itu dalam berdemo, katanya sebagai lambang karena pemerintah atau KPK lambat dan tidak jantan dalam menyelesaikan kasus skandal Century. Di televisi mereka semua pria, pertanyaan gue dua: dari mana dapat benda itu dan bagaimana kalau kebetulan yang terkait berkelamin wanita?
Yah pertanyaan selanjutnya lebih penting, apakah tidak ada bentuk penyampaian aspirasi yang lebih intelek? Setidaknya menulis artikel di koran nasional seperti zaman Soe Hok Gie atau membuat karya seni seperti lagu, puisi dan pantun sekalipun sepertinya lebih baik daripada membawa pakaian dalam wanita. Juga marah-marah dan dorong-dorong dan bakar-bakar.
Lagian gue pengen bertanya kepada para pejabat itu, demo seperti itu berpengaruh ngga sih? Kalau gue membayangkan jadi pejabat, keknya gue cuma ketawa-ketawa aja sama rekan sejawat.
Jangan-jangan mereka bener-bener cuek lagi. Percuma sepertinya para mahasiswa atau pendemo lainnya marah-marah dan dorong-dorong dan bakar-bakar. Tetapi setidaknya mereka melakukan sesuatu ya. Mereka berani. Itu kata beberapa orang yang mencoba berpikir positif amat.
Ah lebih baik diam daripada cari BH buat demo. Kata gue sih gitu.
Tweet this!
“Di negara ini, kalau menyebut hal-hal seperti itu harus minta maaf dulu, gue ngga ngerti kenapa dan karena ngga ngerti jadi ngga minta maaf dulu”
Tapi maaf mu ngga aku terima