Tindakan Kecil Oleh Dokter
Posted: April 11th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life | No Comments »Cotton Bud was so bad for me.
Kapas dari benda kecil yang berguna dan murah itu tertinggal di dalam telinga selesai korek kuping, seketika Gue teringat status facebook seorang teman yang sepertinya menulis semua tindakan dan kejadian, “ah nikmatnya setelah mengorek kuping”. Emang nikmat jika kotoran beserta kapasnya keluar dengan selamat. Jika tidak maka telinga menjadi aneh walaupun tidak sampai tuli. Setelah semua upaya gagal untuk mengeluarkan kapas laknat itu dan cewek Gue yang kebetulan kuliah kedokteran mengatakan dapat menyebabkan infeksi, maka Gue memutuskan untuk ke dokter THT.
Pukul setengah dua, Gue sampai di ruang tunggu dokter THT pada sebuah rumah sakit. Muncul harapan untuk tidak menunggu lama karena hanya ada sedikit orang disana. Ada seorang ibu-ibu gendut dengan anaknya yang berlari kesana-kemari. Pasangan suami istri, sekitar 50 tahunan dengan pakaian parlente. Sebenarnya Gue tidak tahu persis kata parlente itu, tetapi sepertinya itu menggambarkan orang dengan pakaian rapi klasik dengan rambut klimis. Kemudian dua pemuda yang kira-kira hanya berjarak beberapa tahun dan terakhir pasangan kakek nenek.
Lama-lama bosan juga walau baru 15 menitan. Anak kecil energik itu akhirnya bosan juga setelah berkeliling ruang tunggu dari awal Gue datang tadi. Dia akhirnya kembali menghampiri ibunya.
“Moom, it ‘s so long time, I’m bored.” Gue dengernya begini. Kaget.
Anak kecil itu berbahasa inggris di indonesia dengan tampang tidak ada bule-bulenya. Ibunya yang gendut dan berpakaian ala ABG yang jika turun dari angkot harus menarik bagian belakangnya itu menjawab dengan bahasa inggris juga, “be patient honey.”
Jadi ingat sumpah pemuda kali ini, menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia. Bodoh sekali rasanya memikirkan nasionalisme anak itu gara-gara dia pakai bahasa inggris sejak kecil. Setidaknya dia berpotensi tidak kesulitan menghadapi TOEFL atau yang kelihatannya lebih mengerikan lagi, IELTS.
Akhirnya anak kecil dan ibunya masuk ke ruang periksa lima belas menit kemudian, kira-kira segitulah waktunya. Waktu itu menggambarkan sesuatu yang sedikit membuat gelisah, memang hanya ada beberapa pasien tetapi dalam setengah jam yang mungkin lebih, baru ada satu pergantian pasien.
“Mas, pinjem korannya ya.” Tiba-tiba bapak dengan pakaian parlente itu menghampiri Gue dan permisi seperti itu. Sangat basa-basi sekali atau dia tidak tahu itu koran milik rumah sakit walaupun tepat berada di depan Gue. Hanya tersenyum saja kala itu, agak malas meladeni.
“Ini dek, saya mau mencari nomor travel, ada ngga ya.” Bapak itu malah duduk disebelah Gue dan meninggalkan istrinya. Sial, kali ini tidak bisa hanya tersenyum. Bisa-bisa dikira tuli apalagi ini ruang tunggu untuk dokter THT. “Coba dicari saja pak.” Sudah pendek begitu dia tetap saja mengajak berbicara.
“Kira-kira Xtrans ada tidak ya di DU (Dipati Ukur)?”
Menunggu membuat emosi Gue labil dan ini sudah hampir satu jam. Pengen rasanya menjawab begini, “Waduh sudah tutup Pak yang di DU, dia pindah ke Soekarno Hatta. Mending bapak kesana aja, eits tapi itu bukan bandara melainkan nama jalan.” Jahat dan garing. Untungnya setan tidak cukup kuat mengeluarkan kata-kata itu menggantikan kata-kata, “Tidak ada Pak, Xtrans adanya di cihampelas.”
Untung saja dia menemukan nomor itu dan kembali ke bangku dekat istrinya. Tidak lama, duet ibu-anak tadi digantikan oleh kakek-nenek. Jalan nenek itu begitu lambat dan membuat Gue makin miris lalu bertanya dalam hati, berapa lama lagi harus menunggu. Jawabannya adalah satu jam lagi, setengah empat akhirnya nama Gue dipanggil setelah menjadi orang satu-satunya di ruang tunggu itu.
“Silahkan duduk dulu mas.” Gue tersenyum karena susternya ramah.
“Betah juga ya nunggu mas.” Gue tetap tersenyum karena menahan diri untuk tidak emosi. Dalam hati, “Oh tentu saja betah, kan saya sebenarnya mau ketemu suster dan mengantar suster pulang.” Kembali garing dan tidak jelas. Basa-basi yang basi.
Basa-basi dokter setidaknya lebih baik dari susternya ketika Gue menghampiri meja kerjanya. Proses berjalan dengan cepat karena yang dikeluarkan sangat kecil. Mungkin anak kecil itu kemasukan kelereng sehingga prosesnya lebih lama.
Rasanya lega sewaktu telinga Gue tidak tersumbat kapas lagi. Berjalan menuju kassa dengan perasaan lebih enteng. Mbak di kassa pembayaran tidak terlalu berbasa-basi ketika menyerahkan kuitansi.
Rp 188.000
Terdiam sejenak. Berharap salah lihat.
Mahal.
Sial.
Gue perhatikan lebih teliti lagi kuitansi itu. Kali saja ada harga yang lain yang lebih murah. Tetapi Gue malah makin kesal dengan keterangannya, “Tindakan kecil oleh dokter.” Tindakan kecil yang hanya mengeluarkan kapas sudah semahal ini, apalagi tindakan besar seperti mengeluarkan kelereng misalkan.
Sempat berharap cewek Gue mengambil spesialis THT dan banyak melakukan tindakan kecil seperti ini.
Tweet this!