Posted: March 28th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .photography | 1 Comment »
First band, hoolywood no body, not clear at all to my hear and brain,


Next band, the white shoes, they really used white shoes! So, not just a name tonight. Then it was awesome when vocalist danced. Effective and attractive!


First foreign artist was Jens Lekman, I also liked to watch his dancing



And King of Convenience for the last performance tonight. They were awesome! The last song, homesick, with no lighting because earth hour was the most fantastic for me






Posted: March 19th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .think | 1 Comment »
Malam itu Gue mendapat gambar potongan kertas ujian seorang anak kelas satu SD dari teman Gue. Pertanyaan nomor dua membuat Gue merasa miris.

Posted: March 14th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life | 4 Comments »
Malem-malem gue laper dan sialnya berpikir tentang kata mahasiswa. Karena lapar dan dijadikan kambing hitam, gue tidak bisa mikir sehingga hanya mengingat beberapa cerita
HEMAT
Ada cerita dari teman Gue yang sulit dipercaya sebenarnya, ada temannya yang tidak pernah membeli air minum sekalipun. Bagaimana dia minum? Seperti mobil, dia punya pom bensin untuk air minum di rumah makan. Yap, dia minum sebanyaknya ketika dia makan karena air putih itu gratis.
Satu gallon air harganya katakanlah 14 rebu sekarang dan satu bulan mahasiswa normal menghabiskan dua galon, berarti dia sukses menghemat 28 ribu. Jika ditambah konsumsi tehbotol dan cocacola rata-rata, tentunya dia bisa diasumsiin lebih hemat lagi.
SEPEDA MOTOR
Setelah bertanding sepakbola terjadi ribut sampai tawuran, susah untuk dikatakan biasa tetapi hal yang tidak aneh di kalangan mahasiswa. Tetapi bagaimana sampai sepeda motor tercebur di kolam depan fakultas setelah pertandingan? Lebih tidak bisa lagi disebut biasa.
Kembali temannya dari teman Gue sebagai narasumber dari penceburan ini. Motor itu milik mahasiswa keturunan cina, suatu garis keturunan yang tidak selamanya membawa keberuntungan. Motornya diciduk dari tempat parkir, beberapa komponen dilepas dan diceburkan di kolam fakultas. Padahal dia hanya penonton, kalau temennya temen Gue bilang, suaranya paling gede alias nyolot ketika pertandingan.
Lalu mengapa beberapa komponen dilepas? “sayang, masih bisa dipakai atau dijual”.
MAKANAN
Alkisah zaman dahulu kala, awalnya seperti ini karena memang cerita dari orang tua gue, ada seorang mahasiswa yang amat pelit. Dia mempunyai niat membuat kotak kaca seperti kotak kerupuk di rumah makan padang lengkap dengan gemboknya. Kotak itu untuk menyimpan makanan atau sekedar nasi agar aman dari sergapan beberapa teman sekontrakan.
Suatu hari, teman-temannya sudah cukup kesal dengan tingkah jika dimasa sekarang akan diberi label ‘lebai’. Konsepnya sederhana, kotak dibalik sekali kemudian dikembalikan ke keadaan awal. Sontak nasi lengkap dengan lauk pauknya berceceran kemana-kemana tetapi dibatasi oleh kotak kaca bergembok itu.
Begitu mahasiswa yang amat pelit itu pulang pastinya dia akan mengekspresikan sesuatu. Apakah tinggahnya bisa berubah dari lebai menjadi alai? Gue penasaran tetapi orang tua gue hanya tertawa.
“Yang jelas dia marah tapi ngga tau mau marah sama siapa.” Begitu saja akhir cerita bokap gw.
TELEPON GENGGAM
Bayangkan mempunyai handphone dengan kartu pasca bayar.
Kemudian bayangkan kejadiannya seperti ini.
Seorang teman meminjam handphone itu kemudian berbincang seperti berikut dengan hanya sedikit kata, “Bos pinjem hape donk, penting nih.”
“Halo..apa kabar lu.”
(diem sambil senyum-senyum mendengar)
“Haha, gitu lu ya, sombong amat sekarang. Udah ngga pernah keliatan lagi.”
(kembali senyum menyebalkan kali ini ditambah ketawa sedikit dalam mendengarkannya.)
“Kalo gitu, sesekali kita ngumpul lagi lah kek dulu.”
(waktu jeda lagi)
“Iya, touring kek, main bola kek.”
Dan seterusnya hingga beberapa menit kemudian mengembalikan begitu saja tanpa bilang terima kasih.
Untungnya Gue ngga pernah mengalaminya, Cuma mendengarkan cerita ini dari korban.
Posted: March 11th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life | 2 Comments »
Lawrence Talbot sepertinya merasa asing dengan pendengarannya yang mendadak tajam. Tiba-tiba bisikan-bisikan yang sepertinya tidak biasa padahal mungkin kurang dari 25 desibel. Di ruang sidang kuliah akhir, Gue merasa seperti Lawrence dalam film Wolfman itu. Mendadak terdengar suara bisikan-bisikan yang terasa lebih keras dari sebelumnya. Walaupun tidak setajam di film karena tidak ada skenario buatan di ruang sidang itu, tetap rasanya sulit mencerna presentasi walaupun suara presenter lebih keras.
Terganggu? Yah sedikit karena Gue mencoba fokus. Fokus? Yah mungkin karena fokus kali ya. Syaraf gue bekerja lebih baik atau otak yang lebih baik menerimanya. Sama saja sepertinya, sama-sama analisa yang tanpa dasar. Ketika presenter yang sedang ditanya mengenai regresi linear membuat gue berpikir, terganggu dan kesal seperti kurfa linear ketika itu. Lebih banyak terganggu akan cenderung membuat orang lain kesal.
Namun ada juga saatnya kurfa linear itu berubah menjadi eksponensial dengan cenderung konstan pada titik tertentu. Teori yang tanpa dasar ini muncul ketika melihat dosen gue yang sedikit pun tidak terganggu dengan bisikan-bisikan itu walaupun sekali-dua kali melihat kebelakang. Sepertinya mereka sudah biasa karena bertahun-tahun menjadi penguji atau pembimbing dalam sidang akhir.
Temen gue protes dan mengutarakannya kepada Gue, bukan karena bisikan-bisikan tetapi dosen penguji yang terlihat membantai tanpa dasar. Gue merespon seadanya, dia kembali protes dan gue kembali merespon yang pada akhirnya membicarakan sampai perseteruan internal dosen.
Gue berbisik ketika mengobrol dan merasa ada yang aneh.