Posted: December 30th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .think | 1 Comment »
Pada awalnya gue hanya ingin belajar jurnalistik tetapi malahan menjadi wartawan.
Awalnya ketika semester ganjil dimulai, ketika anak baru akan masuk dan berkuliah. Teman-teman Mahasiswa berdemo, mereka mempertanyakan uang kuliah yang naik. Mereka mempertanyakan sistem ujian mandiri yang perlahan melahap porsi SPMB. Mereka berteriak serta membawa berbagai atribut karena uang. Begitu pikir gue ketika melihat dari kejauhan bersama teman gue si fotografer majalah kampus.
Setelah cukup reda dan mulai bubar, gue mencoba mencari orang untuk diwawancara. Satu per satu menolak. Alasan beragam mulai dari ada kuliah, sedang ada urusan dan lainnya. Ada juga yang menolak untuk diwawancara.
“Jangan gue deh, yang lain aja. “
Gue bersama fotografer tidak putus asa dan pada akhirnya mendapat nama-nama dibelakang layar. Nama-nama yang beberapa malah membuat gue kaget. Ada yang tidak pernah terdengar sebelumnya atau ada yang dari jurusan yang tidak begitu vokal dalam berapresiasi selama ini.
Jadilah gue berkeliling, mencari berbagai nama dan pastinya belajar jurnalistik untuk membuat berita.
Beberapa orang diantara nama-nama itu sangat sulit untuk dibuat janji wawancara. Ada yang beralasan, ada yang menolak dan ada juga malah menyangkal menjadi bagian dari demonstrasi. Akhirnya dengan sedikit campur tangan relasi dari pemimpin redaksi, gue mendapat wawancara dengan 2 orang.
Satu diantaranya berapi-api menentang rektorat, sedikit mencaci malahan. Dia beranggapan para petinggi kampus tidak tanggap dengan kondisi sosial di masyarakat. Ada kecendrungan korupsi serta mengutuk transparansi. Yang kedua sedikit tenang dan malah menekankan perlunya mahasiswa tanggap terhadap situasi terkini, itulah motivasi dia mendalangi demonstrasi.
Sedikit lebih mulia pada awalnya, tetapi tetap ada bagian mencaci rektorat.
Pemimpin redaksi gue mengatakan harus mewancara rektorat, bagian keuangan serta jika perlu masyarakat sekitar. Agar kebenaran setidaknya lebih akurat dan tulisan tidak memihak pihak manapun. Gue langsung membuat janji wawancara dengan orang-orang penting itu dan sangat mudah untuk menentukan tanggal serta tempat. Tidak seperti mahasiswa yang agak bertele-tele.
Pihak rektorat menyatakan kenaikan itu memang diperlukan untuk kelangsungan kampus. Wakil rektor yang gue wawancara juga mengatakan krisis ekonomi juga berpengaruh dan mau tak mau harus mencali celah untuk pendapatan baru. Ini semua juga untuk mahasiswa. Ketika ditanya masalah demo yang dilakukan, beliau hanya tersenyum dan mengatakan itu sebagai proses pembelajaran untuk mahasiswa.
Pihak rektorat juga menambahkan, kualitas kampus tidak menurun karena ujian mandiri. Malahan ujian mandiri lebih baik untuk menilai kemampuan calon mahasiswa dibanding SPMB. Kebijakan ujian mandiri dinilai demonstran menurunkan kualitas dan sekarang gue bingung darimana mereka berpendapat seperti itu.
Bagian keuangan lebih menjabarkan lagi mengapa kampus membutuhkan uang. Subsidi dari pemerintah tidak naik malah cenderung menurun ditengah harga yang terus dikatrol naik oleh kondisi ekonomi.
“Yah begitulah dek, kita harus banting tulang, putar otak untuk menyisiati situasi ini.” Begitu kira-kira akhir dari wawancara gue.
Capek berkeliling untuk wawancara, gue ketiduran di mesjid ketika menjelang shalat jum’at. Sebenarnya tidur merupakan rutinitas, tetapi kali ini sedikit lebih nyenyak dan untungnya tidak mendengkur. Ketika khutbah sedang berlangsung, tiba-tiba gue tersadar.
“Bapak-bapak sekalian, sekarang pendidikan hanya untuk orang kaya saja. Biaya masuk kuliah sekarang puluhan juta. Lebih baik kita terus mendekatkan diri kepada Allah.”
Walaupun hubungan antara biaya kuliah dan mendekatkan diri kepada Allah terkesat absurd, gue lebih menyoroti tanggapan ustad tentang biaya kuliah atau uang masuk kuliah. Masyarakat ternyata memandang permasalahan ini serupa dengan mahasiswa. Mereka keberatan dengan kenaikan dan protes.
Ternyata memang benar, dua orang yang gue wawancara juga senada dengan ustad shalat jum’at. Malahan salah satunya, pemilik rumah makan padang, menyoroti ujian masuk sebagai penurunan kualitas.
Pandangan berbeda kembali gue dapatkan ketika wawancara dengan salah satu alumni.
“Biaya pendidikan memang mahal, memang harus begitu. Di amerika dan jepang atau eropa, calon mahasiswa bekerja dulu sebelum kuliah. Hal ini jarang saya temui di Indonesia.” Gue merasa miris mendengarkannya. Entah mengapa sekarang malah cenderung pro terhadap rektorat, bukan mahasiswa atau masyarakat pada umumnya.
Semua wawancara rampung dan gue kebingungan. Setelah berkonsultasi dengan pemimpin redaksi, gue menulis apa adanya saja. Merangkai hasil-hasil wawancara serta data. Revisi beberapa kali dan akhirnya tulisan itu selesai.
Tulisan itu memiliki kesan kuat berpihak kepada rektorat. Terbukti beberapa mahasiswa banyak yang protes atau sekedar berkomentar miring, majalah kampus sudah dikendalikan oleh pihak ‘atas’. Malahan ada mahasiswa yang terang-terangan datang ke sekretariat kami dan ‘mengamuk’. Dia marah-marah dan dengan lantang mengatakan seharusnya kami membeberkan yang sebenarnya. Seharusnya kami tidak memihak rektorat dan seharusnya kami itu mahasiswa.
Pemimpin redaksi gue, kebetulan salah satu mahasiswa senior tingkat empat plus-plus, dengan tenang menanggapi dengan dingin, tajam tetapi tetap ramah. Gue sebagai penulis sempat disemprot tetapi dibela dengan baik oleh bukti-bukti wawancara.
Ada juga mahasiswa yang mendukung tulisan itu, dia memberi kredit lebih untuk kebenaran yang mungkin dapat menyadarkan mahasiswa. Hal itu membuat gue tersenyum dan menyadari bahwa membuat berita itu banyak manfaatnya. Walaupun sulit untuk mengungkap kebenaran dan tidak memihak kepada siapapun.
Yah, termasuk hidup yang layak seperti gue terima sekarang dari mengejar berita. Tidak hanya uang, batin gue cukup puas melihat respon tulisan-tulisan gue.
Posted: December 30th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .goodmorning, .life | 2 Comments »
Masa orientasi di kampus pada zaman dahulu hingga kini pasti mewajibkan memotong rambut hingga cepak. Untuk sekedar membedakan dengan senior mungkin atau alasan apapunlah.
Gue menunggu hingga detik terakhir berharap Masa orientasi di Bina Nusantara ketika itu tidak mewajibkan potong rambut. Masa SMA, 2 tahun gue botak seperti pentolan korek api. Makanya gue sangat menginginkan melihat diri sendiri berambut panjang. Setidaknya libur 2 bulan ini sudah membuat rambut gue sedikit lebih panjang dan terkesan unik setelah bertahun-tahun cepak. Setidaknya untuk diri sendiri dan nyokap yang terus mengomel untuk potong rambut.
Di minggu malam, setelah briefing tentang Masa Orientasi di kampus, gue ditemani nyokap ke sebuah salon di ITC Cempaka Emas sekalian dengan membeli berbagai perlengkapan tempur untuk keesokan harinya.
Salonnya gue lupa namanya, pokoknya bukan Jhony Adrean aja, itu satu-satunya nama yang gue tahu karena sepertinya kios wajib di mall-mall. Sebelumnya gue tidak pernah kesalon, jadi agak aneh rasanya rambut dicuci dan dihandukin. Gue melihat nyokap sedang duduk membaca majalah di cermin ketika duduk di kursi pemotongan rambut. Saat itu gue terkesan tidak perduli tetapi akan berubah total beberapa saat kemudian. Keberadaan bayangan nyokap gue di cermin menjadi arti penting. Penyelamat hidup gue di saat tidak lama setelah itu.
Rambut gue memang sudah agak panjang dan karena sejarah keturunan yang rumit, rambut gue tidak bewarna hitam pekat. Sedikit kecoklatan atau warna apapun lah itu. Pemotong rambut saat itu juga tidak terlalu penting bagi gue, tetapi ini akan menjadi pelajaran berharga. Beberapa saat kemudian kedua hal ini menjadi amat teramat penting.
Kepala gue dipijet dengan lembut dan pundak gue juga. Bagian leher beberapa kali seperti dibelai. Hari itu pertama kali gue ke salon dan dengan polos menduga itu adalah prosedur resmi di dunia persalonan.
“Kuliah ya mas?”
“Iya.” Pertanyaan seperti itu juga bagi gue sebuah prosedural.
“Kok rambutnya dipotong ya?”
“Gara-gara ospek mas, saya mah juga ngga mau kalo ngga disuruh.”
“Iya nihh, kan ganteng kalo panjang mas. Sayang kalau dipotong.”
“Ini diwarnai ya mas?” pemotong itu kembali bertanya.
“Ngga mas, itu beneran.”
“Wah, bagus yah rambutnya. Aku jadi ngga sudi motongnya mas.”
Mendadak tenggorokan gue tercekat, sebenarnya gue ngga tau rasanya tenggorokan tercekat tetapi karena di novel-novel seperti itu jadi gue ikutan aja. Mendadak ingin pergi dari sini. Ini ibukota bung, pikir gue. Tempat dimana segalanya bisa berbeda dari sebuah kota di Sumatra. Ini salon bung, tempat yang pasti berbeda dari tukang cukur langganan gue dulu dengan tidak memakai prosedural.
“Ini salon di ibukota bung.” Begitu teriak gue, entah mengapa seperti itu di dalam hati. Bermaksud menenangkan diri. Gue melihat nyokap gue sedang memegang Handphone di cermin. Sedikit lebih lega.
Beberapa saat setelah gue mulai menenangkan diri ada seorang bapak duduk di sebelah gue dan mengajak ngobrol si pemotong rambut yang ternyata gemulai itu. Gue mulai memperhatikan bentuk dan rupa si pemotong itu dari cermin sambil memantau keberadaan nyokap.
Tiba-tiba bapak disebelah itu mengajak gue ngobrol.
“Mas.”
“Hah, ya?”
“Kok rambutnya dipotong? Kan sayang.”
Kembali mengingat kata-kata novel, tenggorokan gue tercekat. Gue kembali melihat di cermin untuk kembali memastikan nyokap gue ada disana. Ternyata ada dan sedang tersenyum lebar. Nyokap gue bisa-bisanya tersenyum melihat anaknya dikepung dari dua arah seperti ini.
“Gara-gara ospek mas, saya mah juga ngga mau kalo ngga disuruh.” Gue hanya bisa mengulang saja.
“Ngga usah aja dipotong, begini kan keren.”
Gue tidak bisa berbicara apa-apa dan hanya tersenyum tipis dan kecut. Kemudian gue hanya pasrah si pemotong rambut menyentuh, memegang dan membelai kepala gue sedemikian ruma dan sedemikian sehingga gue terus memantau nyokap gue di cermin. Nyokap gue adalah kartu as disaat keadaan darurat. Seandainya tiba-tiba gue disekap, diajak kemana-mana atau kejadian-kejadian tidak menyenangkan, gue tinggal teriak dan nyokap gue yang telah susah payah membesarkan anaknya pasti bereaksi dengan tepat.
Akhirnya setelah berbagai senyuman formalitas menjawab dan menanggapi si pemotong itu, rambut cepak gue kembali muncul. Secepatnya gue beranjak dari kursi pesakitan itu dan merapat ke arah nyokap. Ibu memang tempat menyandarkan diri paling tepat ketika kondisi mengancam masa depan sekalipun
DI perjalanan pulang, gue cerita secara detail segalanya.
Nyokap gue tertawa terbahak-bahak.
Gue bengong.
Posted: December 17th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .think | No Comments »
Kembali ke sebuah dunia dimana setan bisa terlihat dengan mudah dan konyol disana. Kali ini gue bertemu dengan makhluk itu dengan kondisi emosinya yang agak terguncang. Malam menjelang pagi kala itu, matanya merah dan sedikit gelap. Ada garis-garis hitam dibawah matanya, seperti tanda manusia yang kurang tidur.
“Gue kesal” Setan mengumpat.
Kali ini gue lagi memainkan blackberry, “Kenape lu?”
“Kurang tidur gue.”
“Lu tidur juga ya?”
“Ya iyalah, emangnya gue Tuhan apa. “
“Haha, iya deh bangsa lu tahu Tuhan itu lebih daripada bangsa gue.”
Gue kembali BB-an dan setan pun merasa tidak diacuhkan, “Eh, tanyain dong kenapa gue kurang tidur.”
Membungkus BlackBerry ke dalam sarungnya, “Kenapa emangnya.”
“Itu gara-gara petasan yang ngga berhenti-berhenti.”
Gue melihat kalender di Bb, tanggal 17 desember dan masih beberapa hari lagi untuk tahun baru. “Petasan apa malam-malam gini?”
“Hah, lu ngga tau sekarang tahun baru islam? “ Setan tertawa terbahak-bahak, merasa puas dan dendamnya seakan terbalas.
“Eh, gue nanya petasan apa malem-malem gini, bukan ngga tahu sekarang tahun baru islam.” Merasa cerdas untuk mengeles.
“Haha, iya-iya. Ngga tau tuh, orang-orang malah hidupin petasan. Dulu juga pas idul adha gue juga ngga bisa tidur. Berisik tau takbirnya.” Gue sebenarnya merasakan hal yang sama seperti setan, terkadang takbiran tidak niat itu memang menghilangkan nilai religinya.
“Gue tanya buyut, jaman dulu ngga ada begituan sih. Tapi bagus katanya, berarti manusia makin ngga bener. “
Gue hanya menghela nafas saja, mungkin apa yang dikatakan makhluk gagal satu ini benar juga. Saat gue sedikit melamun dan berpikir, setan menyela, “Tapi kalo untuk yang satu ini mending manusia bener dah. Sakit kuping gue.”
“Hahaha. Kuping lu kepanjangan sih.” Gue tertawa sambil kembali BB-an.
“Ye, dasar dah lu manusia. Eh itu yang namanya blackberry ya?”
“Iya, kenapa? Tau juga lu ya.”
“Haha tau dong, kemaren bokap gue bahas dan dia merasa senang. Blackberry bisa bikin manusia lupa ma tuhan.”
Mata gue beralih dari BB ke muka setan yang ngga ada bagus-bagusnya itu.
“Maksud lu tan?”
“Lu pasti belum shalat isya kan? Gara-gara BB?”
Gue langsung masukan blackberry, istighfar dan bersiap ke dunia kembali. Sepertinya memang harus shalat dan melupakan BB sejenak.
“Eh.ehh…lu jangan shalat!”
“Yee, bener kata lu tuh. Shalat dulu gue.”
“Ntar gue dimarahin bokap lagi, masa gara-gara setan manusia malah jadi shalat?”
“Haha like this!” Gue meninggalkan setan yang lagi mencak-mencak untuk shalat.
Semoga tahun baru, shalat gue makin bener.
Posted: December 7th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .design | 1 Comment »
Cover edisi 61

Cover edisi 63

Cover edisi 65
