Branding dalam Berdemo
Posted: November 15th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life | 1 Comment »Cerita bermula dari kota Paris tahun 1968, ketika itu masyarakat Paris khususnya mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran menentang presiden Charles de Gaulle. Isu yang dibawa adalah pendidikan, tenaga kerja dan ekonomi. Hal yang menarik bagi gue adalah pencintraan yang dilakukan ketika berdemo, bukan sejarah demonstrasinya. Mereka menggunakan begitu banyak poster-poster yang berslogan cerdas. Contohnya adalah ‘dilarang melarang’ atau sois jeune et tais toi dalam bahasa inggris berarti be young and quiet - gue tidak menemukan bahasa indonesia yang tepat untuk itu.

Kopi dihirup dan walaupun musik di Java Beans Planet Dago mengeras cerita masih terus mengalir. Yang bercerita adalah seorang alumni ITB dan mengaku dua hal, pernah menjadi editor Bussiness Week dan menjadi bagian dari pergerakan mahasiswa tahun sembilan delapan.
Cerita berlanjut dari Paris ke Indonesia, tiga puluh tahun kemudian. Kondisi hampir serupa terjadi di Indonesia. Demo besar-besaran terjadi untuk menentang rezim soeharto. Mahasiswa menjadi dalang utama untuk menyuarakan suara rakyat : Soeharto harus turun sekarang. Di ITB terjadi peredaman pergerakan karena sebagian oknum berkepentingan dengan BJ Habibie yang merupakan calon kuat wakil presiden kala itu. Oknum tersebut mengkondisikan mahasiswa ITB untuk tenang setidaknya sampai sidang istimewa MPR dengan pengukuhan Habibie sebagai pendamping Soeharto. Oleh karena itu pergerakan mahasiswa ITB terlambat dibanding mahasiswa di Jakarta atau Jogya.
Mahasiswa Seni Rupa yang kala itu merupakan mahasiswa yang cenderung tidak peduli dengan politik menjadi penggerak utama. Bersama dengan mahasiswa jurusan lainnya, mereka terinspirasi dari apa yang terjadi di Paris tahun 1968, mereka berpikir tentang pencitraan dalam berdemonstrasi. Semua bermula dari sebuah novel. Novel itu juga memberikan pertanyaan, mengapa rezim komunis dapat runtuh? Salah satunya karena peran televisi yang meruntuhkan sebuah ideologi. Celana levi’s atau Mc Donald’s dari kaum liberal menguncang komunis dengan memberikan kesan memakai celana jeans itu keren atau makan di Mc D itu cool.
Sebuah rezim itu diruntukan dengan branding, bukan perang ideologi. Seperti komunis, Jerman Timur dan Presiden Charles de Gaulle. Soeharto juga begitu.
Mahasiswa ITB melakukan pergerakan dengan sebuah branding, mereka memikirkan kemasan dalam orasi. Logo tangan terbuka sebagai lawan dari kepalan tangan yang kaku dan terkesan komunis dibuat. Baju-baju demonstran seragam dengan logo tangan itu. Kemudian berbagai aksi teatrikal dan baligo-baligo besar terpasang seperti di empat labtek.
“Kita membuat sebuah perubahan, di kala orang memikirkan isi yang penting dan kemasan tidak terlalu penting, kita berpikir sebaliknya. Kemasanlah yang lebih penting karena isi kita sudah sama : jatuhkan Soeharto.” Begitu kutipan sang pencerita.
Pergerakan ternyata disambut postif oleh masyarakat dan banyak alumni yang kaget pada awalnya. Gesekan-gesekan dengan kampus lain terjadi karena (mungkin) mereka tidak bisa menerima perubahan dan perbedaan itu.
Soeharto turun hanya 2 hari setelah rektor itb menyatakan sikap bahwa presiden harus turun. Entah efek branding dalam berdemo yang berhasil meyakinkan massa kampus itu berefek kepada perununan soeharto, gue tidak tahu. Tapi yang jelas, Soeharto turun dan tujuan pun tercapai.
Mahasiswa pada tahun 1998 dikatakan beruntung karena ada momen dimana puncak dari kekesalan rakyat terhadap Soeharto ada di tahun itu. Sebuah media pembelajaran yang baik apalagi ada konsep branding. Mereka orang yang cuma kebetulan ada di masa itu, begitu kira-kira deskripsi dengan sudut pandang yang lain.
“Banyak diantara kita yang meniti karir di jalur marketing setelahnya.” Sebuah penjelasan pencerita tentang kelanjutannya. Ketika ditanya tentang perbandingan terhadap mahasiswa sekarang, dia menjelaskan bahwa zaman sudah berbeda, tidak bisa dibandingkan. Perjuangan tahun sembilan delapan itu berbeda dengan sekarang karena tuntutan juga berbeda. Karena momen belum ada makanya dirasa pergerakan mahasiswa lambat, begitu pikir gue ketika itu.
Tweet this!