Posted: September 16th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life | 2 Comments »
Sudah tiga kali Gue shalat tarawih di mesjid dekat rumah. Dalam tiga kali kesempatan itu, mata menerima informasi tentang orang-orang yang ditemui dan otak menyimpannya. Mulai dari teman lama, muazin yang dulunya teman bermain sepakbola, wakil kepala sekolah SMA dan beberapa bapak-bapak pengurus mesjid yang selalu mengumpulkan dana dari hati ke hati. Semua terasa biasa, tidak asing karena orang-orang itu yang Gue temui hampir setiap Ramadhan, kecuali satu orang bapak paruh baya yang biasa duduk di depan, dekat jam mekanik besar sumbangan seorang hamba Allah yang semua orang tahu siapa dia sebenarnya.
Bapak itu biasa memakai kemeja lengan pendek lusuh berbeda-beda warnanya. Pernah sekali bewarna merahmuda lecek. Bajunya dimasukan kedalam dan gasper dengan kepala keemasan terlihat. Sepertinya bapak itu gundul karena tidak ada rambut yang terlihat menjulur keluar dari peci hitam yang selalu dipakainya. Muka selalu seperti ditekuk dan matanya seperti mengambarkan kesedihan. Pernah sekali mata Bapak itu mengikuti bakul yang beredar ketika ceramah agama berlangsung. Susunan saf berantakan membuat bakul itu beredar memutar karena orang-orang memilih duduk bersandar di dinding. Tidak seorangpun menurut Gue yang menyadari keinginan bapak itu untuk bersedekah. Dua-tiga kali Bapak itu berlutut akan berdiri kemudian duduk lagi. Akhirnya berdiri juga dan berjalan menuju bakul yang terhenti di sudut ruang mesjid.
Tidak pernah berbicara atau setidaknya menunjukan ekspresi lain selain murung. Begitulah Bapak itu.
Pada malam keempat, ceramah kembali menurut Gue membosankan. Mengapa membosankan? Entah mengapa ceramah selalu menggemborkan contoh-contoh buruk di masyarakat. Misalkan malam kedua tentang bisnis dalam islam. Uztad malam itu berbicara seputar kecurangan timbangan, riba ketika berdagang emas atau banyaknya kecurangan dalam berbisnis. Setahu gue tidak sekalipun dia membeberkan bagaimana bisnis menurut islam, palingan katanya kita harus jujur seperti nabi jika berdagang. Menurut Gue itu tidak berarti banyak karena pasti kebanyakan orang disini tahu nabi itu pedagang jujur dan harus ditiru. Seharusnya uztad itu membeberkan sedikit yang tidak umum diketahui masyarakat.
Tema pada malam keempat ini adalah hubungan dengan tetangga. Kembali contoh-contoh buruk yang dibeberkan. Ada malahan yang lumayan panjang.Dua keluarga di sebuah perumahan saling bermusuhan dan tidak tegur sapa satu sama lain. Tiga hari menjelang lebaran, salah satu pergi mudik dan tidak permisi sama sekali. Sehari selepas lebaran kedua, ada dua truk besar mendatangi rumah itu dan membongkar. Sebenarnya si tetangga rumah itu bertanya mengapa sampai atapnya ikut dibongkar? Dengan enteng si pembongkar mengatakan rumah ini akan direnovasi dan atapnya diganti dengan Multi Roof. Seminggu kemudian pemilik rumah pulang dan pastinya kaget melihat rumah berantakan. Kata si uztad istrinya pingsan ditempat dan suaminya berdiri termenung, ternyata bukan dibongkar untuk direnovasi tetapi dirampok.
Cerita yang bagus tetapi dalam hati Gue bertanya, “Kok Sang Uztad mengetahui cerita dengan detail sekali?”
Uztad berapi-api seperti berorasi agar kita ramah dan saling tegur sapa dengan tetangga. Gue hanya memperhatikan sambil berusaha tidak berpikir macam-macam lagi. Seketika uztad itu seperti membelokan ceramah, “Bapak-bapak, Ibu-Ibu tahu Mbah Surip?” Ibu-ibu menjawab serempak, “Tauu”. Ibu-ibu menjadi kompak karena sering ditanya seperti itu tetapi seputar hubungan dengan tetangga. “Mbah Surip tidak bisa Shalat, puasa, zakat dan juga minta maaf.” Kata uztad itu dan Gue pun bingung, sempat berpikir apa Mbah dulu tidak shalat gara-gara kesulitan mengatur rambut ketika berwudu? “Karena Mbah Surup sudah meninggal, nah mumpung kita belum jadi banyak-banyaklah shalat dan menjalin hubungan baik dengan tetangga. Kalu ada salah, minta maaf ibu-ibu dan bapak-bapak.”
Beberapa jamaah tertawa atau setidaknya tersenyum. Entah mengapa mata Gue mengarah ke Bapak yang tidak pernah terlihat senyum itu. Dia juga tersenyum lebar walaupun beberapa saat setelahnya kembali murung. Walaupun Mbah telah tiada tetapi dia tetap bisa membuat siapapun tertawa.
Mumpung belum meninggal, tidak ada salahnya membuat orang lain senang dan tertawa juga.
Posted: September 15th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .think | 2 Comments »
McDonald dan ampera merupakan dua franchise yang memiliki satu kesamaan, sama-sama gratis dalam pengambilan sambel atau saus. McDonald mengantisipasi pemborosan dengan cara cerdas : menyediakan tempat saus berukuran kecil. Sepertinya warung nasi ampera juga berpikiran sama, menyediakan tempat sambel yang ukurannya sedikit lebih besar dan berbahan keramik. Entah lebih cerdas atau memang mumpung gratis, para konsumen di restoran itu malah mengambil saus atau sambal sebanyak mungkin dan meletakannya di piring atau kertas karton jika sedang di McDonald’s. Tidak semua begitu memang.
Gue juga mengambil sambel agak banyak ketika ditraktir di ampera, kenikmatan gepuk,telur atau pergedel jagung akan bertambah jika ditoel-toel dengan sambel yang berlimpah.
Kemudian Dian bercerita, di Belanda harga sambel sebotol kecil beharga tiga puluh ribu rupiah. Dian mendapat cerita dari Dion, kakaknya yang pernah bersekolah di belanda. Sepertinya cerita itu mengalir ketika gue mengambil sambel di meja penuh lalapan. Dion yang duduk disebelah Dian atau tepat didepan gue menunjukan ukuran kira-kira dua puluh sentimeter. Sebuah harga yang mahal dan tidak masuk logika jika mendengarkannya ketika sekitar 5 menit yang lalu melihat sambel melimpah dan mengambil sebanyak-banyaknya. Dion pun mengeluh sikap orang-orang disini yang membiarkan begitu banyak sambal terbuang sia-sia.
Ketika sambelnya sudah habis, Dion memintanya dari gue dan mengambil benar-benar secukupnya dari piring gue yang tinggal sisa-sisa makanan saja.
Sentilan itu terjadi di bulan puasa. Di bulan yang kata semua orang penuh berkah ini, pahala berlimpah ruah. Lebih banyak pastinya dari sambel di semua cabang ampera jika ditransfer ke dalam sambel. Mengapa kita tidak mengambil sebanyak-banyaknya? Mungkin karena pahala itu tidak kongkrit, semua dari cerita turun temurun dan sangat jelas terdapat di Al-Qur’an. Seandainya pahala itu terliat jelas atau ada meteran seperti di game RPG, mungkin semua orang berlomba-lomba mengumpulkannya. Apalagi jika jumlahnya berlipat ganda.
Bisa juga sentilan itu membawa imajinasi gue kearah mental bangsa. Kekayaan yang berlimpah menyebabkan efesiensi yang buruk dalam menghasilkan produk dan pemakaian yang tidak cerdas. Hubungannya apa dengan sambal di ampera? Entahlah juga. Memikirkan bangsa ini membingungkan, mungkin sudah banyak analogi dan sepertinya semua masih dalam taraf “mengamati” dan “menimbang” jika temanya memperbaiki bangsa ini atau setidaknya membuatnya menjadi lebih baik.
Posted: September 7th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .Engineering | 1 Comment »
Tugas 1 TF 4003 Laser dan Serat Optik. Laser (Light Amplification by Stimulation Emission Radiation) merupakan alat yang dapat menghasilkan cahaya dengan sifat monorkomatik.koheren,terarah dan fokus yang tinggi . Pada dasarnya cahaya merupakan kelompok photon yang dapat diemisikan secara spontan dari elektron yang berpindah ke level energi yang lebih rendah. Radiasi energi photon apabila mengakibatkan perpindahan atom maka akan menghasilkan energi photon yang lebih kuat lagi. Operasi ini dikenal dengan istilah emisi terangsang. Emisi terangsang meradiasikan energi photon yang lebih kuat karena memiliki fasa dan arah yang sama antara radiasi photon datang dan yang diradiasikan. Emisi terangsang menjadi bagian penting dalam operasi laser.
Untuk menghasilkan cahaya laser pada emisi terangsang diperlukan suatu keadaan dimana atom pada level yang lebih tinggi lebih banyak daripada level energi yang lebih rendah. Keadaan ini disebut inversi populasi.
Inversi populasi dapat diperoleh dengan cara pemompaan. Pemompaan merupakan proses perpindahan atom dari energi level terendah (dapat disebut ground State) menuju ke energi level yang lebih tinggi (excited state). Perpindahan ini menyerap energi dari lingkungan luar.
Hubungan antara emisi terangsang dan pemompaan dapat dilihat dari pemompaan tiga dan empat tingkat. Untuk pemompaan tiga tingkat, pada awalnya atom-atom dipompa dari ground state menuju excited state. Selanjutnya terjadi emisi spontan mentransisikan atom-atom menuju metastable state. Pada level energi ini, atom-atom cenderung lebih lama bertahan. Emisi terangsang terjadi ketika photon datang dan kemudian atom-atom berpindah menuju ground state dan menghasilkan energi photon yang koheren dan terarah.

Gambar 1. Skema Pemompaan tiga tingkat (http://kottan-labs.bgsu.edu/teaching/workshop2001/chapter4a_files/image016.jpg)
Pemompaan tiga tingkat diperlukan agar amplifikasi laser dapat terjadi. Jika hanya ada keadaan metastable state dan ground state, maka saat atom pada kedua level sama, emisi terangsang dan absorbsi energi sama besar sehingga tidak ada cahaya laser yang dihasilkan. Pemompaan tiga tingkat dengan adanya excited state akan menghindari populasi yang kurang pada ,metastable state sehingga keadaan Inversi Populasi dapat terus terjadi.
Gambar 4. Skema pemompaan 4 tingkat (http://kottan-labs.bgsu.edu/teaching/workshop2001/chapter4a_files/image018.jpg)
Pada pemompaan tiga tingkat, lebih dari setengah atom harus berada pada metastable state untuk emisi terangsang. Hal ini tidak terjadi pada pemompaan empat tingkat. Pada pemompaan empat tingkat, transisi atom dari metastable stede akan berakhir pada suatu level energi diatas ground state. Level tambahan ini akan kekurangan atom karena atom-atom akan langsung menuju ke ground state. Kekurangan ini akan memperbesar kemungkinan inversi populasi yang dibutuhkan untuk radiasi sinar laser dan populasi atom lebih sedikit pada metastable state.
Metode pemompaan dapat dilakukan dengan optik dan loncatan listrik. Pada dasarnya pemompaan ini dilakukan untuk membentuk keadaan metastable yang tidak kekurangan populasi atom sehingga radiasi cahaya laser dapat dihasilkan. Pada pemompaan dengan optik dilakukan pada bahan optik yang cenderung isolator dengan tingkat energi yang umumnya lebar. Contohnya adalah ruby laser dimana radiasi cahaya laser diperoleh dari perpindahan ion Cr 3+. Pemompaan dengan loncatan listrik umumnya untuk bahan laser aktif gas, tidak seperti optik dengan bahan laser padat dan cair. Pemompaan ini cenderung untuk perbedaan tingkat energi yang sempit yang sulit dicapai dengan metode pemompaan dengan optik. Contohnya adalah Laser Hene dan Laser Argon.