menulis kata-kata yang bisa dicitrakan dengan kamera dan diimajinasikan lewat gambar

Dokter Gigi (harus) yang Cantik

Posted: July 29th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life | 4 Comments »

Dokter gigi di Rumah Sakit tempat bokap gue kerja seperti tidak punya perasaan mengobok-obok mulut gue. Ngilu karena gigi dibor lebih memilukan daripada ditinggal kekasih walau hanya beberapa detik. Selesai gigi ditambal, gue kesal sama dokter gigi yang cantik itu. Walaupun dia baik, tetapi tetap seperti orang yang tidak punya perasaan tentunya dalam beberapa detik.

“Udah makan tadi pagi,Gio?” tanya pemegang gelar drg itu dengan lembut sepertinya. Gue sempat berpikir, mengapa dokter gigi dikhususkan dan apa tidak bosan belajar gigi selama bertahun-tahun? Setidaknya integral parsial sedikit lebih menarik daripada gigi. Lalu Feeling spidermen gue seakan bekerja memprediksi bahaya, bakal ada kekerasan dan pencabutan hak milik gue.

“Belum dok.” Padahal roti susu plus keju tadi pagi masih terasa di perut.

Gue disarankan besok kembali ke dokter yang cantik di Poli 3 gigi itu dan tentunya dengan pengakuan jujur sudah makan di pagi hari. Tentu saja gue tidak kembali besok, tetapi satu minggu lebih kemudian. Berhari-hari memikirkan pencabutan hak milik itu. Nyokap gue sampai sebal dan malah mengatakan sudah ada evolusi di dunia pergigian. Jarum suntik yang dipakai lebih kecil dan bengkok. Gue hanya memandang kosong ke nyokap gue ketika mendengarkan informasi evolusi itu. Tidak berpengaruh terhadap ketakutan pencabutan hak milik.

Hari selasa, pagi hari pukul delapan kurang lima belas menit, gue datang ke poli 3 gigi.

“Loh, jadi dicabutnya.”

“Iya dok.”

“Kemaren bohong yaa? Katanya belum makan.”

“Iya dok, kemaren takut cabut gigi.” Walaupun sekarang juga masih takut.

“Udah makan nih pagi?”

“Udah dok.”

“Beneran nih?”

“Iya beneran dok.”

Akhirnya sampai juga di kursi canggih ala dokter gigi. Ketika duduk, air untuk kumur-kumur langsung terisi. Gue menjadi orang sok tahu sesaat, ini pasti memakai prinsip piezoelektrik sehingga tekanan dari bokong menjadi input untuk sistem mengatur pengisian air. Pengisian air pasti hanya memakai prinsip mekanikal sederhana. Ternyata dokter-dokter gigi yang cantik di seluruh dunia mungkin akan sangat bergantung pada anak teknik. Peralatan di kursi canggih itu sampai alat bor terkutuk semua ulah anak teknik. Sesaat juga gue tersenyum kemenangan yang tidak jelas.

“Oh ini ya yang bohong kemaren sudah makan?” sela satu perawat perawakan tua memecah saat-saat kemenangan gue yang tidak jelas. Gue hanya tersenyum sebisanya, entah bagaimana senyum saat itu. Timbul pertanyaan, darimana mereka tahu gue bohong?

Pencabutan hak milik dimulai. Gue semakin deg-degan, ingin menjadi anak kecil yang bisa membrontak dan menolak untuk ke dokter gigi. Tetapi gue mahasiswa tingkat empat, bukan anak SD kelas empat dan pastinya tidak mungkin seperti itu. Dokter cantik itu seperti mempersiapkan segalanya, gue menoleh sesaat untuk membuktikan evolusi pergigian seperti yang dibilang nyokap gue.

“Sudah jangan dilihat.” Gue menurut aja dan semakin takut.

“Dok..” Gue ingin kesempatan sekali lagi untuk dokter itu berpikir ulang tentang kekerasan yang akan terjadi.

“Ya.”

“Boleh pake headset ngga? Dicabutnya sambil dengerin lagu.”

“Ya ngga boleh lah, kamu ada-ada aja.” Mungkin dokter itu tersenyum dibalik masker birunya.

Ingin tanya kenapa tapi gue urungkan itu, hanya menutup mata dan berharap semua berjalan dengan cepat. Mulut gue diobok-obok dan sepertinya jarum suntik evolusi sudah menusuk gusi gue dua kali, sebelah dalam dan luar. Terasa sedikit sakit walaupun tidak terlalu sakit karena yang lebih sakit adalah cubitan gue ke tangan sendiri waktu itu. Tetapi gue bersyukur ada yang namanya Anasthesi alias bius-biusan. Proses pencabutan hak milik dengan kekerasan tidak terasa sakit sama sekali.

“Ini makan obatnya, 3 kali sehari.3 Hari lagi datang lagi untuk cabut yang sebelah kanan.” Akhirnya segalanya berakhir. Resep gue pegang dan kali ini senyum kemenangan sedikit lebih jelas walaupun ada kapas antara gigi-gigi gue.

“Wah, ngga sakit ya dok.” Kata gue dengan bangga dan kali ini sedikit tidak jelas.

“Oh ya udah, berikutnya kita bikin sakit ya. Tanpa obat bius.” Dokter itu tersenyum dan gue melongo, dalam waktu beberapa detik saja.

Tweet this!Tweet this!


Sudut Pandang dari Kamar Mandi

Posted: July 22nd, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .think | No Comments »

Liburan memang membuat pola makan berubah dan keadaan perut juga berubah, buang air besar alias boker menjadi keteraturan untuk gue. Itu berita baik jika yang keluar keras dan besar, tapi ketika encer? Bencana. Pagi hari itu, pagi dimana berita refund tiket MU ada di mana-mana, untungnya gue tidak mendapat bencana itu di kamar mandi. Jadi teringat romantisme ala lelaki di komik Crayon Shincan. Ketika Nohara dan kakek tukang kayu bersalaman dengan mata berbinar hanya karena mereka setuju dua hal, jika buang air itu bukan bencana dan dapat dibilas dengan cepat.Gue merasa salut, orang macam apa pengarang Shincan yang dapat menghubungkan romantisme, laki-laki dan buang air besar?

Crayon Shincan memang spesial menurut gue, ceritanya bisa dikatakan sederhana dan dapat dibuat menarik. Seperti kisah cinta antara kakek tukang kayu dan suster senior di sebuah rumah sakit dengan konsultan seorang anak TK, Shincan. Ibu Guru Yoshinaga dengan dandanan menor juga pemabuk memiliki ambisi cinta yang mendalam. Kemudian guru TK ini bertemu dengan seorang dokter tulang yang lebih tertarik dengan tulang daripada dada wanita sekalipun. Tokoh dan cerita yang sederhana namun kreatif menurut gue dibandingkan seorang laki-laki muda tampan, kaya dan punya karir bagus berpasangan dengan wanita muda yang cantik nan seksi seperti yang biasa ada di sinetron Indonesia. Sedikit dipaksakan malahan, mana ada tukang parkir secantik Revalina?

Selain tokoh-tokoh yang sederhana, Shinchan juga bercerita tentang kehidupan sehari-hari yang dekat dengan masyarakat walaupun gue tidak tahu persis kehidupan warna negara matahari terbit itu. Memang tidak mungkin banyak anak menjadikan penis mereka seperti belalai gajah dengan gambar kuping gajah diatasnya, tetapi kehidupan Shincan yang bermain seperti anak-anak pada umumnya, petak umpet atau sekedar kejar-kejaran menjadi hal yang dekat dengan kehidupan. Misae, ibunya Shincan yang merupakan ibu rumah tangga yang biasa dengan kesukaan akan obralan dan gosip. Semua terasa menjadi hal-hal yang bisa ada di sekitar kita. Tidak seperti anak-anak muda dengan mobil-mobil mewah yang banyak di serial pendek di negara tercinta ini. Apalagi latar belakang tempat di rumah mewah atau jalanan ibukota nan bersih kala itu membuat semakin jauh dari sebagian besar masyarakat.

Pesan moral pun menjadi kelebihan tersendiri bagi penonton kartun Shinchan. Kazao, anak TK yang menganggap dirinya elit dan terkadang merasa levelnya diatas Shincan. Di salah satu episode, Kazao bersama teman-teman elitnya juga berjalan sambil berbicara hal yang elit juga. SD Swasta elit, kelas bahasa inggris, kursus piano dan sebagainya. Elit gue gambarkan sebagai sesuatu yang ekslusif dan mahal. Semua berjalan dengan anggun dan berpakaian rapi, walaupun mereka semua murid TK dan juga berlebihan sebenarnya. Kemudian Shincan datang dengan pakaian ala gozillanya yang pantatnya terlihat jelas karena dilubangi. Kazao cemas dengan gengsinya sebagai anak elit tercemar.Dia terpikir keanggunan dan reputasinya terganggu dengan mempunyai teman yang terlihat aneh seperti itu. Kazao pada akhirnya tidak mengakui Shincan apalagi menggubrisnya, dia terliahat melawan kata hatinya. Selanjutnya, Kazao diceritakan tidak lulus ujian masuk SD Swasta Elit karena sakit perut dan diperparah dengan buang air ditengah teman-teman elitnya, hal yang biasa untuk anak TK tetapi hal yang memalukan di cerita kala itu. Ditengah keadaan depresi, Kazao bertemu dengan Misae dan dibantu untuk bersih-bersih di rumah Shincan. Setelah itu, Kazao mengajak Shincan kembali untuk bermain dan Shincan menerima begitu saja tanpa mengingat kejadian sebelumnya. Agak sulit menjelaskan rincian visual dengan verbal memang, tetapi kata-kata terakhir di hati Kazao“Temanku hatinya elit” dapat menjelaskan persahabatan dan ketulusan.

Sinetron di indonesia atau film pendek menurut gue juga mempunyai pesan moral. Entah karena jarang menonton dan skeptis dengan sinetron, gue merasa pesan moral itu tidak terlalu mengena di hati. Memang tidak bisa dibandingkan begitu saja antara sinetron dan film kartun, tetapi hal-hal itu sama-sama tontonan. Sama-sama hiburan gratis di tengah masyarakat, tetapi tontonan tidak sederhana dan tidak dekat dengan banyak masyarakat. Ada upaya untuk mengangkat cerita tentang kemiskinan, tapi artis yang cantik dan putih tidak menggambarkan apa adanya. Pernah juga sala satu sinetron tidak memakai aktor yang ganteng, tetapi mana ada anak tukang sapu ke sekolah dengan sepatu dan tas adidas?

Kedekatan dan kesederhanaanlah yang menjadi harga mahal untuk gue buat tontonan di Indonesia. Merasa menjadi seorang ahli, guemengatakan Laskar Pelangi memiliki itu, tokohnya sederhana dan bisa ada di kehidupan banyak orang. Setidaknya lebih realistis dibandingkan anak tukang sapu berhati emas di ibukota tetapi memakai sepatu adidas juga celana dan baju gaul. Pesan moralnya begitu kuat masalah pendidikan dan ada kritik sosial untuk siapapun, terutama pemerintah yang terhormat sekali. Berimajinasi kembali ke Jepang, Shincan merangsang arah pikiran gue untuk mengatakan dunia hiburan juga dapat menunjang kemajuan suatu bangsa. Film kartun seperti Shincan memperlihatkan suatu sisi masyarakat yang dapat dipelajari siapapun untuk masukan atau malah kritikan. Terkadang kartun juga dapat memperkenalkan suatu bangsa. Berlebihan atau tidak siapa yang tidak tahu Kimono, Ikebana, kue Mochi, Tokyo, Upacara Minum Teh, Bunga Sakura,Gunung Fuji dan Shinkansen? Semua bisa disampaikan lewat film kartun seperti Shincan. Penyampaian tentang ‘indah dan kayanya’ Indonesia bagaimana? Rasanya lebih terkenal Malaisya dan Singapure di Asia Tenggara dengan slogan cerdas masing masing, ‘Malaisya Trully Asia’ atau ‘Uniquely Singapura’. Bahkan maskapai penerbangan thailand memakai musik seperti gamelan untuk iklan mereka. Hongkong juga memakai desain grafis yang mencerminkan dengan kuat kebudayaannya.

Sedangkan kita? Visit Indonesia 2008. Logonya luar biasa tetapi menurut gue hanya sekedar itu saja. Celebrating 100 nation awakening. Apa hubungannya mengunjungi indonesia dengan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional?

Loh kok sampai kesana ya? Pikir gue ketika keluar dari kamar mandi. Bangsa maju itu bisa terlihat dari sikap mereka terhadap segala sesuatu, termasuk hal-hal yang terlihat kecil dan detail.

Tweet this!Tweet this!

Bukan Tulisan Rasis

Posted: July 16th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .think | No Comments »

Minum kopi di pagi hari sudah menjadi kebiasaan gara-gara kuliah di sebuah Institut di kota Bandung. Kebijakan sang ketua program studi mengenai anak tingkat tiga harus masuk pagi menjadi biang keladi. Sewaktu gue tingkat dua juga begitu, terus masuk pagi dan itu kenyataan yang menyebalkan, 3 tahun selalu masuk pagi. Kopi pun menjadi membantu kalau ada pertandingan sepakbola, baik itu di Televisi atau di Football Manager 2009. Ketika liburan juga seperti itu, kopi menjadi menu wajib di hampir setiap hari, setiap pagi.

Pagi kali ini tidak ada kopi lagi, Nestcafe Moccacino yang gue beli seminggu lalu habis. Akhirnya ditengah kabut atau bisa dibilang asap pagi hari, gue membeli kopi. Toserba dekat rumah tutup dan gue mengarahkan Honda Supra ke arah yang lebih jauh, mencari Toko yang ada menjual kopi. Ada satu toko yang buka di hampir ujung jalan seribu ruko ini. Kenapa disebut seribu ruko? Karena sepanjang jalan ada ratusan ruko, dulu bokap pernah menghitung dan jumlahnya mencapai 237 ruko. Lalu kenapa disebut seribu ruko? Supaya mudah saja dan orang juga tidak pernah berpikir untuk membuktikan jumlahnya.

Masuk ke toko itu, yang pertama kali terpikir adalah pencahayaan yang sangat kurang. Gelap sekali dan memberi kesan suram, tidak ada semangat untuk pelanggan. Berkeliling sekali, gue tidak menemukan kopi di tengah toko yang berantakan. Ada timtam yang berdekatan dengan rinso anti noda. Bagaimana tidak sulit mencarinya. Ibu penjual itu mendekat ke arah gue, tetapi sikap dan gerak tubuhnya tidak menunjukan untuk memberi bantuan atau sekedar bertanya, “Cari apa?”. Gue akhirnya bertanya tentang keberadaan bubuk penghilang kantuk itu.

“Yang mana?”

“Nestcafe tubruk itu.” Gue sambil menunjuk satu jenis diantara banyak jenis yang tidak teratur. Ibu itu hanya menghempaskan satu paket dan menyuruhku untuk memilih sendiri berapa jumlahnya. Pelayanan prima sekali, pikirku mulai kesal. Setelah mengambil beberapa buah, gue berjalan menuju tempat ibu itu untuk membayar.

“Tujuh ribu.”

Gue meletakan 2 lembar lusuh 5 ribu dan dia membalas dengan 3 lembaran yang sedikit lebih lusuh. Tidak ada yang terlihat salah tapi tidak untuk bagian ‘terdengar’. Satu kata pun tidak keluar dari mulut pelit ibu penjual itu, wajahnya sudah tua dan kusam dengan memakai kaos putih ketat yang biasa dipakai muda-mudi untuk sedikit memamerkan tubuh muda mereka menambah image jelek dari gue. Apalagi tidak sedikitpun matanya mengarah ke gue.

Sedikit kemasa lalu, ketika belanja ke toko serupa yang pemiliknya keturunan cina rasanya sangat berbeda. Tokonya terang dan serba teratur. Pemiliknya juga ramah dan komunikatif.

“cari apa?”

“Sari roti yang tidak ada pinggirannya.”

“Wah, habis. Tapi coba merek yang ini. Saya suka makan yang ini walaupun sedikit lebih keras dibanding sari roti.”

“Yang ini? Baru ya?” sepertinya gue kurang yakin dengan rekomendasinya.

“Iya baru, pelanggan sih memang jarang membelinya tapi enak juga. Saya sering makan roti ini.”

Akhirnya gue membeli dan ketika membayar dengan mesin kasirnya dia kembali bertanya, “Ada lagi yang lain?”

“Tidak ada, itu saja mas.”

Sambil menyerahkan bungkusan belanja, “Terima kasih ya.”

Gue mencoba mengingat kembali pelayanan antara kaum ‘pribumi’ dan keturunan cina. Di beberapa kota dan berbagai jenis toko. Pelayanan dan keteraturan menjadi keunggulan penjual keturuan cina. Tidak heran banyak pedangang sukses berasal dari ras yang sedikit didiskriminasi negara penjunjung (tinggi) persatuan ini.

Dari komunikasi yang baik, bisa jadi pembeli yang awalnya tidak ingin membeli menjadi membeli. Dari awalnya membeli roti menjadi berpikir membeli selainya. Perhitungan bodohnya, jika ada 10 transaksi saja perhari di toko dengan komunikasi ramah, rata-rata pembeli melakukan transaksi lebih dari 3 ribu dari niat awal, dia sudah dapat 30 ribu perhari yang lebih banyak dari komunikasi yang buruk. Transaksi itu bisa lebih dari 10 kali sehari, bisa seratus malahan dengan 300 ribu lebih banyak berarti.

Itu jika penjual toko kelontong, bagaimana dengan penjual barang elektronik, mobil atau bahkan pesawat sekalipun. Keramahan bisa berarti jutaan rupiah. Teringat cerita tentang seorang penjual mobil di Amerika bernama Bob Golomb. Dia bercerita ada seorang petani dengan tangan kotor dan baju lusuh datang ke gerai pamer mobilnya. Bob melayaninya dengan ramah dan tidak ada sikap merendahkan, petani itu hanya membayar sedikit uang kala itu dan meminta mobil dikirim puluhan kilometer dari gerai pamer itu. Bob menyanggupi dan selanjutnya apa? Pentani itu menjadi pelanggan setia dan selalu membayar kontan dari lahan ratusan hektarnya.

Jadi tidak heran, ras cina di negeri ini terlihat oleh gue lebih sukses di bidang jual beli. Dari roti hingga TV Scarlet LG yang baru.

Tweet this!Tweet this!

Pagi Itu

Posted: July 6th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life | No Comments »

Pagi ini, gue lari pagi dengan rute komplek palem indah di Jakarta Timur. Dengan sepatu Rip Curl lumayan lecek dan celana panjang reebok yang tali pinggangnya sudah diganti dengan tali sepatu, gue pikir dari sisi pakaian cukup. Kemudian gue menambahkan handsfree dengan aliran listriknya mengantarkan data-data yang diubah menjadi lagu yang menemani kuping gue, yang sebenarnya otak sih. Persiapan matang sepertinya dan gue meninggalkan rumah kemudian berlari.

Ternyata tali pinggang celana reebok hitam membuat gue sering berhenti untuk mengencangkannya. Menyebalkan dan rasanya menyesal sudah memilih celana ini. Kemudian tali sepatu gue entah kenapa ikatannya lepas sehingga menuruti tali pinggang yang membuat gue berhenti. Lari pagi pertama di tahun itu diiringi banyak pemberhentian karena kedua tali itu. Belum cukup, tali handsfree juga bermasalah, suka lepas dari telinga sehingga menambah alasan untuk gue melakukan ‘pemberhentian’,

Jadi ingat iklan sony ericsson, seorang pelari yang menggunakan handphone tipe walkman. Dia emang cewek, tetapi memakai celana ketat yang sepertinya tidak memakai tali sepatu di lingkaran perutnya. Kemudian handsfreenya bener-benera free hand, tidak memakai kabel tapi nirkabel yang mungkin memakai teknologi bluetooth sehingga tangan tidak diperlukan untuk memasang kembali handsfree ke telinga. Sepatu? Gue rasa cewek itu tidak memakai sepatu vintage rip curl lecek sehingga menunjang larinya. Jadi ingat pembuatan sepatu Bentuk kaki pelari oleh salah satu brand ternama yang melibatkan laboratorium dan salah satu pelari tercepat di dunia. i kaki sangat diperhatikan dan material yang bertujuan untuk menciptakan sepatu lentur dan ringan. Bahkan ada juga sepatu jogging yang dapat mengukur performa seperti kecepatan atau mungkin tekanan darah. Belum cukup canggih? Bisa dilengkapi alat deteksi kecepatan dan ada juga GPS sebagai pelacak.

Mungkin untuk jogging berikutnya, gue harus memperhatikan hal detail penunjang. Sepatu, baju dan juga handsfree. Sehinga tali-tali itu tidak lagi menggangu. Terpikir juga bahwa banyak orang di luar sana mungkin memperhatikan hal-hal yang terlihat kecil tersebut dengan perhatian yang lumayan besar. Perlukah laboratorium khusus ditambah penelitian yang memakai kamera dengan sensor kecepatan akurat hanya untuk memaksimalkan sepatu bagi pelari?

Tweet this!Tweet this!

Kabut, Desibel dan Visi Hidup

Posted: July 6th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .Engineering, .life | 2 Comments »

Kerja praktik di Jakarta yang lumayan ada kerjaannya selama sebulan selesai. Gue pulang ke Pekanbaru untuk liburan sekaligus santai dulu sebelum semester 7 dimulai. Liburan itu diperlukan, pengalaman menunjukan begitu. Tahun lalu setelah semester 4 berakhir, gue ikutan semester pendek selama dua bulan kurang lalu berlanjut ke semester 5 tanpa liburan. Hasilnya, nilai tinggi tapi diiringi tingkat kejenuhan yang tinggi.

Minggu pagi di Bandara Soekarno Hatta, suasana ramai dengan berbagai macam manusia. Ada bapak separuh baya dengan rambut ala Don king sambil ngomong bisnis di telepon dengan suara tinggi. Kemudian para ibu berkaca mata hitam dengan kipasnya sambil cemberut terlihat tidak nyaman dengan udara. Mahasiswa atau mahasiswi, orang lain yang berkeliaran dan masih banyak lagi. Semua tidak ada yang nyaman dengan kondisi sekitar, panas dan bising. Walaupun hanya asumsi, tapi sepertinya tidak ada yang setuju kalau di luar Soekarno Hatta tersebut nyaman untuk duduk sesaat.

Gue masuk ke kamar mandi, bersih tetapi pengap. Selesai buang air, cuci tangan dan tiba-tiba merasa dingin ketika mengeringkan tangan di mesin pengering. Kaget juga melihat AC Split terpasang diatas mesin pengering tangan. Untuk pertama kali gue melihat penataan udara seperti itu, sepertinya tidak efektif karena ketika buang air tidak merasakan perubahan temperatur sedikitpun. Mulai berpikir untuk apa desain tata udara seperti itu.

Akhirnya sampai juga di pesawat Sriwijaya Air setelah satu jam delay. Sempat marah dengan pramugara gara-gara tas kamera gue harus masuk bagasi atas, gue akhirnya duduk tenang di kursi sebelah pintu darurat. Tiba-tiba, seorang pramugari datang dan menjelaskan bahwa kami bertiga, gue, abang gue dan seorang laki-laki metroseksual di kursi aisle mendapat kepercayaan untuk membuka pintu darurat dikala darurat. “Pintu darurat hanya boleh dibuka ketika sudah ada tanda, evakuasi..evakuasi..Dan tolong mas hanya memasang headset satu saja ya (dia mengacu kepada abang gue yang awalnya memakai earphone applenya).” Begitu kira-kira penjelasan akhir si pramugari bertopeng kosmetik. Hanya memakai satu earphone saja? Yah mungkin dua earphone yang menutup kedua teliga akan menghambat penyampaian informasi tanda bahaya. Cukup logis karena memakai earphone apalagi dengan Apple Nano akan membuat pemakainya seperti orang autis yang tidak mengolah informasi suara dari luar. Suaranya mengalahkan suara luar seperti tanda bahaya dan itu yang ditakutkan perancang prosedur keselamatan pesawat yang lalu diwakili oleh awak kapal.

Seharusnya waktu tempuh satu jam setengah sudah cukup untuk sampai ke bandara Sultan Syarief Kasim 2 di Pekanbaru. “Pesawatnya kok lambat ya.” Komentar abang gue. Walaupun sedikit terganggu dengan pikiran bahwa gerak itu relatif sehingga manusia tidak bisa merasakan perubahan gerak atau kecepatan dengan sensitivitas yang tinggi, gue setuju sama abang gue. Pesawat memang seperti berhenti dan ketika melihat jam tangan, seharusnya kita sudah mendarat. Ternyata memang benar, ada terjadi sesuatu. Pramugara yang melarang gue memanggu EOS CANON 450 D tadi mengumumkan bahwa bandara di Pekanbaru tertutup asap sehingga tujuan dialihkan ke Polonia medan.

“Silahkan menunggu di Waiting Room,tolong jangan jauh-jauh dari pintu keluar karena jika dipanggil tidak ada akan ditinggal.” Petugas Transit Polonia menjelaskan kepada gue dan abang gue. Awalnya gue menggrutu karena penjelasan itu sedikit melecehkan, masa mau ke danau toba dulu sehingga tidak terdengar panggilan untuk naik pesawat. Lalu sepertinya waiting room lebih mudah dimengerti daripada ‘ruang tunggu’.

Ruangan yang disebut waiting room itu berbentuk persegi panjang yang sederhana dan sangat ramai. Ketika duduk di salah satu bagian kursi dekat pendingin ruangan, gue kembali merasa tidak nyaman di bandara yang berbeda. Ruangan itu terlalu bising dan panggilan dari operator untuk naik pesawat pun tidak terdengar jelas. Abang gue berkomentar, tidak kedengaran. Gue menjelaskan dengan spontan bahwa ini terjadi kesalahan sistem tata suaranya. Seharusnya speaker dari mikrofon mengeluarkan suara yang lebih keras daripada bising di ruangan.

“Mas ke jakarta juga?” tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya memulai pembicaraan dengan gue.

“Oh tidak Pak, saya dari Jakarta mau ke Pekanbaru. Tetapi karena asap, tidak bisa ke pekanbaru , jadi ke sini dulu.”

Pembicaraan terus mengalir, bapak itu ternyata berprofesi sebagai HRD Bank Mandiri yang salah satu tugasnya mencari sumber daya ke kampus-kampus, kali ini ke USU. Beliau bercerita bahwa mahasiswa sekarang tidak mempunyai visi, mereka hidup terlalu banyak dengan membaca buku. “Dari seribuan peserta yang saya seleksi di UGM, hanya sepuluhan saja yang lulus. Kebanyakan mereka tidak punya visi, ilmu pengetahuan yang cukup dan TOEFLnya hanya preparation saja. Gue sontak tersentak, tidak hanya UGM saja begitu, ITB dan UI pun punya masalah yang sama dan gue juga mungkin termasuk mahasiswa yang punya visi, mungkin punya tapi belum kuat. Rektor Paramadina pun pernah menjelaskan kepada mahasiswanya, IPK tiga itu wajib tetapi belum cukup. Kalian harus mempunyai visi untuk diterima di perusahaan.

Lalu jika menjadi pengusaha? Pak Heri yang merupakan pengusaha pemilik perusahaan tempat gue kerja praktikpun mengungkapkan hal senada. “Mahasiswa sekarang harus punya visi, tetapi kebanyakan mereka tidak punya itu. Apa yang salah ya? Sistem pendidikan mungkin.”

Tweet this!Tweet this!