Ini Salon di Ibukota Bung
Posted: December 30th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .goodmorning, .life | 2 Comments »Masa orientasi di kampus pada zaman dahulu hingga kini pasti mewajibkan memotong rambut hingga cepak. Untuk sekedar membedakan dengan senior mungkin atau alasan apapunlah.
Gue menunggu hingga detik terakhir berharap Masa orientasi di Bina Nusantara ketika itu tidak mewajibkan potong rambut. Masa SMA, 2 tahun gue botak seperti pentolan korek api. Makanya gue sangat menginginkan melihat diri sendiri berambut panjang. Setidaknya libur 2 bulan ini sudah membuat rambut gue sedikit lebih panjang dan terkesan unik setelah bertahun-tahun cepak. Setidaknya untuk diri sendiri dan nyokap yang terus mengomel untuk potong rambut.
Di minggu malam, setelah briefing tentang Masa Orientasi di kampus, gue ditemani nyokap ke sebuah salon di ITC Cempaka Emas sekalian dengan membeli berbagai perlengkapan tempur untuk keesokan harinya.
Salonnya gue lupa namanya, pokoknya bukan Jhony Adrean aja, itu satu-satunya nama yang gue tahu karena sepertinya kios wajib di mall-mall. Sebelumnya gue tidak pernah kesalon, jadi agak aneh rasanya rambut dicuci dan dihandukin. Gue melihat nyokap sedang duduk membaca majalah di cermin ketika duduk di kursi pemotongan rambut. Saat itu gue terkesan tidak perduli tetapi akan berubah total beberapa saat kemudian. Keberadaan bayangan nyokap gue di cermin menjadi arti penting. Penyelamat hidup gue di saat tidak lama setelah itu.
Rambut gue memang sudah agak panjang dan karena sejarah keturunan yang rumit, rambut gue tidak bewarna hitam pekat. Sedikit kecoklatan atau warna apapun lah itu. Pemotong rambut saat itu juga tidak terlalu penting bagi gue, tetapi ini akan menjadi pelajaran berharga. Beberapa saat kemudian kedua hal ini menjadi amat teramat penting.
Kepala gue dipijet dengan lembut dan pundak gue juga. Bagian leher beberapa kali seperti dibelai. Hari itu pertama kali gue ke salon dan dengan polos menduga itu adalah prosedur resmi di dunia persalonan.
“Kuliah ya mas?”
“Iya.” Pertanyaan seperti itu juga bagi gue sebuah prosedural.
“Kok rambutnya dipotong ya?”
“Gara-gara ospek mas, saya mah juga ngga mau kalo ngga disuruh.”
“Iya nihh, kan ganteng kalo panjang mas. Sayang kalau dipotong.”
“Ini diwarnai ya mas?” pemotong itu kembali bertanya.
“Ngga mas, itu beneran.”
“Wah, bagus yah rambutnya. Aku jadi ngga sudi motongnya mas.”
Mendadak tenggorokan gue tercekat, sebenarnya gue ngga tau rasanya tenggorokan tercekat tetapi karena di novel-novel seperti itu jadi gue ikutan aja. Mendadak ingin pergi dari sini. Ini ibukota bung, pikir gue. Tempat dimana segalanya bisa berbeda dari sebuah kota di Sumatra. Ini salon bung, tempat yang pasti berbeda dari tukang cukur langganan gue dulu dengan tidak memakai prosedural.
“Ini salon di ibukota bung.” Begitu teriak gue, entah mengapa seperti itu di dalam hati. Bermaksud menenangkan diri. Gue melihat nyokap gue sedang memegang Handphone di cermin. Sedikit lebih lega.
Beberapa saat setelah gue mulai menenangkan diri ada seorang bapak duduk di sebelah gue dan mengajak ngobrol si pemotong rambut yang ternyata gemulai itu. Gue mulai memperhatikan bentuk dan rupa si pemotong itu dari cermin sambil memantau keberadaan nyokap.
Tiba-tiba bapak disebelah itu mengajak gue ngobrol.
“Mas.”
“Hah, ya?”
“Kok rambutnya dipotong? Kan sayang.”
Kembali mengingat kata-kata novel, tenggorokan gue tercekat. Gue kembali melihat di cermin untuk kembali memastikan nyokap gue ada disana. Ternyata ada dan sedang tersenyum lebar. Nyokap gue bisa-bisanya tersenyum melihat anaknya dikepung dari dua arah seperti ini.
“Gara-gara ospek mas, saya mah juga ngga mau kalo ngga disuruh.” Gue hanya bisa mengulang saja.
“Ngga usah aja dipotong, begini kan keren.”
Gue tidak bisa berbicara apa-apa dan hanya tersenyum tipis dan kecut. Kemudian gue hanya pasrah si pemotong rambut menyentuh, memegang dan membelai kepala gue sedemikian ruma dan sedemikian sehingga gue terus memantau nyokap gue di cermin. Nyokap gue adalah kartu as disaat keadaan darurat. Seandainya tiba-tiba gue disekap, diajak kemana-mana atau kejadian-kejadian tidak menyenangkan, gue tinggal teriak dan nyokap gue yang telah susah payah membesarkan anaknya pasti bereaksi dengan tepat.
Akhirnya setelah berbagai senyuman formalitas menjawab dan menanggapi si pemotong itu, rambut cepak gue kembali muncul. Secepatnya gue beranjak dari kursi pesakitan itu dan merapat ke arah nyokap. Ibu memang tempat menyandarkan diri paling tepat ketika kondisi mengancam masa depan sekalipun
DI perjalanan pulang, gue cerita secara detail segalanya.
Nyokap gue tertawa terbahak-bahak.
Gue bengong.
Tweet this!