Posted: March 19th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .think | 1 Comment »
Malam itu Gue mendapat gambar potongan kertas ujian seorang anak kelas satu SD dari teman Gue. Pertanyaan nomor dua membuat Gue merasa miris.

Posted: February 24th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life, .think | 1 Comment »
Skandal Bank Century, Resuffle kabinet, atau kasus pembunuhan dengan tersangka Antasari.
Itu berita di televisi malam itu disamping ditariknya banyak mobil toyota dimana-mana. Salah satunya karena pedal gas lengket kemudian berhubungan dengan istilah clash action yaitu ganti rugi gara-gara kerusakan itu.
Berita yang sepertinya hebat tetapi entah kenapa rasanya biasa, membosankan karena orang-orang yang terlibat tidak dekat dengan masyarakat, atau setidaknya diri gue sendiri. Siapa gue dibandingkan Pak SBY, Sri Mulyani atau Jaksa Luiz di Amerika Serikat. yang mengajukan tuntutan yang sepertinya beristilah clash action.
Tetapi berbeda dengan mahasiswa di beberapa daerah seperti Sumatra Selatan atau Jakarta. Gue dan mereka sesama mahasiswa. Mereka berdemo, gue tidak.
Ada yang saling dorong dengan polisi. Sepertinya itu biasa kali ya?
Ada yang bakar-bakar kertas apa itu, sepertinya kertas pemilu kalau di televisi. Yah kembali biasa, paling sebelumnya bakar ban, kertas lebih hemat sepertinya dari ban.
Ada yang membawa hewan, kambing dengan topeng pejabat. Agak kreatif daripada bakar-bakar karena lebih merepotkan mencari dan membawa kambing daripada ban mobil.
Ada yang membawa pakaian dalam wanita, lebih spesifiknya BH atau kutang atau apa itu namanya. DI negara ini, kalau menyebut hal-hal seperti itu harus minta maaf dulu, gue ngga ngerti kenapa dan karena ngga ngerti jadi ngga minta maaf dulu. Wah ini bener-bener baru dan membuat gue beralih total dari laptop ke televisi.
Mereka membawa pakaian dalam wanita itu dalam berdemo, katanya sebagai lambang karena pemerintah atau KPK lambat dan tidak jantan dalam menyelesaikan kasus skandal Century. Di televisi mereka semua pria, pertanyaan gue dua: dari mana dapat benda itu dan bagaimana kalau kebetulan yang terkait berkelamin wanita?
Yah pertanyaan selanjutnya lebih penting, apakah tidak ada bentuk penyampaian aspirasi yang lebih intelek? Setidaknya menulis artikel di koran nasional seperti zaman Soe Hok Gie atau membuat karya seni seperti lagu, puisi dan pantun sekalipun sepertinya lebih baik daripada membawa pakaian dalam wanita. Juga marah-marah dan dorong-dorong dan bakar-bakar.
Lagian gue pengen bertanya kepada para pejabat itu, demo seperti itu berpengaruh ngga sih? Kalau gue membayangkan jadi pejabat, keknya gue cuma ketawa-ketawa aja sama rekan sejawat.
Jangan-jangan mereka bener-bener cuek lagi. Percuma sepertinya para mahasiswa atau pendemo lainnya marah-marah dan dorong-dorong dan bakar-bakar. Tetapi setidaknya mereka melakukan sesuatu ya. Mereka berani. Itu kata beberapa orang yang mencoba berpikir positif amat.
Ah lebih baik diam daripada cari BH buat demo. Kata gue sih gitu.
Posted: December 30th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .think | 1 Comment »
Pada awalnya gue hanya ingin belajar jurnalistik tetapi malahan menjadi wartawan.
Awalnya ketika semester ganjil dimulai, ketika anak baru akan masuk dan berkuliah. Teman-teman Mahasiswa berdemo, mereka mempertanyakan uang kuliah yang naik. Mereka mempertanyakan sistem ujian mandiri yang perlahan melahap porsi SPMB. Mereka berteriak serta membawa berbagai atribut karena uang. Begitu pikir gue ketika melihat dari kejauhan bersama teman gue si fotografer majalah kampus.
Setelah cukup reda dan mulai bubar, gue mencoba mencari orang untuk diwawancara. Satu per satu menolak. Alasan beragam mulai dari ada kuliah, sedang ada urusan dan lainnya. Ada juga yang menolak untuk diwawancara.
“Jangan gue deh, yang lain aja. “
Gue bersama fotografer tidak putus asa dan pada akhirnya mendapat nama-nama dibelakang layar. Nama-nama yang beberapa malah membuat gue kaget. Ada yang tidak pernah terdengar sebelumnya atau ada yang dari jurusan yang tidak begitu vokal dalam berapresiasi selama ini.
Jadilah gue berkeliling, mencari berbagai nama dan pastinya belajar jurnalistik untuk membuat berita.
Beberapa orang diantara nama-nama itu sangat sulit untuk dibuat janji wawancara. Ada yang beralasan, ada yang menolak dan ada juga malah menyangkal menjadi bagian dari demonstrasi. Akhirnya dengan sedikit campur tangan relasi dari pemimpin redaksi, gue mendapat wawancara dengan 2 orang.
Satu diantaranya berapi-api menentang rektorat, sedikit mencaci malahan. Dia beranggapan para petinggi kampus tidak tanggap dengan kondisi sosial di masyarakat. Ada kecendrungan korupsi serta mengutuk transparansi. Yang kedua sedikit tenang dan malah menekankan perlunya mahasiswa tanggap terhadap situasi terkini, itulah motivasi dia mendalangi demonstrasi.
Sedikit lebih mulia pada awalnya, tetapi tetap ada bagian mencaci rektorat.
Pemimpin redaksi gue mengatakan harus mewancara rektorat, bagian keuangan serta jika perlu masyarakat sekitar. Agar kebenaran setidaknya lebih akurat dan tulisan tidak memihak pihak manapun. Gue langsung membuat janji wawancara dengan orang-orang penting itu dan sangat mudah untuk menentukan tanggal serta tempat. Tidak seperti mahasiswa yang agak bertele-tele.
Pihak rektorat menyatakan kenaikan itu memang diperlukan untuk kelangsungan kampus. Wakil rektor yang gue wawancara juga mengatakan krisis ekonomi juga berpengaruh dan mau tak mau harus mencali celah untuk pendapatan baru. Ini semua juga untuk mahasiswa. Ketika ditanya masalah demo yang dilakukan, beliau hanya tersenyum dan mengatakan itu sebagai proses pembelajaran untuk mahasiswa.
Pihak rektorat juga menambahkan, kualitas kampus tidak menurun karena ujian mandiri. Malahan ujian mandiri lebih baik untuk menilai kemampuan calon mahasiswa dibanding SPMB. Kebijakan ujian mandiri dinilai demonstran menurunkan kualitas dan sekarang gue bingung darimana mereka berpendapat seperti itu.
Bagian keuangan lebih menjabarkan lagi mengapa kampus membutuhkan uang. Subsidi dari pemerintah tidak naik malah cenderung menurun ditengah harga yang terus dikatrol naik oleh kondisi ekonomi.
“Yah begitulah dek, kita harus banting tulang, putar otak untuk menyisiati situasi ini.” Begitu kira-kira akhir dari wawancara gue.
Capek berkeliling untuk wawancara, gue ketiduran di mesjid ketika menjelang shalat jum’at. Sebenarnya tidur merupakan rutinitas, tetapi kali ini sedikit lebih nyenyak dan untungnya tidak mendengkur. Ketika khutbah sedang berlangsung, tiba-tiba gue tersadar.
“Bapak-bapak sekalian, sekarang pendidikan hanya untuk orang kaya saja. Biaya masuk kuliah sekarang puluhan juta. Lebih baik kita terus mendekatkan diri kepada Allah.”
Walaupun hubungan antara biaya kuliah dan mendekatkan diri kepada Allah terkesat absurd, gue lebih menyoroti tanggapan ustad tentang biaya kuliah atau uang masuk kuliah. Masyarakat ternyata memandang permasalahan ini serupa dengan mahasiswa. Mereka keberatan dengan kenaikan dan protes.
Ternyata memang benar, dua orang yang gue wawancara juga senada dengan ustad shalat jum’at. Malahan salah satunya, pemilik rumah makan padang, menyoroti ujian masuk sebagai penurunan kualitas.
Pandangan berbeda kembali gue dapatkan ketika wawancara dengan salah satu alumni.
“Biaya pendidikan memang mahal, memang harus begitu. Di amerika dan jepang atau eropa, calon mahasiswa bekerja dulu sebelum kuliah. Hal ini jarang saya temui di Indonesia.” Gue merasa miris mendengarkannya. Entah mengapa sekarang malah cenderung pro terhadap rektorat, bukan mahasiswa atau masyarakat pada umumnya.
Semua wawancara rampung dan gue kebingungan. Setelah berkonsultasi dengan pemimpin redaksi, gue menulis apa adanya saja. Merangkai hasil-hasil wawancara serta data. Revisi beberapa kali dan akhirnya tulisan itu selesai.
Tulisan itu memiliki kesan kuat berpihak kepada rektorat. Terbukti beberapa mahasiswa banyak yang protes atau sekedar berkomentar miring, majalah kampus sudah dikendalikan oleh pihak ‘atas’. Malahan ada mahasiswa yang terang-terangan datang ke sekretariat kami dan ‘mengamuk’. Dia marah-marah dan dengan lantang mengatakan seharusnya kami membeberkan yang sebenarnya. Seharusnya kami tidak memihak rektorat dan seharusnya kami itu mahasiswa.
Pemimpin redaksi gue, kebetulan salah satu mahasiswa senior tingkat empat plus-plus, dengan tenang menanggapi dengan dingin, tajam tetapi tetap ramah. Gue sebagai penulis sempat disemprot tetapi dibela dengan baik oleh bukti-bukti wawancara.
Ada juga mahasiswa yang mendukung tulisan itu, dia memberi kredit lebih untuk kebenaran yang mungkin dapat menyadarkan mahasiswa. Hal itu membuat gue tersenyum dan menyadari bahwa membuat berita itu banyak manfaatnya. Walaupun sulit untuk mengungkap kebenaran dan tidak memihak kepada siapapun.
Yah, termasuk hidup yang layak seperti gue terima sekarang dari mengejar berita. Tidak hanya uang, batin gue cukup puas melihat respon tulisan-tulisan gue.
Posted: December 17th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .think | No Comments »
Kembali ke sebuah dunia dimana setan bisa terlihat dengan mudah dan konyol disana. Kali ini gue bertemu dengan makhluk itu dengan kondisi emosinya yang agak terguncang. Malam menjelang pagi kala itu, matanya merah dan sedikit gelap. Ada garis-garis hitam dibawah matanya, seperti tanda manusia yang kurang tidur.
“Gue kesal” Setan mengumpat.
Kali ini gue lagi memainkan blackberry, “Kenape lu?”
“Kurang tidur gue.”
“Lu tidur juga ya?”
“Ya iyalah, emangnya gue Tuhan apa. “
“Haha, iya deh bangsa lu tahu Tuhan itu lebih daripada bangsa gue.”
Gue kembali BB-an dan setan pun merasa tidak diacuhkan, “Eh, tanyain dong kenapa gue kurang tidur.”
Membungkus BlackBerry ke dalam sarungnya, “Kenapa emangnya.”
“Itu gara-gara petasan yang ngga berhenti-berhenti.”
Gue melihat kalender di Bb, tanggal 17 desember dan masih beberapa hari lagi untuk tahun baru. “Petasan apa malam-malam gini?”
“Hah, lu ngga tau sekarang tahun baru islam? “ Setan tertawa terbahak-bahak, merasa puas dan dendamnya seakan terbalas.
“Eh, gue nanya petasan apa malem-malem gini, bukan ngga tahu sekarang tahun baru islam.” Merasa cerdas untuk mengeles.
“Haha, iya-iya. Ngga tau tuh, orang-orang malah hidupin petasan. Dulu juga pas idul adha gue juga ngga bisa tidur. Berisik tau takbirnya.” Gue sebenarnya merasakan hal yang sama seperti setan, terkadang takbiran tidak niat itu memang menghilangkan nilai religinya.
“Gue tanya buyut, jaman dulu ngga ada begituan sih. Tapi bagus katanya, berarti manusia makin ngga bener. “
Gue hanya menghela nafas saja, mungkin apa yang dikatakan makhluk gagal satu ini benar juga. Saat gue sedikit melamun dan berpikir, setan menyela, “Tapi kalo untuk yang satu ini mending manusia bener dah. Sakit kuping gue.”
“Hahaha. Kuping lu kepanjangan sih.” Gue tertawa sambil kembali BB-an.
“Ye, dasar dah lu manusia. Eh itu yang namanya blackberry ya?”
“Iya, kenapa? Tau juga lu ya.”
“Haha tau dong, kemaren bokap gue bahas dan dia merasa senang. Blackberry bisa bikin manusia lupa ma tuhan.”
Mata gue beralih dari BB ke muka setan yang ngga ada bagus-bagusnya itu.
“Maksud lu tan?”
“Lu pasti belum shalat isya kan? Gara-gara BB?”
Gue langsung masukan blackberry, istighfar dan bersiap ke dunia kembali. Sepertinya memang harus shalat dan melupakan BB sejenak.
“Eh.ehh…lu jangan shalat!”
“Yee, bener kata lu tuh. Shalat dulu gue.”
“Ntar gue dimarahin bokap lagi, masa gara-gara setan manusia malah jadi shalat?”
“Haha like this!” Gue meninggalkan setan yang lagi mencak-mencak untuk shalat.
Semoga tahun baru, shalat gue makin bener.
Posted: September 15th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .think | 2 Comments »
McDonald dan ampera merupakan dua franchise yang memiliki satu kesamaan, sama-sama gratis dalam pengambilan sambel atau saus. McDonald mengantisipasi pemborosan dengan cara cerdas : menyediakan tempat saus berukuran kecil. Sepertinya warung nasi ampera juga berpikiran sama, menyediakan tempat sambel yang ukurannya sedikit lebih besar dan berbahan keramik. Entah lebih cerdas atau memang mumpung gratis, para konsumen di restoran itu malah mengambil saus atau sambal sebanyak mungkin dan meletakannya di piring atau kertas karton jika sedang di McDonald’s. Tidak semua begitu memang.
Gue juga mengambil sambel agak banyak ketika ditraktir di ampera, kenikmatan gepuk,telur atau pergedel jagung akan bertambah jika ditoel-toel dengan sambel yang berlimpah.
Kemudian Dian bercerita, di Belanda harga sambel sebotol kecil beharga tiga puluh ribu rupiah. Dian mendapat cerita dari Dion, kakaknya yang pernah bersekolah di belanda. Sepertinya cerita itu mengalir ketika gue mengambil sambel di meja penuh lalapan. Dion yang duduk disebelah Dian atau tepat didepan gue menunjukan ukuran kira-kira dua puluh sentimeter. Sebuah harga yang mahal dan tidak masuk logika jika mendengarkannya ketika sekitar 5 menit yang lalu melihat sambel melimpah dan mengambil sebanyak-banyaknya. Dion pun mengeluh sikap orang-orang disini yang membiarkan begitu banyak sambal terbuang sia-sia.
Ketika sambelnya sudah habis, Dion memintanya dari gue dan mengambil benar-benar secukupnya dari piring gue yang tinggal sisa-sisa makanan saja.
Sentilan itu terjadi di bulan puasa. Di bulan yang kata semua orang penuh berkah ini, pahala berlimpah ruah. Lebih banyak pastinya dari sambel di semua cabang ampera jika ditransfer ke dalam sambel. Mengapa kita tidak mengambil sebanyak-banyaknya? Mungkin karena pahala itu tidak kongkrit, semua dari cerita turun temurun dan sangat jelas terdapat di Al-Qur’an. Seandainya pahala itu terliat jelas atau ada meteran seperti di game RPG, mungkin semua orang berlomba-lomba mengumpulkannya. Apalagi jika jumlahnya berlipat ganda.
Bisa juga sentilan itu membawa imajinasi gue kearah mental bangsa. Kekayaan yang berlimpah menyebabkan efesiensi yang buruk dalam menghasilkan produk dan pemakaian yang tidak cerdas. Hubungannya apa dengan sambal di ampera? Entahlah juga. Memikirkan bangsa ini membingungkan, mungkin sudah banyak analogi dan sepertinya semua masih dalam taraf “mengamati” dan “menimbang” jika temanya memperbaiki bangsa ini atau setidaknya membuatnya menjadi lebih baik.
Posted: August 7th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .cerpen, .think | 6 Comments »
Rina sayang Bang Yadi
Kalimat itu tertulis dengan spidol warna hitam di salah satu sofa rumah Rico. Sofa bewarna kuning itu merapat dengan dinding dan tepat diatasnya ada foto seseorang, almarhumah Bang Yadi. Mereka bertiga bersaudara, Yadi dua tahun lebih tua daripada Rico dan Rina yang duduk di kelas lima SD ketika Rico skripsi. Wajah Yadi terlihat gagah di foto itu, badannya proposional semakin memperlihatkan keunggulan fisiknya. Tidak hanya itu, dia sangat santun dan penyayang keluarga apalagi dengan adiknya yang berbeda hampir sepuluh tahun , Rina. Setiap akhir pekan, Yadi pasti berbagi tawa dengan Rina di kamar penuh warna merah muda dan berbagai macam boneka.
Bagi Rina dan juga Rico, Yadi adalah sosok kakak yang sempurna walau apapun kekurangannya. Sepertinya juga untuk kedua orang tua mereka. Seperti itu terus selama hampir dua puluh tahun dari Rico lahir sampai Yadi mesti bertugas sedikit ke pelosok negeri sebagai seorang pegawai negeri. Cuma dua hari, sabtu dan minggu bahkan terkadang hanya hari minggu saja Yadi berbagi bersama keluarganya. Itu sepertinya cukup untuk sosok kecil Rina dan bahkan menanti minggu berikutnya ketika Yaris biru Yadi perlahan meninggalkan rumah di Minggu malam.
Rico pun masih ingat jelas di kamar merah muda Rina ketika Yadi masih ada. Walaupun masih memakai kemeja lengan panjang dan kaos kaki juga belum dilepas, Yani seakan menghapus penat berjalan jauh ketika adik kecilnya memamerkan Boneka Teddy Bear barunya.
“Lucu ya Bang,tapi boneka Rina belum punya nama nih.”
“Hmm, apa yah…Kalau Ronaldo gimana?”
“Ih bang yadiii, ini kan bukan pemain bola. Gak mauu.”
“Taufik Hidayat?”
“Nggaa mauuu. Yang lucuu namanya.”
“Kily?” Ucap Yadi sambil tersenyum. Kily dari Kily Gonzalez, mantan sayap kiri Valencia. Seribu nama pemain bola mungkin lebih mudah daripada satu nama boneka saja. Lalu mengapa tidak memikirkan nama boneka dicari dari nama pemain bola? Begitu pikir Yadi untuk adikknya tersayang.
“Okee..Kili-kili. Namanya lucu, tuh kan bisa nemunya.”
Rico hanya terdiam melihat Abang dan Adiknya, satu sisi dia salut dan disisi lainnya dia ingin terus belajar untuk menjadi Yadi lain bagi Rina. Setelah mengantar Rina tertidur, sekarang giliran Yadi dan Rico juga kedua orang tuanya. Mereka mengobrol sampai puas hingga larut malam, apapun diobrolin bahkan sampai tak jarang tertawa bersama.
“Sekarang semua terasa berbeda, apalagi ketika hari-hari pertama Bang Yadi pergi. Aku merasa rumah ini sepi.” Rico tiba-tiba berucap seperti itu ketika temannya, Dio, melihat tulisan spidol hitam itu.
“Sekarang Rina bagaimana?”
Pertanyaan itu tidak dijawab, Rico malah bercerita.
Ketika itu Kili-kili hilang, entah mengapa bisa hilang. Aku juga tidak mengerti. Boneka teddy bear coklat itu sangat disayangi Rina, bahkan ketika gosok gigi di kamar mandi ada Kilinya Rina. Ketika makan, Kili pun ikut makan bahkan ketika diajak shalat, Rina pun ikut mengajak beruangnya. Hari-hari dilewati Rina dengan cemberut, banyak usaha sudah dilakukan termasuk membelikan boneka baru. Semua sia-sia karena Kili-kili hanya satu untuk Rina.
“Sialnya Dio, aku tidak bisa menemukan boneka yang sama.” Celetuk Rico.
Cemberut dan sedih, begitulah Rina dalam dua-tiga hari. Harapan untuk mengembalikan keceriaan itu hanyalah Yadi, mungkin cuma Yadinya Rina saja yang mungkin dapat menghilangkan muka cemberut Rina. Cemberut tapi tetap lucu untuk aku. Bang Yadi pulang dan tidak kaget melihat Rina cemberut menyambutnya saat itu.
“Rina kenapa?”
“Kili-kili bang.” Rina mulai terisak.
“Kenapa dengan kili-kili kita?”
“Ilaangggg. Gak ada lagii.”
Aku,mama juga papaku terdiam saja melihatnya, takut Yadi pun tidak bisa membawa keceriaan kembali. Aku tidak mendengar apa yang diucapkan bang Yadi seterusnya, bagiku semua seperti menonton film yang tidak ada suara pemerannya. Aku hanya melihat gerak tubuh dan air muka bang Yadi dengan sabar bercerita dengan Rina. Raut muka tulus itu mungkin seakan membuat teliga ini tuli. Apalagi muka Rina lambat laun berubah dan ada senyum kembali.
“Rina udah makan?” suara Bang Yadi seakan muncul kembali.
“Belum Bang.”
“Makan dulu ya, Abang lapar juga nih.” Rina hanya mengangguk.
Makan malam keluarga kali ini, akhirnya aku tidak melihat perubahan kembali. Rina kembali ceria walau beruang coklat itu entah kemana perginya. Selama ini aku melihat perubahan yang tidak menyenangkan, Rina cemberut dan orang tuaku pun pusing melihatnya.
Aku pikir kepergian Yadi akan membawa kesedihan mendalam untuk Rina. Apalagi ketika membaca cerpen kotak pos di salah satu surat kabar. Kotak pos becerita tentang seorang anak kecil yang selalu berharap ibunya kembali mengimkan kartu pos, namun sudah lama kotak itu kosong. Kotak itu akan terus kosong karena sang ibu telah tiada. Pernah sang ayah mencoba menulis dan menipu buah hatinya. Tetapi anak itu malah marah karena tulisannya berbeda, bukan tulisan ibunya. Tidak mungkin rasanya bagi keluarga di novel itu menceritakan kematian kepada seorang anak kecil.
Begitu juga pikirku ketika melangkah meninggalkan kuburan Bang Yadi.
Akhir pekan tanpa Bang Yadi pun akhirnya ada. Minggu pagi, Rina bertanya kepada semua isi rumah. Dimana sekarang Bang Yadi? Kita semua kompak tanpa kesepakatan membuat tipuan-tipuan agar bang Yadi seakan masih ada di dunia. Begitu seterusnya sampai alasan itu habis. Ketika kembali Rina bertanya, kita semua terdiam. Hari itu tidak ada alasan lagi, semua habis karena Rina semakin pintar dan detail bertanya.
“Bang Yadi sebenarnya tidak akan pulang lagi ya? Pertanyaan Rina yang semakin membuat Aku dan orangtuaku terdiam.
Rina berlari ke lantai atas, lantai dimana satu-satunya foto Bang Yadi ada. Aku lalu menyusul keatas begitu juga Mama dan Papaku. Melihat Rina memandangi foto Bang Yadi dari belakang membuat kami seakan ingin memeluk tubuh kecil itu untuk menghiburnya dan menjawab dengan sederhana. Jawaban sederhana tentang kematian.
Rina memanjat sofa kuning untuk mencium foto abangnya lalu dikeluarkan spidol hitam untuk menulis sesuatu di sofa. Aku mendekat dan memutar tubuh Rina, berpikir untuk mengusap matanya. Tetapi air mata tidak keluar, tidak seperti ketika Kili-kili hilang. Malahan Rinalah yang tersenyum pada kita lalu cemberut kembali.
“Lapar Bang Rico, makan.”
Mama dan Papa mengiringi langkah Rina menuju ke bawah lalu ke meja makan. Aku melihat sekilas tulisan Rina di sofa kuning. Tulisannya sangat halus dan jelas untuk ukuran orang yang seharusnya bersedih. Entah Rina mengerti atau tidak tentang kematian, tetapi dia seakan menerima Bang Yadi tidak kembali lagi.
Rico tersenyum kepada temannya setelah cerita itu selesai. “Lama kali kau jawab pertanyaan aku Co?” Rico hanya tertawa mendengar pertanyaanku. Dari bawah terdengar suara Rina. Aku pun bermaksud pamit sekalian ke bawah.
“Rina sayang.” Rico mencium kening adiknya.
“Bang Rico, Rina baru beli boneka.
“Wah bonekanya bagus ya.”
“Tapi tidak ada namanya.”
“Bubble saja gimana?” Rico dengan cepat mencari sebuah nama. Aku yakin itu Bubble dari Micheal Bubble. Rico sangat suka musik dan dia juga beranggapan membeli bajakan itu tidak menghargai karya seni.
“Iyaaa..namanya lucuu..Kata mbaknya, boneka ini tinggal satu.”
Aku tersenyum, begitu juga Rico dan juga Mamanya Rina yang kebetulan juga ada di dekat pintu keluar. Setelah pamit dan dalam perjalanan, aku masih tersenyum.
***
Sasana Budaya Ganesha Bandung begitu ramai ketika wisudaan sebuah Institut di kota Bandung, begitu juga dengan wisuda ketika status mahasiswaku ‘dicabut’. Selesai acara wisuda, aku menulis sesuatu diatas toga dengan spidol perak.
Dio sayang Mama.
Senyum masih tidak hilang sejak beberapa hari yang lalu ketika aku mendengar cerita dari Rico. Seperti anak kecil atau siapapun juga, aku berimajinasi mamaku bisa membaca tulisan itu. Walaupun entah darimanapun.
Posted: July 22nd, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .think | No Comments »
Liburan memang membuat pola makan berubah dan keadaan perut juga berubah, buang air besar alias boker menjadi keteraturan untuk gue. Itu berita baik jika yang keluar keras dan besar, tapi ketika encer? Bencana. Pagi hari itu, pagi dimana berita refund tiket MU ada di mana-mana, untungnya gue tidak mendapat bencana itu di kamar mandi. Jadi teringat romantisme ala lelaki di komik Crayon Shincan. Ketika Nohara dan kakek tukang kayu bersalaman dengan mata berbinar hanya karena mereka setuju dua hal, jika buang air itu bukan bencana dan dapat dibilas dengan cepat.Gue merasa salut, orang macam apa pengarang Shincan yang dapat menghubungkan romantisme, laki-laki dan buang air besar?
Crayon Shincan memang spesial menurut gue, ceritanya bisa dikatakan sederhana dan dapat dibuat menarik. Seperti kisah cinta antara kakek tukang kayu dan suster senior di sebuah rumah sakit dengan konsultan seorang anak TK, Shincan. Ibu Guru Yoshinaga dengan dandanan menor juga pemabuk memiliki ambisi cinta yang mendalam. Kemudian guru TK ini bertemu dengan seorang dokter tulang yang lebih tertarik dengan tulang daripada dada wanita sekalipun. Tokoh dan cerita yang sederhana namun kreatif menurut gue dibandingkan seorang laki-laki muda tampan, kaya dan punya karir bagus berpasangan dengan wanita muda yang cantik nan seksi seperti yang biasa ada di sinetron Indonesia. Sedikit dipaksakan malahan, mana ada tukang parkir secantik Revalina?
Selain tokoh-tokoh yang sederhana, Shinchan juga bercerita tentang kehidupan sehari-hari yang dekat dengan masyarakat walaupun gue tidak tahu persis kehidupan warna negara matahari terbit itu. Memang tidak mungkin banyak anak menjadikan penis mereka seperti belalai gajah dengan gambar kuping gajah diatasnya, tetapi kehidupan Shincan yang bermain seperti anak-anak pada umumnya, petak umpet atau sekedar kejar-kejaran menjadi hal yang dekat dengan kehidupan. Misae, ibunya Shincan yang merupakan ibu rumah tangga yang biasa dengan kesukaan akan obralan dan gosip. Semua terasa menjadi hal-hal yang bisa ada di sekitar kita. Tidak seperti anak-anak muda dengan mobil-mobil mewah yang banyak di serial pendek di negara tercinta ini. Apalagi latar belakang tempat di rumah mewah atau jalanan ibukota nan bersih kala itu membuat semakin jauh dari sebagian besar masyarakat.
Pesan moral pun menjadi kelebihan tersendiri bagi penonton kartun Shinchan. Kazao, anak TK yang menganggap dirinya elit dan terkadang merasa levelnya diatas Shincan. Di salah satu episode, Kazao bersama teman-teman elitnya juga berjalan sambil berbicara hal yang elit juga. SD Swasta elit, kelas bahasa inggris, kursus piano dan sebagainya. Elit gue gambarkan sebagai sesuatu yang ekslusif dan mahal. Semua berjalan dengan anggun dan berpakaian rapi, walaupun mereka semua murid TK dan juga berlebihan sebenarnya. Kemudian Shincan datang dengan pakaian ala gozillanya yang pantatnya terlihat jelas karena dilubangi. Kazao cemas dengan gengsinya sebagai anak elit tercemar.Dia terpikir keanggunan dan reputasinya terganggu dengan mempunyai teman yang terlihat aneh seperti itu. Kazao pada akhirnya tidak mengakui Shincan apalagi menggubrisnya, dia terliahat melawan kata hatinya. Selanjutnya, Kazao diceritakan tidak lulus ujian masuk SD Swasta Elit karena sakit perut dan diperparah dengan buang air ditengah teman-teman elitnya, hal yang biasa untuk anak TK tetapi hal yang memalukan di cerita kala itu. Ditengah keadaan depresi, Kazao bertemu dengan Misae dan dibantu untuk bersih-bersih di rumah Shincan. Setelah itu, Kazao mengajak Shincan kembali untuk bermain dan Shincan menerima begitu saja tanpa mengingat kejadian sebelumnya. Agak sulit menjelaskan rincian visual dengan verbal memang, tetapi kata-kata terakhir di hati Kazao“Temanku hatinya elit” dapat menjelaskan persahabatan dan ketulusan.
Sinetron di indonesia atau film pendek menurut gue juga mempunyai pesan moral. Entah karena jarang menonton dan skeptis dengan sinetron, gue merasa pesan moral itu tidak terlalu mengena di hati. Memang tidak bisa dibandingkan begitu saja antara sinetron dan film kartun, tetapi hal-hal itu sama-sama tontonan. Sama-sama hiburan gratis di tengah masyarakat, tetapi tontonan tidak sederhana dan tidak dekat dengan banyak masyarakat. Ada upaya untuk mengangkat cerita tentang kemiskinan, tapi artis yang cantik dan putih tidak menggambarkan apa adanya. Pernah juga sala satu sinetron tidak memakai aktor yang ganteng, tetapi mana ada anak tukang sapu ke sekolah dengan sepatu dan tas adidas?
Kedekatan dan kesederhanaanlah yang menjadi harga mahal untuk gue buat tontonan di Indonesia. Merasa menjadi seorang ahli, guemengatakan Laskar Pelangi memiliki itu, tokohnya sederhana dan bisa ada di kehidupan banyak orang. Setidaknya lebih realistis dibandingkan anak tukang sapu berhati emas di ibukota tetapi memakai sepatu adidas juga celana dan baju gaul. Pesan moralnya begitu kuat masalah pendidikan dan ada kritik sosial untuk siapapun, terutama pemerintah yang terhormat sekali. Berimajinasi kembali ke Jepang, Shincan merangsang arah pikiran gue untuk mengatakan dunia hiburan juga dapat menunjang kemajuan suatu bangsa. Film kartun seperti Shincan memperlihatkan suatu sisi masyarakat yang dapat dipelajari siapapun untuk masukan atau malah kritikan. Terkadang kartun juga dapat memperkenalkan suatu bangsa. Berlebihan atau tidak siapa yang tidak tahu Kimono, Ikebana, kue Mochi, Tokyo, Upacara Minum Teh, Bunga Sakura,Gunung Fuji dan Shinkansen? Semua bisa disampaikan lewat film kartun seperti Shincan. Penyampaian tentang ‘indah dan kayanya’ Indonesia bagaimana? Rasanya lebih terkenal Malaisya dan Singapure di Asia Tenggara dengan slogan cerdas masing masing, ‘Malaisya Trully Asia’ atau ‘Uniquely Singapura’. Bahkan maskapai penerbangan thailand memakai musik seperti gamelan untuk iklan mereka. Hongkong juga memakai desain grafis yang mencerminkan dengan kuat kebudayaannya.
Sedangkan kita? Visit Indonesia 2008. Logonya luar biasa tetapi menurut gue hanya sekedar itu saja. Celebrating 100 nation awakening. Apa hubungannya mengunjungi indonesia dengan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional?
Loh kok sampai kesana ya? Pikir gue ketika keluar dari kamar mandi. Bangsa maju itu bisa terlihat dari sikap mereka terhadap segala sesuatu, termasuk hal-hal yang terlihat kecil dan detail.
Posted: July 16th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .think | No Comments »
Minum kopi di pagi hari sudah menjadi kebiasaan gara-gara kuliah di sebuah Institut di kota Bandung. Kebijakan sang ketua program studi mengenai anak tingkat tiga harus masuk pagi menjadi biang keladi. Sewaktu gue tingkat dua juga begitu, terus masuk pagi dan itu kenyataan yang menyebalkan, 3 tahun selalu masuk pagi. Kopi pun menjadi membantu kalau ada pertandingan sepakbola, baik itu di Televisi atau di Football Manager 2009. Ketika liburan juga seperti itu, kopi menjadi menu wajib di hampir setiap hari, setiap pagi.
Pagi kali ini tidak ada kopi lagi, Nestcafe Moccacino yang gue beli seminggu lalu habis. Akhirnya ditengah kabut atau bisa dibilang asap pagi hari, gue membeli kopi. Toserba dekat rumah tutup dan gue mengarahkan Honda Supra ke arah yang lebih jauh, mencari Toko yang ada menjual kopi. Ada satu toko yang buka di hampir ujung jalan seribu ruko ini. Kenapa disebut seribu ruko? Karena sepanjang jalan ada ratusan ruko, dulu bokap pernah menghitung dan jumlahnya mencapai 237 ruko. Lalu kenapa disebut seribu ruko? Supaya mudah saja dan orang juga tidak pernah berpikir untuk membuktikan jumlahnya.
Masuk ke toko itu, yang pertama kali terpikir adalah pencahayaan yang sangat kurang. Gelap sekali dan memberi kesan suram, tidak ada semangat untuk pelanggan. Berkeliling sekali, gue tidak menemukan kopi di tengah toko yang berantakan. Ada timtam yang berdekatan dengan rinso anti noda. Bagaimana tidak sulit mencarinya. Ibu penjual itu mendekat ke arah gue, tetapi sikap dan gerak tubuhnya tidak menunjukan untuk memberi bantuan atau sekedar bertanya, “Cari apa?”. Gue akhirnya bertanya tentang keberadaan bubuk penghilang kantuk itu.
“Yang mana?”
“Nestcafe tubruk itu.” Gue sambil menunjuk satu jenis diantara banyak jenis yang tidak teratur. Ibu itu hanya menghempaskan satu paket dan menyuruhku untuk memilih sendiri berapa jumlahnya. Pelayanan prima sekali, pikirku mulai kesal. Setelah mengambil beberapa buah, gue berjalan menuju tempat ibu itu untuk membayar.
“Tujuh ribu.”
Gue meletakan 2 lembar lusuh 5 ribu dan dia membalas dengan 3 lembaran yang sedikit lebih lusuh. Tidak ada yang terlihat salah tapi tidak untuk bagian ‘terdengar’. Satu kata pun tidak keluar dari mulut pelit ibu penjual itu, wajahnya sudah tua dan kusam dengan memakai kaos putih ketat yang biasa dipakai muda-mudi untuk sedikit memamerkan tubuh muda mereka menambah image jelek dari gue. Apalagi tidak sedikitpun matanya mengarah ke gue.
Sedikit kemasa lalu, ketika belanja ke toko serupa yang pemiliknya keturunan cina rasanya sangat berbeda. Tokonya terang dan serba teratur. Pemiliknya juga ramah dan komunikatif.
“cari apa?”
“Sari roti yang tidak ada pinggirannya.”
“Wah, habis. Tapi coba merek yang ini. Saya suka makan yang ini walaupun sedikit lebih keras dibanding sari roti.”
“Yang ini? Baru ya?” sepertinya gue kurang yakin dengan rekomendasinya.
“Iya baru, pelanggan sih memang jarang membelinya tapi enak juga. Saya sering makan roti ini.”
Akhirnya gue membeli dan ketika membayar dengan mesin kasirnya dia kembali bertanya, “Ada lagi yang lain?”
“Tidak ada, itu saja mas.”
Sambil menyerahkan bungkusan belanja, “Terima kasih ya.”
Gue mencoba mengingat kembali pelayanan antara kaum ‘pribumi’ dan keturunan cina. Di beberapa kota dan berbagai jenis toko. Pelayanan dan keteraturan menjadi keunggulan penjual keturuan cina. Tidak heran banyak pedangang sukses berasal dari ras yang sedikit didiskriminasi negara penjunjung (tinggi) persatuan ini.
Dari komunikasi yang baik, bisa jadi pembeli yang awalnya tidak ingin membeli menjadi membeli. Dari awalnya membeli roti menjadi berpikir membeli selainya. Perhitungan bodohnya, jika ada 10 transaksi saja perhari di toko dengan komunikasi ramah, rata-rata pembeli melakukan transaksi lebih dari 3 ribu dari niat awal, dia sudah dapat 30 ribu perhari yang lebih banyak dari komunikasi yang buruk. Transaksi itu bisa lebih dari 10 kali sehari, bisa seratus malahan dengan 300 ribu lebih banyak berarti.
Itu jika penjual toko kelontong, bagaimana dengan penjual barang elektronik, mobil atau bahkan pesawat sekalipun. Keramahan bisa berarti jutaan rupiah. Teringat cerita tentang seorang penjual mobil di Amerika bernama Bob Golomb. Dia bercerita ada seorang petani dengan tangan kotor dan baju lusuh datang ke gerai pamer mobilnya. Bob melayaninya dengan ramah dan tidak ada sikap merendahkan, petani itu hanya membayar sedikit uang kala itu dan meminta mobil dikirim puluhan kilometer dari gerai pamer itu. Bob menyanggupi dan selanjutnya apa? Pentani itu menjadi pelanggan setia dan selalu membayar kontan dari lahan ratusan hektarnya.
Jadi tidak heran, ras cina di negeri ini terlihat oleh gue lebih sukses di bidang jual beli. Dari roti hingga TV Scarlet LG yang baru.
Posted: May 19th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .think | No Comments »
Apa hubungan presiden dan warna? ternyata ada hubungan yang entah kebetulan atau tidak. Golkar dan Hanura sama-sama warna kuning. Makanya Jusuf Kalla memilih Wiranto sebagai pasangannya. PDI-P juga Gerinda memiliki kemiripan dalam warna dasar, merah. Ada alasan tambahan untuk Ibu Megawati memilih Prabowo.
Sejak awal, JK-Win dan Mega-Pro sudah diatur dengan dibentuknya Hanura yang kuning dan Gerinda yang merah?
Lalu kenapa SBY memilih Boediono. Awalnya memilih SB atau Hatta, tapi kelihatannya tidak kompeten. Lalu karena partai warna biru tidak ada lagi selain PAN, beliau melihat “sesuatu” yang lain yang juga bewarna biru. Bank Indonesia kebetulan memiliki warna logo dan gedung yang sama, Biru. Sehingga terpilihlah Boediono.
Jika analisa “abad ini” benar, mari sejenak melihat arti warna menurut Leatrice Eisman:
Biru
Arti: kesetiaan, ketenangan, sensitif dan bisa diandalkan.
“Biru memiliki arti stabil karena itu adalah warna langit,” kata Eisman. Meski langit kelabu dan akan hujan, kita tahu di atas awan-awan itu warna langit tetaplah biru.
Merah
Arti: Kuat, berani, percaya diri, gairah
Merah adalah warna yang punya banyak arti, mulai dari cinta yang menggairahkan hingga kekerasan perang. Warna ini tak cuma memengaruhi psikologi tapi juga fisik. Penelitian menunjukkan menatap warna merah bisa meningkatkan detak jantung dan membuat kita bernapas lebih cepat.
Kuning
Arti: Muda, gembira, imajinasi
Warna kuning akan meningkatkan konsentrasi, itu sebabnya warna ini dipakai untuk kertas legal atau post it. Kuning juga merupakan warna persahabatan. Jadi Anda sudah bisa menebak jika si dia memberi mawar kuning saat Valentine.
Jadi, ingin memilih presiden yang dapat diandalkan, tenang dan sensitif? SBY orangnya. Atau presiden yang kuat, berani dan percaya diri tinggi? Megawati aja. Jika ingin yang gembira dan suka berimajinasi? Jusuf Kalla.
Posted: May 16th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .think | 1 Comment »
Jum’at malam, tepatnya 15 April 2009 ada SBY di Sabuga. Beliau mendeklarasikan SBY dan Boediono sebagai pasangan Capres dan Cawapres. Bukan hal yang menarik buat gue, awalnya begitu.
Gara-gara deklarasi itu, Bandung sedikit berubah terutama kawasan Dago. Ketika melewati persimpangan Tubagus, gue kanget dengan “bersihnya” jalan dago, tidak ada pedangang yang biasa memenuhi ruas kiri dan kanan jalan, juga tidak ada kendaraan atau malahan hampir tidak ada orang menjelang perempatan Mc Donald. Gue langsung membayangkan perputaran uang yang hilang malam itu di kalangan wong cilik. Anggap saja satu kios makanan itu dengan omset seratus ribu per malam, dan beranggapan lagi ada sekitar lima puluh kios di kiri dan kanan maka ada yang hilang sejumlah lima juta rupiah. Mungkin lebih atau kurang, tapi untuk beberapa orang disana, satu malam itu bisa jadi berarti banyak dan lima juta rupiah bukan uang yang banyak bagi SBY untuk memberikan santunan.
Terkesan berlebihan, tapi setiap presiden datang, semua dibersihkan. Pedagang, rumah reot dan lainnya. Jangankan presiden, gubernur saja begitu. Peduli amat alasan keamanan jika hanya sekedar dibersihkan begitu saja.
Melewati Mc Donalds, gue lalu melihat sekelompok massa yang dominan pemuda melakukan demonstrasi. Tepatnya ketika itu sedang berada di depan hotel Royal Dago. Berhenti sebentar karena hal ini terasa asing bagi gue. Apalagi ada teriakan-teriakan tidak jelas yang terkesan anarkis dan begitu banyak polisi. Barangkali, ketika suatu pemimpin atau bisa dikhususkan ke presiden datang ke suatu tempat, ada demonstrasi. Entah itu dibayar atau tidak, hal itu berarti ada pihak yang tidak puas dengan kinerja presiden. Gue membayangkan, suatu saat nanti, jika seorang presiden datang ke suatu daerah, beliau tidak disambut seperti biasa dengan keramahan kelas atas pemerintah setempat atau demonstrasi yang terkesan anarkis. Tetapi sang presiden disambut banyak simpatisan yang salut dengan kinerjanya dan pastinya tanpa dibayar atau tanpa skenario. Itulah yang mungkin bisa jadi salah satu parameter kesuksesan merakyatnya si presiden, walaupun gue benci kata-kata “parameter” dan sebenarnya tidak terlalu peduli dengan artinya.
Gue melanjutkan perjalanan melewati Circle K di sebelah jalan dayang sumbi, seluruh mobil diharuskan belok kiri ke jalan dayang sumbi dan tidak boleh lurus ke arah Mc D. Macet pastinya dan tidak semua orang disana atau mungkin semuanya tidak menerimanya. Kembali karena seorang SBY yang menyebabkan macet panjang di jalanan. Kalau ada seorang cowok depresi karena diputusin kekasih hati gara-gara telat bagaimana? Atau seorang Ibu yang akan melahirkan tetapi terhambat dengan kemacetan itu bagaimana? Bagaimana dengan seseorang yang sekarat gara-gara kaderisasi dan mobilnya terhambat karena kemacetan?
Bisa jadi sih ambil jalan lain, tapi intinya yang gue pikirkan adalah bisa ngga kemacetan itu tidak terjadi hanya karena seorang presiden datang?
Melewati jalanan, berhenti di setiap lampu merah ada banyak anak kecil ngamen atau sepertinya menjual batu asah. Ada orang buta, polio, cacat dan sebagainya yang menjadi pengemis. Ibu-ibu gemuk yang mengawasi anak-anak tadi ngamen. Bahkan ada yang baru berumur sekitar 3 tahun, tidak sampai 5 tahun. Ingat potongan lagu iwan fals, walau mungkin salah,
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu..dipaksa pecahkan karang, lemah jarinya terkepar.
Seandainya sistem pendidikan lebih baik dan lebih merata, pastinya anak-anak pemecah karang ini bisa berkurang jumlahnya. Seandainya dana pendidikan tidak dikorupsi, pastinya sistem pendidikan lebih baik dan lebih merata. Seandainya para pemimpin kita jujur, berintegritas (kata apa ini ya), dan komitmen dengan pendidikan, pastnya dana pendidikan tidak dikorupsi. Yah itu hanya berandai-andai
Seandainya Presiden kita merakyat dan jujur. Mungkin SBY sudah, tetapi beliau saja tidak cukup. Jadi lebih tepatnya Seandainya para pemimpin kita banyak yang merakyat dan jujur.. Yah, seandainya begitu untuk Indonesia yang lebih baik.