menulis kata-kata yang bisa dicitrakan dengan kamera dan diimajinasikan lewat gambar

Cerita Bulan Puasa: Pria Berkalung Beneran

Posted: August 14th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life | 1 Comment »

Darah Minang, entah benar atau salah, selalu membuat Gue untuk tidak mau rugi dalam antrian. Seperti mengantri dalam shalat berjamaah di Mushalla pada salah satu mall di kota bandung yang terletak di jalan Cihampelas. Yup, pada shalat magrib hari itu, Gue langsung masuk ke dalam mushalla begitu rombongan terakhir selesai dan berdiri di baris setelah imam. Jangan pikirkan apa hubungan darah minang dan antrian shalat, ini hanya pembuka saja.

Ada seseorang muda berjanggut terkesan sangat alim di sebelah Gue. Kemudian masuk beberapa bapak-bapak, anak-anak dan yang paling mencolok lelaki berparas arab. Semua saling mempersilahkan satu sama lain untuk menjadi imam. Lelaki berparas arab itu, hmmm dia gendut dan berkacamata selain berparas arab, menolak paling eksrim, “Oh no no no.”

Dari depan shaf semua terlihat jelas dan tentu saja jelas memakan waktu. Padahal jarum jam sudah menunjukan, Gue lupa pukul berapa tetapi nyaris memasuki waktu Isya.

Tiba-tiba seseorang dengan rambut seperti vokalis apa gitaris kangen band, memakai baju ungu ketat dan celana yang tidak kalah ketat maju menjadi imam. Pria arab dan gendut tadi maju juga dan memprotes kalung yang dipakai sang imam. Mungkin dia tidak bisa berbasa Indonesia sehingga protesnya dengan menarik kalung sang imam. Sang imam diam saja.

Salah satu laki-laki sebaris dengan Gue mengisyaratkan tidak apa-apa dengan tersenyum.
Pria arab itu mengedumel sambil geleng-geleng.

Gue, entah mengapa berkata, “It’s OK.” Sambil berkata di dalam hati sebagai tambahan, “Eh arab, udah ikut aja, kenapa ngga lu aja yang imam tadi kalo protes begitu.” Arab itu kembali menggelengkan kepalanya dan memasang bibir manyun. Coba dia mendengarkan omelan Gue yang diterjemahkan ke bahasa arab. Mungkin Shalat Ashar beberapa saat yang lalu menjadi Shalat terakhir dalam hidup Gue.

Shalat berjalan dengan baik dan tentu saja bukan karena si arab tersebut tidak berbuat yang tidak-tidak.
Selesai shalat, temen GUe berkata, “Imamnya bagus yah bacaannya.”

You may judge the book from its cover but don’t do that for human appearance. Mumpung bulan ramadhan tidak ada salahnya, memang harus begitu sih, untuk berusaha tidak menilai seseorang yang tidak perlu.

Tweet this!Tweet this!

My Life in Three Letter

Posted: August 1st, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .design, .life | 1 Comment »

G I O here

gio

gio

Tweet this!Tweet this!

based on true story

Posted: June 26th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .design, .life | No Comments »

based on true story

based on true story

Tweet this!Tweet this!

Braga!

Posted: June 18th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .english, .life, .photography | 1 Comment »

Some picture was taken on braga street, there were brotherhood, citizen and traffic jam on the pavilion street. I took the picture with Devy

First shoot was photo session, and the models was girl who like luna maya and boy which I didn’t care.

braga_photosession

And here They are. I don’t know what ‘cinta segitiga’ on english :D
braga_people2

Just several step from luna maya wannabe, I found another blonde. Of course they are indonesian and a couple (maybe)
braga_people

Next stop brotherhood. Devy and I took they picture with hesitate first.
braga_brotherhood
But I think they are not ferocious , I have already found this word on dictionary when I wrote people, just seems ferociously. They were funny enough.

braga_brotherhood_motor

And they who people called brotherhood have unique quote
braga_broterhood_quote

Not far away from braga, Somebody had graduation photo session. When I saw his badge, he graduate from Universitas pasundan
braga_wisudaan_2

Seems like an artist? :D

Tweet this!Tweet this!

Suster Rumah Sakit dan Setan yang Hilang

Posted: May 10th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life | 1 Comment »

Tepat hari Senin di minggu itu, Gue cek darah dan trombosit menembus angka 64.000. Angka cukup memprihatinkan mengingat batas normalnya seratus ribu dan jika rendah bawaan jadi lemas dan jika semakin rendah lagi, mendekati kritis. Darah dapat keluar dari mana-mana, kira-kira seperti itu yang Gue tangkep dalam keadaan lemas, makanya dapat disebut demam berdarah. Jika mundur sehari sebelumnya, tepat hari minggu, Gue seharian di kampus ditambah malam harinya pesta ulang tahun unit jurnalistik yang gue ikutin, Boulevard.

Dengan trombosit kira-kira kurang dari seratus ribu, pernah seharian beraktivitas di kampus dan itu hari minggu. Rasanya seperti orang gendut disuruh keliling lapangan bola lalu disuruh ngerjain tugas kampus berjam-jam setelahnya. Kalau kata temen Gue, muka Gue waktu itu seperti orang yang ketabrak truk. Pendeknya, lemes abis. Itu terjadi hingga malam hari dan wajar ketika seninnya, trombosit Gue serendah itu.
Sialnya setelah tes darah dengan angka enam puluh empat ribu itu, rumah sakit penuh dan gue harus pindah ke rumah sakit lain. Malam hari dan harus malam itu karena Gue harus dirawat jika tidak ingin berdarah beneran ketika demam.

Gue terkapar di ruang UGD, lebih tepatnya disuruh terkapar disana. Dokter masuk dan memeriksa, dia sudah tua jadi ucapannya tidak menarik. Lalu masuklah dua orang suster, muda dan cantik, membawa infus lalu menusukannya ke tangan Gue.

It was the first time to me. Diinfus, sakit.
Walaupun yang menyuntik dan memasangnya duo suster yang cantik. Untung tidak dibalik antara dokter dan suster. Masa udah tua, yah udah jelek terus masang infus lagi, disakiti sama orang seperti itu tentunya lebih sakit dari pada sama suster cantik. Manusiawi!. Sambil melakukan tahap finishing alias memasang plester, salah satu suster mengajak Gue ngobrol,”Mas, kok ngga sakit sih?”

“Hah?” Spontan saja ekspresi Gue begitu. Kaget

“Abisnya diem aja, ngga teriak gitu misalkan.”

Badan lemas dan ini diajak becanda atau gimana, untung dia cantik, “Sakit lah sus, tapi malem-malem gini teriak sih?”

Dia senyum lagi, sial.

Tidak lama, gue terkapar di tempat tidur dengan infus menempel di tangan kiri dan seragam rumah sakit di sekujur tubuh. Tidak ada pilihan lain selain tidur. Tetapi bukan pilihan yang enak juga malam-malam dibangunin oleh tiga suster.

“Mas disuntik yah.”

Gue sambil mengantuk, mengangguk saja.

“Kalau mau teriak, teriak aja ya.” Suster di kiri Gue, deket infus berbicara seperti itu.

“Hah?” Lagi-lagi suster rumah sakit ini membuat Gue kaget. “Kok dibilang kek gitu? Disuntik saja kenapa sus?”

“Abisnya memang sakit mas. Jadi biar siap saja sebelumnya.” Kata suster yang memegang jarum suntik.

“Pernah digigit semut kan mas? Rasanya lebih dari itu.” Suster yang lain menambahkan dan Gue tidak mengerti, entah membesarkan hati atau tidak.

Jujur aja Gue menjadi takut dan berusaha mencari alasan untuk sekedar menunda. “Ya udah saya kencing dulu sus, daripada pas di suntik keluar?”

Tirai ditutup dan akhirnya Gue terpaksa kencing dengan pispot. Tidak lama tirai dibuka, “Nah sekarang tidak ada alasan lagi kan?”

Gue menyerah.
Tangan kanan Gue yang akan disuntik dipengang oleh satu suster, begitu juga dengan tangan kiri. Akhirnya Gue mengerti mengapa tiga orang yang datang untuk sekedar menyuntik saja. Tangan Gue dioles, “Mas tangannya kok basah sih?” Kata salah satu suster yang memengang.

Gue diem saja. Tutup mata biar sakitnya bisa terasa berkurang.

“Mas kok diem sih? Sengaja diajak ngobrol biar tidak sakit.”

Dalam hati, “Sumpah, diotak Gue rasanya makin sakit sus. Gimana sih?”

“Arrghhhhh.” Tengah malam dan Gue teriak. Di suster ngga bilang-bilang mau nyuntik dan ternyata benar-benar sakit. Jauh dari infus apalagi Cuma sekedar suntik untuk ambil darah.

“Tuh kan bentar doang.”

Gue ngga mengubris, diem dan tidur aja ketika trio suster itu pergi.

Tiga hari Gue menghabiskan waktu dengan pispot, tempat tidur dan jus jambu beserta pokari sweet yang tidak habis-habis. Kalau di rumah sakit, setan sepertinya malas menghampiri, Gue merasa sehat itu karunia yang indah. Juga bertekad akan memanfaatkan waktu dengan baik jika sudah bisa loncat kesana kemari. Tidak dengan infus yang melekat atau suster yang tiap pagi menyuntik Gue serta memberi obat yang pahit.

Yah, kalau sedang sakit aja setan entah kemana. Pikiran positif, inget Tuhan terus dan bertekad yang baik-baik setelah sembuh.

Akhirnya di penghujung hari ketiga, infus Gue dicabut dan diberi wejengan terakhir oleh dokter. Gue rasanya tidak sabar untuk melihat, apakah setan muncul lagi seperti biasa atau tidak.
Sayangnya makhluk yang biasa diberi warna merah itu muncul lagi, seperti biasa. Semoga tidak perlu sakit lagi untuk mengingatkan Gue, seberapa tidak berdayanya manusia dan sifat angkuh yang begitu besar.

Tweet this!Tweet this!

Tindakan Kecil Oleh Dokter

Posted: April 11th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life | No Comments »

Cotton Bud was so bad for me.

Kapas dari benda kecil yang berguna dan murah itu tertinggal di dalam telinga selesai korek kuping, seketika Gue teringat status facebook seorang teman yang sepertinya menulis semua tindakan dan kejadian, “ah nikmatnya setelah mengorek kuping”. Emang nikmat jika kotoran beserta kapasnya keluar dengan selamat. Jika tidak maka telinga menjadi aneh walaupun tidak sampai tuli. Setelah semua upaya gagal untuk mengeluarkan kapas laknat itu dan cewek Gue yang kebetulan kuliah kedokteran mengatakan dapat menyebabkan infeksi, maka Gue memutuskan untuk ke dokter THT.

Pukul setengah dua, Gue sampai di ruang tunggu dokter THT pada sebuah rumah sakit. Muncul harapan untuk tidak menunggu lama karena hanya ada sedikit orang disana. Ada seorang ibu-ibu gendut dengan anaknya yang berlari kesana-kemari. Pasangan suami istri, sekitar 50 tahunan dengan pakaian parlente. Sebenarnya Gue tidak tahu persis kata parlente itu, tetapi sepertinya itu menggambarkan orang dengan pakaian rapi klasik dengan rambut klimis. Kemudian dua pemuda yang kira-kira hanya berjarak beberapa tahun dan terakhir pasangan kakek nenek.

Lama-lama bosan juga walau baru 15 menitan. Anak kecil energik itu akhirnya bosan juga setelah berkeliling ruang tunggu dari awal Gue datang tadi. Dia akhirnya kembali menghampiri ibunya.

“Moom, it ‘s so long time, I’m bored.” Gue dengernya begini. Kaget.
Anak kecil itu berbahasa inggris di indonesia dengan tampang tidak ada bule-bulenya. Ibunya yang gendut dan berpakaian ala ABG yang jika turun dari angkot harus menarik bagian belakangnya itu menjawab dengan bahasa inggris juga, “be patient honey.”
Jadi ingat sumpah pemuda kali ini, menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia. Bodoh sekali rasanya memikirkan nasionalisme anak itu gara-gara dia pakai bahasa inggris sejak kecil. Setidaknya dia berpotensi tidak kesulitan menghadapi TOEFL atau yang kelihatannya lebih mengerikan lagi, IELTS.

Akhirnya anak kecil dan ibunya masuk ke ruang periksa lima belas menit kemudian, kira-kira segitulah waktunya. Waktu itu menggambarkan sesuatu yang sedikit membuat gelisah, memang hanya ada beberapa pasien tetapi dalam setengah jam yang mungkin lebih, baru ada satu pergantian pasien.

“Mas, pinjem korannya ya.” Tiba-tiba bapak dengan pakaian parlente itu menghampiri Gue dan permisi seperti itu. Sangat basa-basi sekali atau dia tidak tahu itu koran milik rumah sakit walaupun tepat berada di depan Gue. Hanya tersenyum saja kala itu, agak malas meladeni.

“Ini dek, saya mau mencari nomor travel, ada ngga ya.” Bapak itu malah duduk disebelah Gue dan meninggalkan istrinya. Sial, kali ini tidak bisa hanya tersenyum. Bisa-bisa dikira tuli apalagi ini ruang tunggu untuk dokter THT. “Coba dicari saja pak.” Sudah pendek begitu dia tetap saja mengajak berbicara.
“Kira-kira Xtrans ada tidak ya di DU (Dipati Ukur)?”
Menunggu membuat emosi Gue labil dan ini sudah hampir satu jam. Pengen rasanya menjawab begini, “Waduh sudah tutup Pak yang di DU, dia pindah ke Soekarno Hatta. Mending bapak kesana aja, eits tapi itu bukan bandara melainkan nama jalan.” Jahat dan garing. Untungnya setan tidak cukup kuat mengeluarkan kata-kata itu menggantikan kata-kata, “Tidak ada Pak, Xtrans adanya di cihampelas.”

Untung saja dia menemukan nomor itu dan kembali ke bangku dekat istrinya. Tidak lama, duet ibu-anak tadi digantikan oleh kakek-nenek. Jalan nenek itu begitu lambat dan membuat Gue makin miris lalu bertanya dalam hati, berapa lama lagi harus menunggu. Jawabannya adalah satu jam lagi, setengah empat akhirnya nama Gue dipanggil setelah menjadi orang satu-satunya di ruang tunggu itu.

“Silahkan duduk dulu mas.” Gue tersenyum karena susternya ramah.
“Betah juga ya nunggu mas.” Gue tetap tersenyum karena menahan diri untuk tidak emosi. Dalam hati, “Oh tentu saja betah, kan saya sebenarnya mau ketemu suster dan mengantar suster pulang.” Kembali garing dan tidak jelas. Basa-basi yang basi.

Basa-basi dokter setidaknya lebih baik dari susternya ketika Gue menghampiri meja kerjanya. Proses berjalan dengan cepat karena yang dikeluarkan sangat kecil. Mungkin anak kecil itu kemasukan kelereng sehingga prosesnya lebih lama.

Rasanya lega sewaktu telinga Gue tidak tersumbat kapas lagi. Berjalan menuju kassa dengan perasaan lebih enteng. Mbak di kassa pembayaran tidak terlalu berbasa-basi ketika menyerahkan kuitansi.

Rp 188.000

Terdiam sejenak. Berharap salah lihat.

Mahal.

Sial.

Gue perhatikan lebih teliti lagi kuitansi itu. Kali saja ada harga yang lain yang lebih murah. Tetapi Gue malah makin kesal dengan keterangannya, “Tindakan kecil oleh dokter.” Tindakan kecil yang hanya mengeluarkan kapas sudah semahal ini, apalagi tindakan besar seperti mengeluarkan kelereng misalkan.

Sempat berharap cewek Gue mengambil spesialis THT dan banyak melakukan tindakan kecil seperti ini.

Tweet this!Tweet this!

MAHASISWA,nah loh

Posted: March 14th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life | 4 Comments »

Malem-malem gue laper dan sialnya berpikir tentang kata mahasiswa. Karena lapar dan dijadikan kambing hitam, gue tidak bisa mikir sehingga hanya mengingat beberapa cerita

HEMAT

Ada cerita dari teman Gue yang sulit dipercaya sebenarnya, ada temannya yang tidak pernah membeli air minum sekalipun. Bagaimana dia minum? Seperti mobil, dia punya pom bensin untuk air minum di rumah makan. Yap, dia minum sebanyaknya ketika dia makan karena air putih itu gratis.

Satu gallon air harganya katakanlah 14 rebu sekarang dan satu bulan mahasiswa normal menghabiskan dua galon, berarti dia sukses menghemat 28 ribu. Jika ditambah konsumsi tehbotol dan cocacola rata-rata, tentunya dia bisa diasumsiin lebih hemat lagi.

SEPEDA MOTOR

Setelah bertanding sepakbola terjadi ribut sampai tawuran, susah untuk dikatakan biasa tetapi hal yang tidak aneh di kalangan mahasiswa. Tetapi bagaimana sampai sepeda motor tercebur di kolam depan fakultas setelah pertandingan? Lebih tidak bisa lagi disebut biasa.

Kembali temannya dari teman Gue sebagai narasumber dari penceburan ini. Motor itu milik mahasiswa keturunan cina, suatu garis keturunan yang tidak selamanya membawa keberuntungan. Motornya diciduk dari tempat parkir, beberapa komponen dilepas dan diceburkan di kolam fakultas. Padahal dia hanya penonton, kalau temennya temen Gue bilang, suaranya paling gede alias nyolot ketika pertandingan.

Lalu mengapa beberapa komponen dilepas? “sayang, masih bisa dipakai atau dijual”.

MAKANAN

Alkisah zaman dahulu kala, awalnya seperti ini karena memang cerita dari orang tua gue, ada seorang mahasiswa yang amat pelit. Dia mempunyai niat membuat kotak kaca seperti kotak kerupuk di rumah makan padang lengkap dengan gemboknya. Kotak itu untuk menyimpan makanan atau sekedar nasi agar aman dari sergapan beberapa teman sekontrakan.

Suatu hari, teman-temannya sudah cukup kesal dengan tingkah jika dimasa sekarang akan diberi label ‘lebai’. Konsepnya sederhana, kotak dibalik sekali kemudian dikembalikan ke keadaan awal. Sontak nasi lengkap dengan lauk pauknya berceceran kemana-kemana tetapi dibatasi oleh kotak kaca bergembok itu.

Begitu mahasiswa yang amat pelit itu pulang pastinya dia akan mengekspresikan sesuatu. Apakah tinggahnya bisa berubah dari lebai menjadi alai? Gue penasaran tetapi orang tua gue hanya tertawa.

“Yang jelas dia marah tapi ngga tau mau marah sama siapa.” Begitu saja akhir cerita bokap gw.

TELEPON GENGGAM

Bayangkan mempunyai handphone dengan kartu pasca bayar.
Kemudian bayangkan kejadiannya seperti ini.
Seorang teman meminjam handphone itu kemudian berbincang seperti berikut dengan hanya sedikit kata, “Bos pinjem hape donk, penting nih.”
“Halo..apa kabar lu.”
(diem sambil senyum-senyum mendengar)
“Haha, gitu lu ya, sombong amat sekarang. Udah ngga pernah keliatan lagi.”
(kembali senyum menyebalkan kali ini ditambah ketawa sedikit dalam mendengarkannya.)
“Kalo gitu, sesekali kita ngumpul lagi lah kek dulu.”
(waktu jeda lagi)
“Iya, touring kek, main bola kek.”

Dan seterusnya hingga beberapa menit kemudian mengembalikan begitu saja tanpa bilang terima kasih.
Untungnya Gue ngga pernah mengalaminya, Cuma mendengarkan cerita ini dari korban.

Tweet this!Tweet this!

Wolfman di Ruang Sidang

Posted: March 11th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life | 2 Comments »

Lawrence Talbot sepertinya merasa asing dengan pendengarannya yang mendadak tajam. Tiba-tiba bisikan-bisikan yang sepertinya tidak biasa padahal mungkin kurang dari 25 desibel. Di ruang sidang kuliah akhir, Gue merasa seperti Lawrence dalam film Wolfman itu. Mendadak terdengar suara bisikan-bisikan yang terasa lebih keras dari sebelumnya. Walaupun tidak setajam di film karena tidak ada skenario buatan di ruang sidang itu, tetap rasanya sulit mencerna presentasi walaupun suara presenter lebih keras.

Terganggu? Yah sedikit karena Gue mencoba fokus. Fokus? Yah mungkin karena fokus kali ya. Syaraf gue bekerja lebih baik atau otak yang lebih baik menerimanya. Sama saja sepertinya, sama-sama analisa yang tanpa dasar. Ketika presenter yang sedang ditanya mengenai regresi linear membuat gue berpikir, terganggu dan kesal seperti kurfa linear ketika itu. Lebih banyak terganggu akan cenderung membuat orang lain kesal.

Namun ada juga saatnya kurfa linear itu berubah menjadi eksponensial dengan cenderung konstan pada titik tertentu. Teori yang tanpa dasar ini muncul ketika melihat dosen gue yang sedikit pun tidak terganggu dengan bisikan-bisikan itu walaupun sekali-dua kali melihat kebelakang. Sepertinya mereka sudah biasa karena bertahun-tahun menjadi penguji atau pembimbing dalam sidang akhir.

Temen gue protes dan mengutarakannya kepada Gue, bukan karena bisikan-bisikan tetapi dosen penguji yang terlihat membantai tanpa dasar. Gue merespon seadanya, dia kembali protes dan gue kembali merespon yang pada akhirnya membicarakan sampai perseteruan internal dosen.

Gue berbisik ketika mengobrol dan merasa ada yang aneh.

Tweet this!Tweet this!

Ada BH di Demo

Posted: February 24th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life, .think | 1 Comment »

Skandal Bank Century, Resuffle kabinet, atau kasus pembunuhan dengan tersangka Antasari.

Itu berita di televisi malam itu disamping ditariknya banyak mobil toyota dimana-mana. Salah satunya karena pedal gas lengket kemudian berhubungan dengan istilah clash action yaitu ganti rugi gara-gara kerusakan itu.

Berita yang sepertinya hebat tetapi entah kenapa rasanya biasa, membosankan karena orang-orang yang terlibat tidak dekat dengan masyarakat, atau setidaknya diri gue sendiri. Siapa gue dibandingkan Pak SBY, Sri Mulyani atau Jaksa Luiz di Amerika Serikat. yang mengajukan tuntutan yang sepertinya beristilah clash action.

Tetapi berbeda dengan mahasiswa di beberapa daerah seperti Sumatra Selatan atau Jakarta. Gue dan mereka sesama mahasiswa. Mereka berdemo, gue tidak.

Ada yang saling dorong dengan polisi. Sepertinya itu biasa kali ya?

Ada yang bakar-bakar kertas apa itu, sepertinya kertas pemilu kalau di televisi. Yah kembali biasa, paling sebelumnya bakar ban, kertas lebih hemat sepertinya dari ban.

Ada yang membawa hewan, kambing dengan topeng pejabat. Agak kreatif daripada bakar-bakar karena lebih merepotkan mencari dan membawa kambing daripada ban mobil.

Ada yang membawa pakaian dalam wanita, lebih spesifiknya BH atau kutang atau apa itu namanya. DI negara ini, kalau menyebut hal-hal seperti itu harus minta maaf dulu, gue ngga ngerti kenapa dan karena ngga ngerti jadi ngga minta maaf dulu. Wah ini bener-bener baru dan membuat gue beralih total dari laptop ke televisi.

Mereka membawa pakaian dalam wanita itu dalam berdemo, katanya sebagai lambang karena pemerintah atau KPK lambat dan tidak jantan dalam menyelesaikan kasus skandal Century. Di televisi mereka semua pria, pertanyaan gue dua: dari mana dapat benda itu dan bagaimana kalau kebetulan yang terkait berkelamin wanita?

Yah pertanyaan selanjutnya lebih penting, apakah tidak ada bentuk penyampaian aspirasi yang lebih intelek? Setidaknya menulis artikel di koran nasional seperti zaman Soe Hok Gie atau membuat karya seni seperti lagu, puisi dan pantun sekalipun sepertinya lebih baik daripada membawa pakaian dalam wanita. Juga marah-marah dan dorong-dorong dan bakar-bakar.

Lagian gue pengen bertanya kepada para pejabat itu, demo seperti itu berpengaruh ngga sih? Kalau gue membayangkan jadi pejabat, keknya gue cuma ketawa-ketawa aja sama rekan sejawat.

Jangan-jangan mereka bener-bener cuek lagi. Percuma sepertinya para mahasiswa atau pendemo lainnya marah-marah dan dorong-dorong dan bakar-bakar. Tetapi setidaknya mereka melakukan sesuatu ya. Mereka berani. Itu kata beberapa orang yang mencoba berpikir positif amat.

Ah lebih baik diam daripada cari BH buat demo. Kata gue sih gitu.

Tweet this!Tweet this!

Ini Salon di Ibukota Bung

Posted: December 30th, 2009 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .goodmorning, .life | 2 Comments »

Masa orientasi di kampus pada zaman dahulu hingga kini pasti mewajibkan memotong rambut hingga cepak. Untuk sekedar membedakan dengan senior mungkin atau alasan apapunlah.
Gue menunggu hingga detik terakhir berharap Masa orientasi di Bina Nusantara ketika itu tidak mewajibkan potong rambut. Masa SMA, 2 tahun gue botak seperti pentolan korek api. Makanya gue sangat menginginkan melihat diri sendiri berambut panjang. Setidaknya libur 2 bulan ini sudah membuat rambut gue sedikit lebih panjang dan terkesan unik setelah bertahun-tahun cepak. Setidaknya untuk diri sendiri dan nyokap yang terus mengomel untuk potong rambut.
Di minggu malam, setelah briefing tentang Masa Orientasi di kampus, gue ditemani nyokap ke sebuah salon di ITC Cempaka Emas sekalian dengan membeli berbagai perlengkapan tempur untuk keesokan harinya.
Salonnya gue lupa namanya, pokoknya bukan Jhony Adrean aja, itu satu-satunya nama yang gue tahu karena sepertinya kios wajib di mall-mall. Sebelumnya gue tidak pernah kesalon, jadi agak aneh rasanya rambut dicuci dan dihandukin. Gue melihat nyokap sedang duduk membaca majalah di cermin ketika duduk di kursi pemotongan rambut. Saat itu gue terkesan tidak perduli tetapi akan berubah total beberapa saat kemudian. Keberadaan bayangan nyokap gue di cermin menjadi arti penting. Penyelamat hidup gue di saat tidak lama setelah itu.
Rambut gue memang sudah agak panjang dan karena sejarah keturunan yang rumit, rambut gue tidak bewarna hitam pekat. Sedikit kecoklatan atau warna apapun lah itu. Pemotong rambut saat itu juga tidak terlalu penting bagi gue, tetapi ini akan menjadi pelajaran berharga. Beberapa saat kemudian kedua hal ini menjadi amat teramat penting.
Kepala gue dipijet dengan lembut dan pundak gue juga. Bagian leher beberapa kali seperti dibelai. Hari itu pertama kali gue ke salon dan dengan polos menduga itu adalah prosedur resmi di dunia persalonan.
“Kuliah ya mas?”
“Iya.” Pertanyaan seperti itu juga bagi gue sebuah prosedural.
“Kok rambutnya dipotong ya?”
“Gara-gara ospek mas, saya mah juga ngga mau kalo ngga disuruh.”
“Iya nihh, kan ganteng kalo panjang mas. Sayang kalau dipotong.”
“Ini diwarnai ya mas?” pemotong itu kembali bertanya.
“Ngga mas, itu beneran.”
“Wah, bagus yah rambutnya. Aku jadi ngga sudi motongnya mas.”
Mendadak tenggorokan gue tercekat, sebenarnya gue ngga tau rasanya tenggorokan tercekat tetapi karena di novel-novel seperti itu jadi gue ikutan aja. Mendadak ingin pergi dari sini. Ini ibukota bung, pikir gue. Tempat dimana segalanya bisa berbeda dari sebuah kota di Sumatra. Ini salon bung, tempat yang pasti berbeda dari tukang cukur langganan gue dulu dengan tidak memakai prosedural.
“Ini salon di ibukota bung.” Begitu teriak gue, entah mengapa seperti itu di dalam hati. Bermaksud menenangkan diri. Gue melihat nyokap gue sedang memegang Handphone di cermin. Sedikit lebih lega.
Beberapa saat setelah gue mulai menenangkan diri ada seorang bapak duduk di sebelah gue dan mengajak ngobrol si pemotong rambut yang ternyata gemulai itu. Gue mulai memperhatikan bentuk dan rupa si pemotong itu dari cermin sambil memantau keberadaan nyokap.
Tiba-tiba bapak disebelah itu mengajak gue ngobrol.
“Mas.”
“Hah, ya?”
“Kok rambutnya dipotong? Kan sayang.”
Kembali mengingat kata-kata novel, tenggorokan gue tercekat. Gue kembali melihat di cermin untuk kembali memastikan nyokap gue ada disana. Ternyata ada dan sedang tersenyum lebar. Nyokap gue bisa-bisanya tersenyum melihat anaknya dikepung dari dua arah seperti ini.
“Gara-gara ospek mas, saya mah juga ngga mau kalo ngga disuruh.” Gue hanya bisa mengulang saja.
“Ngga usah aja dipotong, begini kan keren.”
Gue tidak bisa berbicara apa-apa dan hanya tersenyum tipis dan kecut. Kemudian gue hanya pasrah si pemotong rambut menyentuh, memegang dan membelai kepala gue sedemikian ruma dan sedemikian sehingga gue terus memantau nyokap gue di cermin. Nyokap gue adalah kartu as disaat keadaan darurat. Seandainya tiba-tiba gue disekap, diajak kemana-mana atau kejadian-kejadian tidak menyenangkan, gue tinggal teriak dan nyokap gue yang telah susah payah membesarkan anaknya pasti bereaksi dengan tepat.
Akhirnya setelah berbagai senyuman formalitas menjawab dan menanggapi si pemotong itu, rambut cepak gue kembali muncul. Secepatnya gue beranjak dari kursi pesakitan itu dan merapat ke arah nyokap. Ibu memang tempat menyandarkan diri paling tepat ketika kondisi mengancam masa depan sekalipun
DI perjalanan pulang, gue cerita secara detail segalanya.
Nyokap gue tertawa terbahak-bahak.
Gue bengong.

Tweet this!Tweet this!