Cerita Bulan Puasa: Pria Berkalung Beneran
Posted: August 14th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life | 1 Comment »Darah Minang, entah benar atau salah, selalu membuat Gue untuk tidak mau rugi dalam antrian. Seperti mengantri dalam shalat berjamaah di Mushalla pada salah satu mall di kota bandung yang terletak di jalan Cihampelas. Yup, pada shalat magrib hari itu, Gue langsung masuk ke dalam mushalla begitu rombongan terakhir selesai dan berdiri di baris setelah imam. Jangan pikirkan apa hubungan darah minang dan antrian shalat, ini hanya pembuka saja.
Ada seseorang muda berjanggut terkesan sangat alim di sebelah Gue. Kemudian masuk beberapa bapak-bapak, anak-anak dan yang paling mencolok lelaki berparas arab. Semua saling mempersilahkan satu sama lain untuk menjadi imam. Lelaki berparas arab itu, hmmm dia gendut dan berkacamata selain berparas arab, menolak paling eksrim, “Oh no no no.”
Dari depan shaf semua terlihat jelas dan tentu saja jelas memakan waktu. Padahal jarum jam sudah menunjukan, Gue lupa pukul berapa tetapi nyaris memasuki waktu Isya.
Tiba-tiba seseorang dengan rambut seperti vokalis apa gitaris kangen band, memakai baju ungu ketat dan celana yang tidak kalah ketat maju menjadi imam. Pria arab dan gendut tadi maju juga dan memprotes kalung yang dipakai sang imam. Mungkin dia tidak bisa berbasa Indonesia sehingga protesnya dengan menarik kalung sang imam. Sang imam diam saja.
Salah satu laki-laki sebaris dengan Gue mengisyaratkan tidak apa-apa dengan tersenyum.
Pria arab itu mengedumel sambil geleng-geleng.
Gue, entah mengapa berkata, “It’s OK.” Sambil berkata di dalam hati sebagai tambahan, “Eh arab, udah ikut aja, kenapa ngga lu aja yang imam tadi kalo protes begitu.” Arab itu kembali menggelengkan kepalanya dan memasang bibir manyun. Coba dia mendengarkan omelan Gue yang diterjemahkan ke bahasa arab. Mungkin Shalat Ashar beberapa saat yang lalu menjadi Shalat terakhir dalam hidup Gue.
Shalat berjalan dengan baik dan tentu saja bukan karena si arab tersebut tidak berbuat yang tidak-tidak.
Selesai shalat, temen GUe berkata, “Imamnya bagus yah bacaannya.”
You may judge the book from its cover but don’t do that for human appearance. Mumpung bulan ramadhan tidak ada salahnya, memang harus begitu sih, untuk berusaha tidak menilai seseorang yang tidak perlu.
Tweet this! 























