menulis kata-kata yang bisa dicitrakan dengan kamera dan diimajinasikan lewat gambar

graduation!

Posted: July 18th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .photography | No Comments »

Just another photo on graduation at ITB, July 2010

wisuda_1

wisuda_2

wisuda_3

wisuda_4

Tweet this!Tweet this!

utami-catering.com

Posted: July 3rd, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .design, .work | No Comments »

Just simple static web

screenshot

Tweet this!Tweet this!

Tungsten Mode Photography

Posted: July 1st, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .photography | 1 Comment »

Taking picture with Tungsten Mode on white balance, be taken at Lawangwangi Bandung

tungsten_lighting_foto2

Tweet this!Tweet this!

Luiz Suarez

Posted: June 28th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .design | 2 Comments »

luis_suarez

Tweet this!Tweet this!

based on true story

Posted: June 26th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .design, .life | No Comments »

based on true story

based on true story

Tweet this!Tweet this!

Braga!

Posted: June 18th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .english, .life, .photography | 1 Comment »

Some picture was taken on braga street, there were brotherhood, citizen and traffic jam on the pavilion street. I took the picture with Devy

First shoot was photo session, and the models was girl who like luna maya and boy which I didn’t care.

braga_photosession

And here They are. I don’t know what ‘cinta segitiga’ on english :D
braga_people2

Just several step from luna maya wannabe, I found another blonde. Of course they are indonesian and a couple (maybe)
braga_people

Next stop brotherhood. Devy and I took they picture with hesitate first.
braga_brotherhood
But I think they are not ferocious , I have already found this word on dictionary when I wrote people, just seems ferociously. They were funny enough.

braga_brotherhood_motor

And they who people called brotherhood have unique quote
braga_broterhood_quote

Not far away from braga, Somebody had graduation photo session. When I saw his badge, he graduate from Universitas pasundan
braga_wisudaan_2

Seems like an artist? :D

Tweet this!Tweet this!

Cheseecake factory

Posted: June 7th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .photography | No Comments »

Cheese cake -despite it’s expensive - is so delicious. Here it is
cheesecake

Need for zooming?
cheesecake1

Another delicious one was hot chocolate. They served it uniquely on my opinion. First, I got one glass of milk with three chocolates
coklatpanas

After I had asked to servant how to make it chocolate, They said it just put chocolate on milk. (I thought it before, really.)
coklatpanas2
Maybe I can put some tobleron on glass of milk and hope it will became as nice as it.

And, where’s it?
tampakdepan

Just check it out and come there with enough money www.chzcakefactory.com

Tweet this!Tweet this!

People at Gazibu

Posted: May 25th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .photography | No Comments »

Balloon seller _mg_0335

Watching
duduk

I’m tired
_mg_0331

knowing each other?
_mg_0315

Tweet this!Tweet this!

Suster Rumah Sakit dan Setan yang Hilang

Posted: May 10th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life | 1 Comment »

Tepat hari Senin di minggu itu, Gue cek darah dan trombosit menembus angka 64.000. Angka cukup memprihatinkan mengingat batas normalnya seratus ribu dan jika rendah bawaan jadi lemas dan jika semakin rendah lagi, mendekati kritis. Darah dapat keluar dari mana-mana, kira-kira seperti itu yang Gue tangkep dalam keadaan lemas, makanya dapat disebut demam berdarah. Jika mundur sehari sebelumnya, tepat hari minggu, Gue seharian di kampus ditambah malam harinya pesta ulang tahun unit jurnalistik yang gue ikutin, Boulevard.

Dengan trombosit kira-kira kurang dari seratus ribu, pernah seharian beraktivitas di kampus dan itu hari minggu. Rasanya seperti orang gendut disuruh keliling lapangan bola lalu disuruh ngerjain tugas kampus berjam-jam setelahnya. Kalau kata temen Gue, muka Gue waktu itu seperti orang yang ketabrak truk. Pendeknya, lemes abis. Itu terjadi hingga malam hari dan wajar ketika seninnya, trombosit Gue serendah itu.
Sialnya setelah tes darah dengan angka enam puluh empat ribu itu, rumah sakit penuh dan gue harus pindah ke rumah sakit lain. Malam hari dan harus malam itu karena Gue harus dirawat jika tidak ingin berdarah beneran ketika demam.

Gue terkapar di ruang UGD, lebih tepatnya disuruh terkapar disana. Dokter masuk dan memeriksa, dia sudah tua jadi ucapannya tidak menarik. Lalu masuklah dua orang suster, muda dan cantik, membawa infus lalu menusukannya ke tangan Gue.

It was the first time to me. Diinfus, sakit.
Walaupun yang menyuntik dan memasangnya duo suster yang cantik. Untung tidak dibalik antara dokter dan suster. Masa udah tua, yah udah jelek terus masang infus lagi, disakiti sama orang seperti itu tentunya lebih sakit dari pada sama suster cantik. Manusiawi!. Sambil melakukan tahap finishing alias memasang plester, salah satu suster mengajak Gue ngobrol,”Mas, kok ngga sakit sih?”

“Hah?” Spontan saja ekspresi Gue begitu. Kaget

“Abisnya diem aja, ngga teriak gitu misalkan.”

Badan lemas dan ini diajak becanda atau gimana, untung dia cantik, “Sakit lah sus, tapi malem-malem gini teriak sih?”

Dia senyum lagi, sial.

Tidak lama, gue terkapar di tempat tidur dengan infus menempel di tangan kiri dan seragam rumah sakit di sekujur tubuh. Tidak ada pilihan lain selain tidur. Tetapi bukan pilihan yang enak juga malam-malam dibangunin oleh tiga suster.

“Mas disuntik yah.”

Gue sambil mengantuk, mengangguk saja.

“Kalau mau teriak, teriak aja ya.” Suster di kiri Gue, deket infus berbicara seperti itu.

“Hah?” Lagi-lagi suster rumah sakit ini membuat Gue kaget. “Kok dibilang kek gitu? Disuntik saja kenapa sus?”

“Abisnya memang sakit mas. Jadi biar siap saja sebelumnya.” Kata suster yang memegang jarum suntik.

“Pernah digigit semut kan mas? Rasanya lebih dari itu.” Suster yang lain menambahkan dan Gue tidak mengerti, entah membesarkan hati atau tidak.

Jujur aja Gue menjadi takut dan berusaha mencari alasan untuk sekedar menunda. “Ya udah saya kencing dulu sus, daripada pas di suntik keluar?”

Tirai ditutup dan akhirnya Gue terpaksa kencing dengan pispot. Tidak lama tirai dibuka, “Nah sekarang tidak ada alasan lagi kan?”

Gue menyerah.
Tangan kanan Gue yang akan disuntik dipengang oleh satu suster, begitu juga dengan tangan kiri. Akhirnya Gue mengerti mengapa tiga orang yang datang untuk sekedar menyuntik saja. Tangan Gue dioles, “Mas tangannya kok basah sih?” Kata salah satu suster yang memengang.

Gue diem saja. Tutup mata biar sakitnya bisa terasa berkurang.

“Mas kok diem sih? Sengaja diajak ngobrol biar tidak sakit.”

Dalam hati, “Sumpah, diotak Gue rasanya makin sakit sus. Gimana sih?”

“Arrghhhhh.” Tengah malam dan Gue teriak. Di suster ngga bilang-bilang mau nyuntik dan ternyata benar-benar sakit. Jauh dari infus apalagi Cuma sekedar suntik untuk ambil darah.

“Tuh kan bentar doang.”

Gue ngga mengubris, diem dan tidur aja ketika trio suster itu pergi.

Tiga hari Gue menghabiskan waktu dengan pispot, tempat tidur dan jus jambu beserta pokari sweet yang tidak habis-habis. Kalau di rumah sakit, setan sepertinya malas menghampiri, Gue merasa sehat itu karunia yang indah. Juga bertekad akan memanfaatkan waktu dengan baik jika sudah bisa loncat kesana kemari. Tidak dengan infus yang melekat atau suster yang tiap pagi menyuntik Gue serta memberi obat yang pahit.

Yah, kalau sedang sakit aja setan entah kemana. Pikiran positif, inget Tuhan terus dan bertekad yang baik-baik setelah sembuh.

Akhirnya di penghujung hari ketiga, infus Gue dicabut dan diberi wejengan terakhir oleh dokter. Gue rasanya tidak sabar untuk melihat, apakah setan muncul lagi seperti biasa atau tidak.
Sayangnya makhluk yang biasa diberi warna merah itu muncul lagi, seperti biasa. Semoga tidak perlu sakit lagi untuk mengingatkan Gue, seberapa tidak berdayanya manusia dan sifat angkuh yang begitu besar.

Tweet this!Tweet this!

Tindakan Kecil Oleh Dokter

Posted: April 11th, 2010 | Author: giovaniharyadi | Filed under: .life | No Comments »

Cotton Bud was so bad for me.

Kapas dari benda kecil yang berguna dan murah itu tertinggal di dalam telinga selesai korek kuping, seketika Gue teringat status facebook seorang teman yang sepertinya menulis semua tindakan dan kejadian, “ah nikmatnya setelah mengorek kuping”. Emang nikmat jika kotoran beserta kapasnya keluar dengan selamat. Jika tidak maka telinga menjadi aneh walaupun tidak sampai tuli. Setelah semua upaya gagal untuk mengeluarkan kapas laknat itu dan cewek Gue yang kebetulan kuliah kedokteran mengatakan dapat menyebabkan infeksi, maka Gue memutuskan untuk ke dokter THT.

Pukul setengah dua, Gue sampai di ruang tunggu dokter THT pada sebuah rumah sakit. Muncul harapan untuk tidak menunggu lama karena hanya ada sedikit orang disana. Ada seorang ibu-ibu gendut dengan anaknya yang berlari kesana-kemari. Pasangan suami istri, sekitar 50 tahunan dengan pakaian parlente. Sebenarnya Gue tidak tahu persis kata parlente itu, tetapi sepertinya itu menggambarkan orang dengan pakaian rapi klasik dengan rambut klimis. Kemudian dua pemuda yang kira-kira hanya berjarak beberapa tahun dan terakhir pasangan kakek nenek.

Lama-lama bosan juga walau baru 15 menitan. Anak kecil energik itu akhirnya bosan juga setelah berkeliling ruang tunggu dari awal Gue datang tadi. Dia akhirnya kembali menghampiri ibunya.

“Moom, it ‘s so long time, I’m bored.” Gue dengernya begini. Kaget.
Anak kecil itu berbahasa inggris di indonesia dengan tampang tidak ada bule-bulenya. Ibunya yang gendut dan berpakaian ala ABG yang jika turun dari angkot harus menarik bagian belakangnya itu menjawab dengan bahasa inggris juga, “be patient honey.”
Jadi ingat sumpah pemuda kali ini, menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia. Bodoh sekali rasanya memikirkan nasionalisme anak itu gara-gara dia pakai bahasa inggris sejak kecil. Setidaknya dia berpotensi tidak kesulitan menghadapi TOEFL atau yang kelihatannya lebih mengerikan lagi, IELTS.

Akhirnya anak kecil dan ibunya masuk ke ruang periksa lima belas menit kemudian, kira-kira segitulah waktunya. Waktu itu menggambarkan sesuatu yang sedikit membuat gelisah, memang hanya ada beberapa pasien tetapi dalam setengah jam yang mungkin lebih, baru ada satu pergantian pasien.

“Mas, pinjem korannya ya.” Tiba-tiba bapak dengan pakaian parlente itu menghampiri Gue dan permisi seperti itu. Sangat basa-basi sekali atau dia tidak tahu itu koran milik rumah sakit walaupun tepat berada di depan Gue. Hanya tersenyum saja kala itu, agak malas meladeni.

“Ini dek, saya mau mencari nomor travel, ada ngga ya.” Bapak itu malah duduk disebelah Gue dan meninggalkan istrinya. Sial, kali ini tidak bisa hanya tersenyum. Bisa-bisa dikira tuli apalagi ini ruang tunggu untuk dokter THT. “Coba dicari saja pak.” Sudah pendek begitu dia tetap saja mengajak berbicara.
“Kira-kira Xtrans ada tidak ya di DU (Dipati Ukur)?”
Menunggu membuat emosi Gue labil dan ini sudah hampir satu jam. Pengen rasanya menjawab begini, “Waduh sudah tutup Pak yang di DU, dia pindah ke Soekarno Hatta. Mending bapak kesana aja, eits tapi itu bukan bandara melainkan nama jalan.” Jahat dan garing. Untungnya setan tidak cukup kuat mengeluarkan kata-kata itu menggantikan kata-kata, “Tidak ada Pak, Xtrans adanya di cihampelas.”

Untung saja dia menemukan nomor itu dan kembali ke bangku dekat istrinya. Tidak lama, duet ibu-anak tadi digantikan oleh kakek-nenek. Jalan nenek itu begitu lambat dan membuat Gue makin miris lalu bertanya dalam hati, berapa lama lagi harus menunggu. Jawabannya adalah satu jam lagi, setengah empat akhirnya nama Gue dipanggil setelah menjadi orang satu-satunya di ruang tunggu itu.

“Silahkan duduk dulu mas.” Gue tersenyum karena susternya ramah.
“Betah juga ya nunggu mas.” Gue tetap tersenyum karena menahan diri untuk tidak emosi. Dalam hati, “Oh tentu saja betah, kan saya sebenarnya mau ketemu suster dan mengantar suster pulang.” Kembali garing dan tidak jelas. Basa-basi yang basi.

Basa-basi dokter setidaknya lebih baik dari susternya ketika Gue menghampiri meja kerjanya. Proses berjalan dengan cepat karena yang dikeluarkan sangat kecil. Mungkin anak kecil itu kemasukan kelereng sehingga prosesnya lebih lama.

Rasanya lega sewaktu telinga Gue tidak tersumbat kapas lagi. Berjalan menuju kassa dengan perasaan lebih enteng. Mbak di kassa pembayaran tidak terlalu berbasa-basi ketika menyerahkan kuitansi.

Rp 188.000

Terdiam sejenak. Berharap salah lihat.

Mahal.

Sial.

Gue perhatikan lebih teliti lagi kuitansi itu. Kali saja ada harga yang lain yang lebih murah. Tetapi Gue malah makin kesal dengan keterangannya, “Tindakan kecil oleh dokter.” Tindakan kecil yang hanya mengeluarkan kapas sudah semahal ini, apalagi tindakan besar seperti mengeluarkan kelereng misalkan.

Sempat berharap cewek Gue mengambil spesialis THT dan banyak melakukan tindakan kecil seperti ini.

Tweet this!Tweet this!